Goresan pena di media cetak

Category:Other
Dunia teknologi informasi berkembang sangat cepat. Banyak warung internet dibuka menawarkan sewa per jam dan paket dengan harga terjangkau dan kecepatan akes tinggi. Pengiriman berita melalui surat banyak beralih lewat internet dalam hal ini memakai electronic mail (e-mail) karena unggul dalam kecepatan dengan biaya yang terjangkau. Chatting atau bercakap-cakap melalui internet dapat dilakukan pada saat itu juga tanpa perlu waktu tunggu untuk memperoleh balasan dibandingkan dengan mengirim surat.

Gejala seperti ini tampak beberapa tahun belakangan banyak dialami filatelis terutama yang mempunyai sahabat pena di luar negeri. Bila sebelum krisis moneter filatelis bisa mengirim surat untuk tukar menukar benda filateli sampai lebih dari lima surat dalam satu bulan, sekarang belum tentu bisa sebanyak itu karena tingginya tarif surat pos udara ke luar negeri.

Dampaknya, filatelis jarang, enggan, atau bahkan berhenti sama sekali melakukan surat menyurat. Cara paling cepat mencari sahabat dengan chatting dan di sini istilah sahabat pena menjadi kuarng tepat, diganti dengan shabat elektronik. Semua serba cepat, mudah, dan murah, apalagi di dunia yang serba instan.

Pada pertengahan 1998 P.T. Pos Indonesia sempat memberlakukan tarif surat pos luar negeri yang sangat tinggi. Saat itu surat untuk tujuan Eropa tarifnya di atas Rp12.000, sehingga banyak kantor pos yang kekurangan prangko, karena saat itu yang tersedia di loket benda pos dan meterai hanya prangko nominal kecil. Untuk mengantisipasi kekurangan prangko, setiap surat tujuan luar negeri dibubuhi cap khusus tanpa prangko dan petugas loket menuliskan tarif surat yang berlaku sesuai negara tujuan. Cara seperti ini dilakukan di kantor pos tertentu.Kebijaksanaan dengan tarif surat yang sangat tinggi hanya berlaku kurang lebih dua bulan karena keberatan pelanggan sehingga P.T. Pos Indonesia merevisi kebijakan itu dengan menurunkan tarif.

Pilihan mengirimkan berita melalui surat atau e-mail akhirnya dikembalikan pada flatelis karena masing-masing ada kelebihan dan kekurangan.

KARTU KLUB
Hal yang sering ditanyakan apabila seseorang ingin bergabung dalam klub filatelis adalah apa keuntungan atau manfaat menjadi anggota. Pertanyaan demikian sering diajukan calon anggota klub filatelis. Salah satu keuntungan yang pasti, dengan adanya pertemuan rutin dapat mempererat hubungan sesama anggota dan kemungkinan memperoleh teman baru. Keputusan tentang kebijaksanaan lain tergantung peraturan masing-masing klub filatelis tetapi umumnya hampir tidak ada manfaat nyata lain.

Korespondensi banyak dilakukan filatelis dengan rekan-rekan dari luar negeri. Dengan kenaikan tarif surat pos ke luar negeri kalangan filatelis mengeluh keberatan dan semakin sulit untuk membina persahabatan. Bisa dikatakan keadaan perfilatelian di Indonesia mengalami kemunduran selangkah demi selangkah.

P.T. Pos Indonesia biakembali menggairahkan semangat untuk tetap berkorespondensi di kalangan filatelis dan menggalakkan gemar berkirim surat secara tidak langsung. Kalau selama ini klub filatelis hampir tidak punya faedah inilah saatnya P.T. Pos Indonesia menunjukkan kepedulian nyata pada filatelis. Tidak hanya bisa menjual benda-benda filateli dengan sekian banyak seri dalam satu tahun, dengan nominal yang tinggi pula, dengan berbagai prduk dalam satu seri, dan dengan jadwal yang sering tidak tepat.

Alternatifnya. Kartu klub dipakai sebagai kartu diskon. Setiap anggota yang akan mengirim surat ke luar negeri menunjukkan kartu klub yang masih berlaku. Petugas loket mencatat nomor kartu, nomor identitas, dan tujuan pengiriman surat dalam buku khusu. Nama pengirim harus sesuai dengan nama yang tertera di atas kartu klub. Selanjutnya pada sampul surat dicap ’potongan khusus’, sehingga surat tidak dikembalikan ke pengirim karena kekurangan prangko.

Majalah Sahabat Pena 409/ Agustus 2006

Review57. PESTA PENYAIR NUSANTARA 2008Aug 4, '08 9:42 PM
for everyone
Category:Other
Pesta Penyair Nusantara 2008 Sempena The 2nd Kediri Jatim (International Poetry Gathering) berlangsung di Kediri 26 Juni – 2 Juli 2008. Peserta dari wilayahAsean (Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Thailand, Kamboja, dan Laos). Acaranya meliputi festival baca puisi, dialog sastra dan budaya nusantara, bazaar/pameran seni rupa, puisi dan potret penyair, musyawarah penyair nusantara, jalan santai/pawai budaya nusantara.Hadir sebagai pembicara antara lain Mawar Syafi’I (Malaysia), Nyoya Sawai (Jepang), Oka Rusmini (Denpasar), Dr.Maman S. Mahayana (Jakarta), dan lain-lain.

Majalah Matabaca vol.6/no.12/Agustus 2008

Review56. HALAMAN GURU DAN DOSEN DARI KPAug 4, '08 9:40 PM
for everyone
Category:Other
Koran Pendidikan (KP) yang terbit dalam bentuk tabloid hadir di hadapan pembaca seminggu sekali. Sesuai dengan namanya KP menyuguhkan berita-berita seputar dunia pendidikan. KP pun menyediakan halaman untuk guru dan dosen. Ada dua rubrik yang bisa diisi oleh guru yaitu Hymne Guru dan Guru Menulis. Pada rubrik pertama menyajikan penggalan kisah suka dan duka pengabdian guru dan sisi-sisi kehidupan guru. Rubrik kedua lebih ke arah pendapat, opini atau artikel yang berhubungan dengan dunia pendidikan. Program itu sudah setengah tahun berjalan dan antsiasme guru semakin meningkat.

Begitu pula untuk siswa. Setelah memberi kesempatan menulis fiksi (cerpen dan puisi) kepada pelajar dalam rubrik Karya,KP juga menambah porsi untuk siswa dalam bentuk non fiksi. Siswa SMP/SMA/MA/SMK/MTsn dapat menulis opini atau artikel tanpa dibatasi tema. Naskah yang dimuat akan memperoleh buku dari penerbit yang bekerja sama dengan KP. Halaman untuk siswa ini melatih agar pelajar dapat menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan.

Majalah Matabaca vol.6/no.12/Agustus 2008

Review55. PENERBIT MENCARI GURU PENULISAug 4, '08 9:34 PM
for everyone
Category:Other
Sebuah bengkel penulisan bagi semua guru dan tenaga pendidik di Malang Raya diadakan pada 14 Juni 2008. Acara berlangsung di Kampus IKIP Budi Utomo Jl. Arjuno 14 Malang. Materi yang diberikan meliputi dasar-dasar menulis, penggalian ide, jenis penulisan dan strategi menulis, dan mengedit tulisan. Materi disampaikan oleh tim bengkel penulisan kelompok Agromedia. Acara yang diselenggarakan oleh Koran Pendidikan, IKIP Budi Utomo Malang, kerja sama dengan Kelompok Agromedia dan didukung oleh Telkom tidak memungut biaya dari peserta, bahkan mereka memperoleh sertifikat.

Majalah Matabaca vol.6/no.12/Agustus 2008

Review54. SHIFU YONATHAN PURNOMOAug 4, '08 9:31 PM
for everyone
Category:Other
Shifu Yonathan Purnomo, penulis buku Mengenal Rahasia Kecerdasan Otak, Rahasia Kecerdasan Otak Anak, dan Personal Condition Anak Super mencoba membenahi dan melatih otak. Inti dari hal yang diperagakan Yoathan adalah berpikir memakai dua otak sehingga kecerdasan otak dapat dioptimalkan. Bedah buku dilaksanakan pada 30 Juni 2008 di Toko Buku Tisera.

Majalah Matabaca vol.6/no.12/Agustus 2008

Review53. TOKO BUKU TISERAAug 4, '08 9:27 PM
for everyone
Category:Other
Satu lagi toko buku meramaikan kota Malang. Toko Buku Tiga Serangkai Nusantara ( Tisera) dibuka secara resmi 30 Juni 2008 di Malang Olympic Garden lantai 2. Toko buku ini merupakan cabang ke-14. Selain menjual macam-macam buku dan alat tulis, ada café, hot spot, dan edutainment.

Majalah Matabacavol. 6/no.12/Agustus 2008

Review52. LOKAKARYA NASIONALJul 27, '08 9:37 PM
for everyone
Category:Other
Strategi penulisan karya ilmiah untuk guru pembimbing/konselor menjadi judul lokakarya nasional yang digelar di Aula Gedung A-3 Kampus Universitas Negeri Malang (UM), 6 Juni 2008. Materi disampaikan oleh Drs. Mulyadi Guntur Waseso (dosen senior UM, pakar dan praktisi penulisan karya ilmiah) dan Drs. Muhammad Zen (penulis buku 'Kiat sukses mengikuti sertifikasi guru' dan jurnalis TV nasional).


Majalah Matabaca vol.6/no.11/Juli 2008

Review51. BEDAH BUKU DI RADIO MAS FM MALANGJul 27, '08 9:35 PM
for everyone
Category:Other
Bedah buku tidak selamanya harus dilakukan dengan tatap muka secara langsung antara penulis, pemateri, dan penonton. Cara yang satu ini dilakukan tanpa tatap muka. Tiap Sabtu pukul 11.00-12.00 radio MAS FM Malang mengadakan program bedah buku fiksi dan non fiksi. Di sela-sela bedah buku pengisi materi menyampaikan tips menulis, kiat menembus penerbit dan media cetak, dan materi lain. Tercatat Moammar Emka, Raditya Dika, Rieke Diah Pitaloka, Puthut EA, WS Rendra, dan sejumlah nama tenar lain pernah mengisi acara tersebut.


Majalah Matabaca vol.6/no.11/Juli 2008

Review50. NING AISYAJul 27, '08 9:30 PM
for everyone
Category:Other
Bedah novel pesantren dengan judul "Ning Aisya" (penerbit Matapena LKis) diadakan di Universitas Islam Negeri Malang (UIN). Acara ini diselenggarakan oleh BEM dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), 7 Juni. Bedah buku dilakukan oleh penulisnya Nisa'ul Kamilah Chisni. Sebagai pembanding dihadirkan Ratna Indraswari Ibrahim.

"Pesantren seharusnya tidak mengukuhkan pengkelasan atas nama "darah", sehingga feodalisme di pesantren tidak semakin mengakar. Pesantren sebagai lembaga yang "khas Indonesia" seharusnya juga memberikan paradigma Islam pembebasan yang tidak memandang realitas dunia dalam dua warna saja : hitam dan putih, ujar Nisa'ul.


Majalah Matabaca vol.6/no.11/Juli 2008

Category:Other
Bayangan bangunan perpustakaan yang berdinding tembok ternyata harus disingkirkan jauh-jauh. Yang tampak di depan mata hanya bangunan dengan dinding yang terbuat dari bambu dengan ukuran 6x12m dan lantai tanah. Rak-rak kayu sederhana tempat menaruh koleksi buku, majalah dan tabloid dipasang sejajar dengan dinding. Hembusan angin yang masuk melalui celah-celah bilah bambu tak menyurutkan pengunjung datang ke sini. Inilah Perpustakaan Anak Bangsa yang terletak di Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, Malang.

Tempat ini menjadi tempat ke sembilan sejak berdiri 1998. Di tempat yang paling baru ini, Eko Cahyono, pengelola sekaligus pemilik perpustakaan Anak Bangsa nekat menjual motornya dengan harga Rp7 juta. Uang hasil penjualan motor dipakai untuk membeli batang-batang bambu, kayu dan peralatan lain.Selama 7 hari ia dibantu teman-temannya membangun piondok sederhana. Awalnya lahan tersebut berupa ladang yang tidak terpakai. Selama 2 hari mereka menebang dan membersihkan tempat itu. Eko mengontrak ladang itu Rp300.000 per tahun.

Eko, pemuda berusia 27 tahun, mengawali perpustakaan ini secara tidak sengaja. Berawal dari kegemarannya membaca dari sedikit koleksi majalah Hai, Bola, Kawanku dan tabloid lain yang dibeli. Koleksi buku dan majalah itu mulai dikumpulkan sejak 1995. Melihat koleksinya semakin menumpuk, terpikir olehnya untuk menumbuhkan minat membaca bagi warga di sekitarnya. Tekadnya semakin bulat mendirikan perpustakaan kecil . Masa-masa awal dijalani dengan penuh rintangan.

"Saya menggelar buku dan majalah di depan rumah pada pagi hari dan mengemasinya di sore hari, karena tempat tinggal orang tua tidak cukup luas," kata anak bungsu dari tiga bersaudara sambil mengenang masa lalu yang penuh perjuangan.

Sesudah koleksinya cukup, Eko mulai membuka perpustakaan di rumahnya. Ruang tamu diubah menjadi ruang perpustakaan. Rak-rak buku memenuhi ruang tamu yang sempit. Pada awalnya, untuk menarik minat anak-anak di sekitar tempat tinggalnya sangat sulit. Kesulitan itu disiasati dengan berbagai cara. Sebagai langkah awal dia menyediakan play stasion, permainan ular tangga, papan catur, dan gitar. Akhirnya, usahanya tak sia-sia.

Setiap hari perpustakaan dikunjungi kurang lebih 100 orang, mulai dari anak-anak, remaja, ibyu-ibu, bahkan guru-guru di sekitarnya. Guru-guru TK meminjam buku cerita rakyat, ibu-ibu membaca tabloid Saji, anak-anak membaca buku cerita. Masih ada koleksi lain seperti kliping cerpen, puisi, tips kecantikan, memasak, dan lain-lain. Pengunjung tidak hanya berasal dari sekitar tempat tinggalnya, namun dari desa-desa yang lebih jauh seperti Turen, Poncokusumo, Wendit, dan Tumpang.

Menurut cerita Eko, ada remaja yangawalnya tidak cakap membaca dan menulis. Berkat perpustakaan yang dikelolanya, remaja itu akhirnya mahir membaca dan menulis, bahkan senang membuat puisi. Tiap malam Rabu dan Minggu ada diskusi ringan dengan topik yang menarik. Ada kalanya memanggil penulis-penulis yang sudah mempunyai nama yang kebetulan tinggal di Malang. tercatat nama Ahmadi Sofyan, Liga Alam, dan Navisan najia yang pernah membedah buku di perpustakaan tersebut. Kadang-kadang ada lomba menggambar untuk anak-anak TK dan SD kelas 1 sampai 3. Hadiahnya berupa alat-alat tulis, buku tulis, atau buku gambar.

Pemuda yang lulus SD ini tidak memungut uang peminjaman buku. "Tidak ada batas waktu peminjaman," katanya. Waktu buka perpustakaan mulai pukul 7 pagi sampai pukul 12 malam. " Kalau saya sedang pergi, teman-teman membantu menjaga perpustakaan," ujarnya lagi. Yang banyak diminati adalah buku-buku yang ditulis Agatha Christie, Kahlil Gibran, Mira W. dan Ayu Utami. karya-karya pengunjung perpustakaan ini sudah banyak, berupa kumpulan cerpen dan puisi. Terbersit keinginan Eko untuk menawarkan karya mereka kepada penerbit, tetapi dia tak tahu harus ke mana.

Perpustakaan ini pernah tutup pada 2001 selama 2 minggu. Banyak pengunjung setia yang protes. "Saya merasa berdosa, seolah-olah lari dari tanggung jawab. Saya sudah mencoba menumbuhkan minat baca dan tulis kepada mereka, masa saya tinggalkan begitu saja," cerita Eko mengenangn masa lalu. Akhirnya dengan susah payah, dia membuka kembali perpustakaannya.

Cita-citanya membantu pendidikan anak-anak lewat perpustakaan tak pernah pupus dari benaknya. Bermacam-macam usaha sudah pernah dicoba dan dilakukan untuk menambah koleksi perpustakaan Anak Bangsa. Usaha yang paling sering dilakukan dengan meminta sumbangan buku (bukan uang), majalah, koran, dan buku pelajaran bekas dari rumah ke rumah. Setiap ada pameran buku di kota Malang, bisa ditebak sosoknya selalu muncul. "Saya sudah pernah mencoba mengirim proposal ke lembaga0-lembaga, namun selalu terbentur persyaratan bahwa perpustakaannya harus memiliki badan hukum. Mungkin kalau mereka melihat langsung kondisi perpustakaan ini, akan lain hasilnya," ucap Eko yang tak pernah menghitung berapa jumlah koleksi bukunya. Untuk biaya operasional yang harus dikeluarkan setiap bulan mencapai Rp75.000 per bulan yang digunakan untuk membeli alat tulis, bayar listrik dan lain-lain.Di tengah keterbatasan dana, Eko tak pernah putus asa dan bertekad tetap meneruskan cita-citanya.

"Saya juga tidak setuju dengan anggapan minat baca orang desa rendah. Hanya karena tidak ada fasilitas yang memadai dan persediaan buku terbatas," katanya menutup pembicaraan. Dia tidak akan pernah menutup Perpustakaan Anak Bangsa.


Majalah Matabaca vol.6/no.11/Juli 2008



Review48. CERPEN : BBMJul 27, '08 9:14 PM
for everyone
Category:Other
Matahari mulai menampakkan sinar sebagai janjinya setiap hari yang memberi kelangsungan kehidupan di atas bumi. Di musim kemarau seperti ini, hembusan angin cukup kencang sehingga membuat udara cukup dingin. Keadaan ini diperparah dengan debu-debu yang terbawa angin sebagai akibat batuknya Gunung Semeru. Akibat lebih lanjut perabot rumah tak pernah bersih, lantai berdebu, dan genteng berwarna putih.

“Koran!” teriak seorang anak loper koran dari balik pagar yang setiap pagi setia mengantarkan setumpuk koran dan majalah kepada pelanggannya. Seorang lelaki berumur, pak Paijo namanya, telah menunggu sejak tadi. Pak Paijo bangkit dari kursi, berjalan ke arah pagar dan mengulurkan tangannya di antara jeruji pagar untuk menerima surat kabar lokal.

Ia duduk kembali di kursi kebesarannya, menyeruput kopi panas yang disajikan istrinya, mengenakan kacamata, kemudian mulai membaca koran. Begitulah kebiasaannya setiap pagi. Dibukanya lipatan koan dan ia mulai menyimak halaman muka yanh menyajikan berita-berita uatama.

Tiba-tiba gerak matanya terhentidan tertuju pada sebuah judul yang ditulis dengan huruf besar.

KRISIS BBM MAKIN MENINGKAT

Krisis BBM yang terjadi sejak dua hari lalu diperkirakan akan terus berlanjut hari ini. Antrean panjang kendaraan bermotor masih mewarnai beberapa SPBU…

Kalimat selanjutnya tidak lagi dibaca oleh Pak Paijo yang segera melempar koran tak bersalah itu ke meja.

“Bu…ambilkan helm, Bu!” teriaknya. Bu paijo yang sedang menyapu di dapur- entah untuk ke berapa kalinya- tergopoh-gopoh menghampiri suaminya.

“Ada apa, to Pak, pagi-pagi begini sudah teriak-teriak?” tanya Bu Paijo.

“Ambilakan helm, Bu. Bapak mau keluar sebentar,” sahut Pak Paijo.

“Mau ke mana, to Pakne?” tanya Bu Paijo lebih lanjut.

“Beli bensin. Menurut berita koran pagi ini BBM mulai langka di kota kita. Makanya Bapak mau beli bensin,” ada sebersit kekhawatiran yang tidak terucap.

Pak Paijo mengeluarkan Honda bebek tua kesayangannya dari ruang tamu. Mestrarter. Meskipun tua motor kesayangannya itu tetap dirawat baik-baik. Bagaimanapun juga kendaraan tersebut telah berjasa mengantar pergi pulang menuki kantor sewaktu masih bekerja dulu di sebuah instansi pemerintah. Sebagai seorang pegawai negeri dengan gaji pas-pas an ia membeli motor itu secara kredit.

Tak lama istrinya muncul membawa helm dan memberikan kepada suanya. Lalu Bu Paijo membuka pintu pagar. “Bapak berangkat dulu, Bu,” pamit Pak Paijo setelah mengenakan helm. “Hati-hati, Pak.”

Bu Paijo menutup pintu pagar kemudian menghampiri meja di teras. Dibacanya koran sekilas dan berlalu ke dalam rumah melanjutkan pekerjaannya tadi yang sempat tertunda. Bersiap-siap untuk belanja ke pasar besar sebagai pekerjaan rutinnya setiap dua hari sekali.

-666-

Sepanjang perjalanan pak Paijo tidak habis pikir. Banyak kasus besat yang membaut ibu pertiwi menangis. Belum tuntas satu kasus sudah timbul kasus lain. Begitu banyak kasus saling tumpang tindih. Mungkin tak akan terselesaikan, kasus ditutup. Apa yanh sebenarnya sedang terjadi terhadap negeri ini? Apakah murka tuhan sedang turun je atas bumi Indonesia? Pak Paijo hanya dapat membatin dalam hati. Tanpa ada jawaban yang memuaskan. Dia hanyalah seorang dari sekian puluh ribu rakyat kecil yang paling merasakan penderitaan akibat permainan politik tingkat atas.

Ada sesuatu yang berbeda kali ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi oleh berbagai jenis kendaraan bermotor, roda dua, roda empat, mobil-mobil pribadi sampai angkutan kota kini terlihat lengang. Kelangkaan BBM membuat perubahan besar padakehidupan manusia. Seperti pagi ini. Padahal proses terjadinya minyak berlangsung juataan tahun. namun manusia telah mengurasnya untuk bahan bakar, dibakar dalam sekejap dan hilang. Kalau habis? Butuh jutaan tahun lagi.

Seandainya setiap hari keadaan jalan seperti ini, alangkah nikmatnya. Jalan tidak macet, kendaraan tidak semrawut main serobot seenaknya, polusi udara akibat pembuangan asap kendaraan bermotor bisa dikurangi seminimal mungkin. Seandainya angkutan umum aman dan nyaman, ketertiban dan peraturan dibenahi pasti banyak pemakai jasa angkutan yan bersedia meninggalkan kendaraan pribadi di rumah dan beralih naik angkutan masal. Ah, tapi ini kapan bisa terwujud? Peraturan pemerintah, Pemda, paguyupan sopir mikrolet, DLLAJ, sampai pemerintah pusat semuanya saling terkait. Seandainya…seandainya…hati Pak Paijo berkecamuk sendiri. pusing.

Tiba di SPBU antrean mobil sudah berderet sepanjang setengah kilometer sehingga menimbulkan kemacetan. Beberapa anggota Kamra sibuk mengatur arus lalu lintas. Segala jenis kendaraan tumplek blek di sini, dari mobil mewah keluaran terbaru sampai mobil tua. Pajero, Mercedez Benz, Ford Champ, Hijet 1000 keluaran tahun '83 sampai bemo - becak bermotor roda tiga yang bentuknya lucu mirip seterika yang pernah jaya sebagai sarana transportasi angkutan kota ini tahun 1980-an bahkan sampai beberapa tahun lalu keberadaannya tetap dipertahankan di jalur-jalur tertentu hingga akhirnya seluruh armada yang masih memakai bemo berganti dengan mikrolet. Kini bemo menjadi mobil antik.

Dengan gesit Pak Paijo menyelinap di antara mobil-mobil yang antre dan kendaraan di badan jalan yang bergerak perlahan. Macet total. Pak Paijo tiba di tempat pengisian bahan bakar khusus motor. Berjubel. Kesadaran untuk antre dengan tertib belum membudaya.

Pak Paijo menegur pengendara motor di sebelahnya, “Sudah lama antre, Pak?” tegur Pak Paijo.

“Sudah, Pak. Tiga puluh delapan menit sudah saya berada di sini,” jawab pengendara itu. “Itu pemilik mobil lebih lama antre. Bisa dua tiga jam atau lebih bahkan ada yang rela bermalam di sini untuk antre keesokan harinya,” tambahnya.

Pak Paijo hany abisa menggut-manggut memaklumi keadaan. Iamenoleh ke arah deretan mobil-mobil itu. rupanya untuk mengisi waktu luang banyak hal yang mereka lakukan. Ada yang membaca koran, ada yang mengada-adakan komunikasi melalui handphone, ada yang membuka pintu mengusir hawa panas dalam mobil, ada yang membuka jendela, ada yang berbincang-bincang denga teman seperjalanan.

“Pak…” sadar bahwa panggilan itu ditujukan pada dirinya Pak Paijo menoleh ke arah sumber suara.

“Bapak lihat pengendara motor di depan sana,” sambil menyorongkan dagunya ke obyek ke obyek yang dimaksud, “Dia membawa jerigen,” kata pengendara motor yang sejak tadi menjadi teman berbincang Pak Paijo melihat ke arah yang dimaksud.

“Ya…,” Pak Paijo mendesah, “Mestinya petugas bisa tegas tidak melayani pembelian dengan jerigen. Kalau dilayani mungkin bisa bolak-balik beli dan mereka bisa menjual kembali di luaran dengan harga yang lebih tinggi.”

“Dalam keadaan kepepet seperti ini ada saja orang-orang kreatif yang memanfaatkan situasi dan naluri bisnisnya tiba-tiba muncul. Banyak penjual bensin dadakan di pinggir jalan, bahkan ada teman saya yang bilang ada mobil pick up membawa drum dan menjualnya eceran. Harganya bervariasi, ada yang seribu lima ratus, ada yang dua ribu lima ratus, bahkan ada yang lebih mahal dari itu. kabarnya mereka dari Surabaya dan berbondong-bondong kemari. Ada kabar pasokan BBM di sana lancar dan tidak ada antrean seperti di sini,” papar pengendara itu.

“Saya jadi bingung, ada fenomena apa dibalik semua ini?” tanya Pak Paijo.

Panas matahari semakin menyengat. Keduanya tidak megucapkan sepatah kata. Tiba giliran Pak Paijo mengisi bensin. Cukup melelahkan bagi dirinya.

Tiba di rumah, Pak Paijo memarkir motor tuanya di beranda. Melihat kedatangan suaminya, Bu Paijo segera membuatkan minuman dingin.

“Ada apa to, Pak, beli bensin kok sampai dua jam lebih?” tanya Bu Paijo sambil menyodorkan segelas minuman.

Pak Paijo menerima gelas itu, seteguk demi seteguk air dingin melewati kerongkongannya yang kering hingga habis. Segar seklai.

“Walah, Bu. Antreannya panjang sekali,” Pak Paijo menjawab pertanyaan istrinya sambil mengipas-ngipas badan Gerah. “Kelangkaan BBM berdampak luas. Antrean sampai setengah kilometer.”

“Nah, itu! Ibu tadi ke pasar naik mikrolet ditarik seribu. Lha wong biasanya hany alimaratus, je. Mana beberapa bahan pokok ada yang naik harganya. Gula lokal jadi tiga ribu dua ratus, naik enam ratus,” Bu Paijo menceritakan pengalamannya.

“Terus kita ini mau bagaimana lagi to, Bu?”

“Ibu tadi juga sempat omong-omong dengan sopir mikrolet. Katanya mereka terpaksa menaikkan tarif. Dalam sehari biasanya bisa lima rit, sekarang hanya bisa dua rit. Yang tiga rit habisa di antrean.”

“Yang kasihan kan anak sekolah ya, Bu. Mereka banyak yang telantar tidak terangkut. Banyak yang bolos jadinya. Sampai ada bantuan truk dari polresta dan pemda untuk mengangkut mereka. Semuanya ya kena dampaknya Bu…Bu. Anak sekolah, pegawai, pengemudi, penumpang, ibu-ibu rumah tangga, semuanya mengeluh.”

“Yang sempat Ibu dengar tadi dari salah satu radio swasta, kota kita sudah digelontor BBM dari UPPDN sampai melebihi standar kebutuhan sehari-hari. Kok masih antre, ya Pak?” tanya Bu Paijo lebih lanjut kepada suaminya.

“Ndak tahu, BU. Bapak mumet,” Pak Paijo mengisap rokoknya dalam-dalam.

“Apa ini karena kerusakan kilang minyak seperti yang banyak diberitakan ya, Pak? Ada yang bilang karena kebutuhan dalam negeri meningkat. Ada yang bilang karena banyak BBM yang diselundupkan lalu dijual di luar negeri karena harga di sini lebih rendah sehingga bisa dijual lagi dengan harga yang lebih tinggi. Ada yang bilang situasi ini sengaja diciptakan untuk mengobok-obok kota kita karena beberapa kali ada usaha ke arah itu tapi gagal.” Bu Paijo menyerocos tanpa henti.

Mendengar ocehan istrinya terutama pada kalimat terakhir Pak Paijo kaget. Ternyat istrinya tercinta sekarang pandai mengamati situasi yang sedang terjadi. Dulunya sebelum krisis melanda, istrinya tak punya perhatian pada hal-hal semacam itu.

“Waduh Bu, jangan terus dikaitkan dengan politik, to. Pokoknya sekarang kita semua meningkatkan kesabaran dalam menghadapi situasi yang tak menentu dan tetap berusaha mempertahankan keadaan yang aman, tidak mudah dihasut oleh oknum tertentu. Mudah-mudahan pemerintah bisa segera mengatasi hal ini. Ya to, Bu. Ayo Bu makan, perut Bapak dari tadi sudah lapar.”

“Betul juga ya, Pak. Oya, Ibu tadi masak kesukaan Bapak. Sayur santan dengan tempe kacang dan ikan pe sangit.” Bu Paijo beranjak ke dapur.


Surabaya Post, 29 Juni 2008

Review47. CERPEN : TAMAN BACAAN DENIJul 27, '08 9:07 PM
for everyone
Category:Other
Sepanjang perjalanan menuju rumah, Deni terus berpikir. Panas terik matahari tidak lagi dirasakan. Apa yang akan dilakukannya?

Sampai di rumah Ibu menegur, “Kenapa pulang terlambat, Deni?”
“Maaf, Bu. Tadi Deni, Ria, Andi, dan Leni menengok Budi yangs edang sakit di rumahnya,” jawab Deni sambil menghempaskan badannya ke sofa.
“Oh, Budi yang tinggal di kampung belakang kompleks perumahan kita?”

Deni melepas sepatu dan kaus kaki lalu menaruhnya di rak sepatu. “Ya, Bu. Deni meminjamkan majalah kepada Budi. Eh, dua adiknya yang sedang ada di situ malah berebut ingin membaca!” deni bersungut-sungut. “Deni kan jadi kesal.”

“Kamu tidak boleh kesal begitu. Seharusnya kamu mengerti kalau adik-adik Budi ingin sekali membaca karena mereka tidak punya bacaan. Justru kamu harus menolong mereka. “Ibu mencoba memberi pengertian kepada Deni.

“Lalu bagaimana Deni bisa menolong mereka, Bu?” tanya Deni ingin tahu. Setelah mencuci tangan, dia membuka kulkas. Diambilnya botol ar minum, isinya dituang ke dalam gelas lalu diteguk sampai habis.

Sambil menata piring di meja makan Ibu menjawab, “Nah, kamu sudah punya banyak majalah dan buku cerita. Selama ini kamu cepat bosan. Kalau sudah dibaca sekali jarang dibaca lagi. Semua ditumpuk di kamar. Sebagian lagi ditumpuk di atas bufet di ruang keluarga. Betul, kan?”

“Memang betul, sih,” kata Deni mengaku.

“Kamu bisa meminjamkan buku dan majalah itu kepada mereka,” kata Ibu lebih lanjut.

Tiba-tiba Dita – kakak Deni – keluar dari kamarnya. Rupanya sejak tadi dia mendengar percakapan antara Ibu dan adiknya.

“Ada apa, sih. sepertinya ada pembicaraan seru,” ujar Dita ingin tahu.

“Adikmu ini, daripada semua buku dan majalah ditumpuk begitu saja lebih baik dipinjamkan kepada teman-temannya.”

“Setuju, Bu. Kita bisa mengumpulkan semua buku dan majalah Deni- ditambah majalah dan buku cerita Dita. Sesudah semua terkumpul, kita mendirikan perpustakaan kecil atau taman bacaan,” usul Dita bersemangat.

“Wah, idemu bagus sekali. Dengan perpustakaan kecil itu adik-adik Budi bisa membaca di sini. Teman-teman Deni juga boleh membaca. Pokoknya siapa saja boleh,” kata Ibu turut bersemangat.

Deni yang sejak tadi diam berseru, “Asyiik!” ketika mendengar rencana itu.

“Ruang kosong di samping garasi bisa dipakai untuk perpustakaan,” sahut ibu menambahkan. “Sekarang makan siang dulu, nanti malam kita bicarakan usul ini dengan Bapak.”

Sekarang taman bacaan Deni sudah selesai. Sebuah ruangan yang nyaman untuk membaca dengan suasana santai siap dipakai. Tidak ada kursi dan meja di dalamnya. Yang ada hanya karpet biru muda yang digelar dilantai. Beberapa bantal dan alas duduk ditumpuk di sudut. Dinding dicat dengan lukisan pemandangan. Rak-rak kecil berjajar menempel di dinding. Buku-buku cerita dan majalah disusun di dalamnya.

“Siiip!” gumam Deni puas melihat perpustakaan kecilnya. “Aku bisa mengundang adik-adik Budi dan teman-teman kemari untuk membaca.”

Malang Post, 29 Juni 2008

Review46. KPBP DIBENTUKJul 27, '08 8:27 PM
for everyone
Category:Other
Komunitas Pecinta Buku Pasuruan (KPBP) berdiri 2 Mei 2008 dengan sekretariat di Ceria Book Store (CBS) Jl. Diponegoro 26 Pasuruan. Keanggotaannya terbuka untuk seluruh pecinta buku. Ide membentuk KPBP datang dari sesama pecinta buku yang mempunyai visi memajukan Pasuruan dengan budaya membaca. KPBP akan berkoordinasi untuk melakukan langkah nyata ke depan.

Majalah Matabaca vol.6/no.10/Juni 2008

Review45. CERPEN : KERAMASApr 6, '08 9:05 PM
for everyone
Category:Other
Hari ini, lelaki itu menganggap dirinya sebagai orang yang paling malang sedunia. Dia tak bisa berbuat apa-apa, dia kecewa, sangat kecewa. Sejak kedatangannya tadi, lelaki itu sudah uring-uringan. Rambutnya yang agak panjang tampak berantakan tanpa seuntuhan sisir. ketombe bertebaran di sela-sela rambutnya yang kusut.

"Aduuhhh........piye iki!" teriaknya sambil menyibak rambutnya.

Beberapa orang teman lelaki itu - yang hadir di tempat itu - bengong. Apa yang dibicarakan lelaki itu, tak ada ujung pangkalnya. Tak biasanya lelaki itu mengomel, datang dengan wajah keruh dan rambut kusut masai. Dia lelaki yang ceria. Tapi pagi ini?

Salah seorang teman lelaki itu bertanya,"Ada masalah apa?"

"Aku sudah berusaha mengutak-atik hard diks komputer, tapi tetap tak bisa jalan. Bayangkan, sejak komputer itu datang siang kemarin, aku langsung memeriksa komputer itu sampai jam sepuluh malam. Tetap saja tak bisa! Au sudah lapor ke bos besar bahwa aku tak mampu membereskan komputer itu. Bos besar menjawab bahwa itu bukan kesalahanku, tapi kesalahan mereka - yang jual komputer."

"Kalau begitu, ya sudah. Jangan dipikir lagi," jawab salah seorang teman lelaki itu.

"Biasanya aku sanggup menyelesaikan masalah. Masa masalah sepele seperti ini tak bisa kuselesaikan?" Lelaki itu tetap ngotot pada pendiriannya.

"Aaddduuuuuhhh.......aku mau bunuh diri saja!" teriak lelaki itu. Ia mengambil seutas tali rafia - yang entah dia dapat dari mana - tali itu dililitkan ke jempol kaki kirinya. Diambilnya korek api dari saku bajunya, lalu menyalakan geretan itu seolah-olah henak membakar sisa tali rafia yang terjuntai.

"Hei, jangan mati dulu. Kalau mati sekarang, masih banya pekerjaan yang belum kamu slesaikan dan utangmu belum dilunasi di dunia ini. Hidup itu indah. Hidup di dunia untuk dihayati dan dinikmati. Halangan bukan rintangan yang harus dihindari tapi dihadapi."

"Aku merasa sudah mengecewakan banyak orang dan teman-teman. Aku sudah lama sekali tiak merasa sedih dan kecewa seperti sekarang. Selama ini hidupku bahagia terus,"ujar lelaki itu.

"Nah, sekarang kena batunya. Hidup tidak selalu bahagia, hidup tidak selalu sempurna, pasti ada kekurangan. Sudahlah, masalah begitu saja dipikir panjang. Komputer itu termasuk cacat produk. selama masih ada garansi, bisa ditukar kebali ke tokonya," timpal temannya yang lain.

Walaupun sudah diberi penjelasan panjang lebar oleh teman-temannya, lelaki itu belum bisa menerima kegagalannya. Lelaki itu masih tetap uring-uringan.

*********
Sampai di tempat kos, lelaki itu sudah sangat capai. bau leringat di sekujur tubuh. Jarum jam pendek menunjuk ke angka tujuh lewat sedikit dan jarum jam panjang menunjuk ke angka lima. Perutnya sudah kenyang. Lelaki itu berbaring di atas ranjang sekedar melepas penat sejenak.

Lelaki itu membiarkan pikirannya mengembara. Diam dalam hening. Hampir saja kelopak matanya terpejam. Perlahan-lahan dia memaksakan diri bangkit dari ranjang. Ah ya, aku harus mandi dulu, pikirnya.

Di dalam kamar mandi lelaki itu memulai ritual mandi. Diambilnya satu gayung air dan diguyur ke atas kepalanya sampai membasahi rambut dan seluruh tubuhnya. Dua kali dia melakukan hal yang sama. Air yang mengalir dingin lewat permukaan kulit tak dirasakan olehnya, yang tersisa hanyalah kesegaran raga, pikiran dan jiwanya. Aha, ternyata beban pikiranku sedikit demi sedikit sirna. Akan lebih baik lagi aku benar-benar mandi, bukan sekedar mandi bebek. itu pikiran yang ada di benak lelaki itu.

Selanjutnya dia ambil satu botol sampo. Cairan pembersih rambut itu dituang ke atas telapak tangan kirinya, kemudian digosok-gosokkan di atas rambutnya, sampai menyentuh kulit kepalanya. Buih sampo menutupi rambutnya. Berdasarkan iklan di televisi dan media cetak, sampo itu memberi gizi, menjaga dan mengembalikan perlindungan alami rambut. Membuat setiap helai rambut sehat berkilau, lembut, mengembang dan bercahaya. Pemakaian sampo secara teratur membua ketombe hilang.

Itu semua menurut iklan, membujuk konsumen supaya membeli produk itu. Karena kata-kata manis dan bombastis, konsumen ada yang terbujuk, produsen berhasil menggaet konsumen membeli produk yang diiklankan. Hasilnya? Sering tidak sesuai dengan yang diiklankan.

Seandainya aku punya uang lebih, aku akan creambath di salon. Di sana rambutku akan dikeramasi oleh tangan-tangan terampil pegawai salon sambil dipijat-pijat sedikit. Dengan setengah berbaring, rambut dikeramasi dan dipijat....wuuiiihhhh...perlakuan seperti itu yang bikin ngantuk. Selesai keramas, rambut ditarik-tarik sedikit, dipijat sana-sini, dirawat, diberi vitamin supaya sehat.

Seandainya aku mandi di kamar mandi kering, aku akan berbaring di bath tub yang penuh air sabun. berenam di dalam air hangat sambil mendengarkan musik, mataku terpejam. Berendam setengah jam sudah cukup. Nikmat sekali.

"Aaaagghhh...hanya khayalan," ucap lelaki itu pendek. Dibuangnya jauh-jauh segala khayalan yang menggayuti otaknya. Nyatanya aku di sini, di kamar mandi basah, katanya dalam hati. Lelaki itu melanjutkan kembali ritual mandinya. Kali ni seluruh daki yang melekat di permukaan kulit digosok dari sela-sela jari kaki sampai muka. Hasilnya memang banyak daki hitam yang berhasil diangkat. Sesudah itu seluruh badan digosok dengan sabun mandi.

**********

Rambut lelaki itu masih basah. Ada yang lain di raut wajahnya. Benar, paras mukanya sudah segar dan tidak kusut masai seperti pagi, siang, sore an sesaat sebelum mandi tadi. Keceriaan sudah kembali menghias di raut wajahnya. Sensasi mandi dan keramas sudah membuatnya berubah seperti sedia kala.

Diputarnya lagu-lagu Mozart : Serenade in B-Dur >> Gran Partita dan Symphonie nr.40 in G-Moll, sampai alunan musik terakhir. Yeah, lelaki itu tak paham bahasa jerman, namun harmoni musik klasik dari suara klarinet dan horn mampu dinikmati sepenuh hati. Sambil mendengarkan musik, lelaki itu membaca novel Di tepi Sungai Piedra aku duduk dan tersedu karya Paulo Coelho.

Matanya sudah lelah. lelaki itu meletakkan novel di atas meja, alunan musik klasik Mozart sudahselesai sejak tadi. Sesaat sebelum terlelap, lelaki itu termenung. Pertanyaan tentang sebab musabab mengapa sejak kemarin malam dan sepanjang hari ini uring-uringan sudah ada jawabnya. Lelaki itu tersenyum sendiri. Aku memasang target terlalu tinggi. Aku merasa mampu menyelesaikan masalah 100%, padahal aku hanya sanggup 60% saja. Dan yang terpenting, masalah lain yang sebenarnya sangat sepele : aku belum keramas sejak empat hari lalu!

Surya, 6 April 2008

Review44. CERPEN : WARISAN MAMAApr 6, '08 9:02 PM
for everyone
Category:Other
Sisil termenung seorang diri di teras depan rumahnya sambil memandang bunga mawar merah yang seang mekar dalam pot milik mama. Semilir angin yang menerpa tubuh seolah tak dirasakannya. Sudah setengah menit berlalu ia melamun sambil bertopang dagu.

Hari ini adalah hari ke tujuh masa liburan sekolahnya. Masih empat hari lagi baru ia masuk sekolah kembali. Selama ini sudah setumpuk novel karya Mira W., S. Mara Gd., Lima Sekawan, sampai komik Tintin telah habis dibacanya. Kini ia tak tahu lagi apa yang akan dilakukannya.

”Ah, seandainya Rina tidak berlibur ke rumah pamannya di luar kota tentu aku bisa bermain-main ke rumahnya. Aku tidak terpuruk di rumah dan kesepian seperti sekarang ini,” pikir Sisil dalam lamunannya. Rina adalah teman dekat Sisil. Sudah dua tahun mereka bersahabat sejak pertama kali masuk di sebuah SMP swasta.

Ia masih menatap bunga mawar ketka tiba-tiba terlintas sebuah ide dalam benaknya.

”Daripada berdiam diri terus seperti ini lebih baik aku menyiram bunga-bunga dan tanaman peliharaan Mama,” kata Sisil dalam hati. Lalu ia beranjak dari kursi dan bergegas ke belakang rumah. Ia mengambil gayung dan ember. Dibawanya kembali benda-benda itu ke teras.

Saat melintas di samping rumah, mama Sisil yang seang memasak terheran-herab melihat sikap anaknya.

”Apa yang akan dilakukan anakku? Kok tumben, anakku jadi rajin begini?” gumam mama Sisil.

Lewat kisi-kisi jendela yang terbuka lebar, mama menegur Sisil, ”Sil, kamu mau apa bawa-bawa ember dan gayung?”

”Sisil mau menyiram tanaman, Ma. Daripada bengong aja ngga ada yang dikerjakan,” jawab Sisil sambil berlalu. Mama hanya mengangkat bahu.

”Ya sudah, sana!” sahut mama Sisil.

Sisil asyik menyiram tanaman sambil bersenandung. Bunga mawar, tanaman suplir di bawah jendela kamar Sisil, bunga nusa indah, semua tak ada yang lewat disiram Sisil.

”Senangnya memberi kehidupan pada tanaman-tanaman yang diciptakan Tuhan untuk melengkapi kehidupan manusia,” pikir Sisil.

”Pos!” Tiba-tiba pak pos berteriak.

Sisil menoleh, menghentikan sejenak pekerjaannya kemudian menghampiri pak pos yang mengangsurkan dua pucuk surat.

”Terima kasih, Pak.”

Sisil melihat sampul surat. Satu surat untuk mama dari Tante Dina dan satu dari Rina sahabatnya. Sisil masuk dan menuju dapur.

”Ma, surat dari Tante Dina,” ujar Sisil sambil menyodorkan surat.

Mama mebuka amplop dan dibacanya surat dari adiknya yang paling keil. Mama tersenyum.

”Wah, Tante Dina sekarang berada diAustralia meneruskan studi ke jenjang S2. tante Dina titip salam untukmu.” Sisil mengangguk.

”Ma, itu prangkonya bagus,” sambil menunjuk prangko di atas amplop yang dipegang mama,”boleh Sisil ambil?”

”Hmm....boleh. Tapi untuk mengambil prangko ada caranya sendiri, Sil. Tidak bisa langsung dilepas dari amplopnya.”

”Kok gitu sih, Ma?”

”Iya, kalau langsung dilepas akan merusak prangko.”

”Lalu caranya gimana, Ma?”

”Coba ambilkan mangkuk lalu isi dengan air. Airnya cukupan saja, tidak usah terlalu penuh.”

Sisil kembali membawa mangkuk yang dipesan Mama, kemudian ia melanjutkan. ”Setelah itu guntingsekeliling prangko dan jangan sampai kena tepi prangko. Sisakan sekitar dua milimeter dari pirnggir prangko. Setelah lepas, rendam dalam air kira-kira lima menit sampai kertas amplop terpisah dari prangko/ Prangko dikeringkan dengan kertas penghisap kalau ada. Biarkan keing sendiri. Tapi jangan diseterika atau dijemur di bawah terik matahari,” kata mama panjang lebar. Sisil yang sejak tadi memperhatikan mama manggut-manggut.

”Rumit juga ya, Ma. Sisil bingung.”

”Kalau kamu sudah terbiasa kan jadi gampang. Oya, mama punya sesuatu untuk Sisil. Yuk, ke kamar kerja papa sambil menunggu prangko kering.”

Sisil mengekor di belakang mama menuju ruang kerja papa. Mama mengambil tiga album prangko berukuran besar di salah satu rak buku.

”Nah Sil, ini untukmu,” kata Mama sambil menyodorkan album-album itu kepada Sisil, ”Mama wariskan untukmu.”

Sisil membuka salah satu album.Ber,acam-macam prangko dari dalam dan luar negeri tersusun rapi.

”Sejak kapan Mama mrngumpulkan prangko?” tanya Sisil ingin tahu.

”Sejak Mama berusia kira-kira tiga belas athun. Sekarang Mama sudah tidak ada waktu merawatnya.”

”Tapi Ma, yang ini kok seperti masih baru?” tanya Sisil lebih lanjut menunjuk salah satu prangko dalam album.

”Prangko yang ini namanya prangko mint artinta prangko yang belum dipakai. Kalau prangko yang tadi disebut prangko used artinya prangko bekas atau prangko yang sudah dipakai.”

”Cara merawatnya gimana, Ma?”

”Untuk merawat prangko memang harus telaten apalagi di Indonesia yang punya udara lembab. Prangko yang langsung disimpan dalam album lama kelamaan akan timbul bintik kuning. Untuk menghindarinya prangko harus dibungkus dengan plastik khusus, plastik OPP namanya. Seperti ini,” ujar Mama mengambil sebuah prangko yang tlelah dibungkus plastik OPP dan menunjukkannya pada Sisil. ”Lagipula bila pada prangko timbul bintik kuning itu berarti sudah menurunkan harganya,”lanjut Mama.

”Oh, gitu. Susah ya, Ma,”sahut Sisil.

"Memang, tapi nantinya kamu akan tahu. Kapan-kapan Mama ajarin lagi cara-cara merawat prangko. Oya, satu hal lagi sebelum Mama lupa. Album prangko harus disimpan dalam keadaan tegak atau berdiri, jangan ditidurkan karena kalau tertindih buku-buku lain akan mebuat prangko lengket pada album atau garis-garis album kan membekas di belakang prangko.”

”Ya Ma, akan Sisil ingat.”

”Sisil tadi sudah selesai menyiram?”

”Wah belum. Sampai lupa, habis terlalu asyik sih, Ma.”

”Kalau memang belum selesai, lanjutkan lagi. Prangko yang dikeringkan tadi biar Mama yang urus.”

”Terima kasih, Ma. Mama sudah mewariskan dan mempercayakan pada Sisil untuk merawat koleksi Mama,” kata Sisil sambil mengecup pipi Mama. *****


(Majalah Sahabat Pena no. 384, Oktober 2000)

Category:Other
Di atas pintu masuk terpampang tulisan timbul pada bilah kayu : Padepokan sastra Tan Tular. Begitu masuk koleksi topeng dari berbagai daerah di Indonesia, beberapa wayang golek dan bilah keris tampak mencolok tersusun rapi di dinding ruang tamu. Beberapa senjata tradisional seperti tombak dan busur juga dipasang di dinding yang lain. Di sebelah kanan pintu masuk berjejer hiasan yang terbuat dari buah kelapa yang dikeringkan membentuk karakter hewan.



Masuk lebih dalam lagi, ada ruang yang tidak begitu luas. Di sinilah letak pusat padepokan sastra ini. Ruangan ini dipenuhi dengan rak dan lemari buku.Di tempat inilah tersimpan kurang lebih 6000 buku kleksi Dr. Henri Supriyanto, M.Hum. Koleksi bukunya terdiri dari buku umum, kajian budaya, dramaturgi, sosiologi sastra, dan masih ribuan judul buku lain. Buku-buku yang cukup menyita perhatian, seperti Kumpulan Sastra Lisan Jawa Timur dan buku Riset Budaya Using. Di sudut lain kumulan kaset ludruk disusun rapi. Judul-judul yang ada, misalnya Pak Sakerah, Sawunggaling, Joko Sambung, Sudamala, dan Geger Pabrik Kedawung.



Ketika penulis menemuinya siang itu, dosen di Fakultas Bahasa dan Seni jurusan Bahasa dan sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini seang menrima mahasiswanya. Banyak kisah di balik berdirinya Padepokan Sastra Tan Tular. Henri, demikian sapaan akrab sehari-hari, mulai mengoleksi buku sejak 1970-an. Buku-buku koleksinya dibeli dari honor menulis artikel di surat kabar nasional dan lokal, serta dari hasil memberi ceramah dan seminar di berbagai tempat.

Pada awalnya, buku-buku itu dibeli hany untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Melihat kenyataan koleksi bukunya semakin menumpuk dan tema yang dihimpun semakin beragam, almarhun Dr.Hasyim Amir, dosen IKIP Malang jurusan Bahasa Inggris (sekarang menjadi Universitas Negeri Malang – UM), menyarankan untuk membuat perpustakaan swasta. Perimbangannya kala itu, di Malang sudah ada perpustakaan daerah, perpustakaan perguruan tinggi negeri dan swasta, dan perpustakaan sekolah. Sedangkan perpustakaan yang dikelola swasta dengan bobot koleksi yang setara dengan koleski perpustakaan daerah atau perpustakaan perguruan tinggi masih jarang dijumpai.

Akhirnya, Bapak dengan dua putri yang sudah dewasa ini memenuhi harapan dan saran Hasyim dengan mendirikan padepokan sastra Tan Tular. Mengapa dinamakan Tan Tular? Ada kisah sendiri di balik penamaan unik ini. Tantular adalah seorang pujangga yang hidup di zaman Majapahit. Nama tan Tular sendiri merupakan sebutan yang diberikan mayarakat pada maanya, karena tak ada seorang pun yang mengetahui nama kecilnya. Dalam berkarya Tan tular tidak tertular oleh gaya penulisan pujangga-pujangga sebelumnya.

Dengan latar belakang di atas, padepokan sastra ini dinamakan Tan Tular. Lebih lanjut Henri menjelakan panjang lebar, perpustakaan yang didirikan lain dari perpustakaan pada umumnya. Jika perpustakaan melayani pembaca dari berbagai kalangan mulai dari anak-anak sampai dewasa, tidak demikian halnya dengan perpustakaan ini. Perpustakaan yang mulai dibuka 2001 ini lebih diutamakan sebagai perpustakaan untuk penelitian, lebih khusus lagi pada disiplin ilmu-ilmu sosial.

Karena satu cabang ilmu menyangkut cabang disiplin ilmu lain, maka arahnya sudah tidak mondisiplin ilmu, tetapi multidisiplin ilmu. Perpustakaan ini ditujukan untuk para peneliti S1, S2, dan S3, sehingga tidak semua orang bisa mengunjungi padepokan sastra tersebut. "Bukan tidak boleh, tetapi bahan pustaka yang tersedia di sini menyangkut disiplin ilmu sosial," demikian ditegaskan olehHenri, dosen sederhana yang ke mana-mama mengendarai motor.

Mahasiswa-mahasiswa dari Malang, Surabaya, Yogyakarta, Universitas Indonesia, dan Institut kesenian Jakarta pernah memanfaatkan padepokan sastra. Yang pasti peneliti dari mana saja dapat memanfaatkannya. Lebih lanjut Henri menegaskan, " Bukan berapa jumlah pengunjung atau peneliti yang pernah memanfaatkan tempat ini, dalam hal ini yang menjadi tolok ukur jelas kuantitas, tetapi dalam satu semester berapacalon sarjana yang akan memanfaatkan padepokan sastra ini."

Sasaran utamanya, seberapa jauh hasil yang dicapai setelah memanfaatkan padepokan astra, calon sarjana bisa lulus dengan cepat dan dengan mutu yang baik pula. Sasaran terakhir, karena multidisiplin ilmu, calon sarjana itu mampu atau tidak menerapkan ilmu yang sudah didapat dan ilmu itu berguna bagi masyarakat dalam arti pragmatik atau teoritik. Selanjutnya, sampai seberapa jauh ilmu itu mampu mengubah cara berpikir, minimal untuk diri sendiri dalam menghadapi kenyataan hidup yang sekarang an yang akan datang. Jadi di sini, yang lebih diutamakan adalah kualitas daripada kuantitas.

Pengunjung hanya boleh membaca di tempat, karena terbatasnya persediaan bahan pustaka yang ada. Calon-calon sarjana yang memanfaatkan buku-buku di sini diharapkan dapat menyumbangkan hasil skripsi, tesis, dan diertasi ke padepokan sastra setelah lulus untuk menambah koleksi. Sampai sejauh ini, padepokan Tan Tular masih non profit. Sudah sejak enam bulan lalu, beberap pustakawan membantu Henri menyusun katalog dan mengolah bahan pustaka pada hari libur.

Dalam waktu dekat, Henri akan melengkapi padepokannya dengan kliping bertema humaniora dan tidak menutup kemungkinan dengan tema yang lebih luas. Guntingan-guntingan koran diambil dari surat kabar harian Kompas, Jawa Pos, Surya, dan beberapa surat kabar harian lain.

MINAT PADA BUDAYA

Di tengah perbincangan, Henri kembali meneima tamu, Tri Wahyuni, seorang dosen tari dari UM. Henri memang punya minat besar pada budaya.Di lantai bawah ada satu ruang setengah terbuka yang memiliki banyak fungsi. Ruang ini bisa menjadi tempat pertemuan dengan para budayawan, paguyuban ludruk se-Malang, dan pertemuan penting lain. Jika rencana mendirikan sanggar tari terwujud, tempat ini berfungsi sebagai ruang latihan menari.

Henri yang pernah aktif sebagai wartawan di Sinar Harapan 1976-1986 dan menjadi redaksi di surat kabar harian Suara Indonesia 1984-1989 yang terbit di Malang sudah menulis 11 buku. Beberapa buku yang ditulis antara lain, Pengantar studi teater (untuk SMA), penerbit Universitas Brawijaya, Malang dan Kidungan Ludruk yang diterbitkan tahun 2004 oleh Pemmerintah Propinsi Jawa Timur bekerjasama dengan Wacana Nusantara (Wicara).

Letak padepokan sastra Tan Tular persis bersebelahan dengan Sumber air PDAM kota malang di Wendit, kabupaten Malang. Dari jendela belakang padepokan yang berada di dapur, pengunjung dapat menyaksikan kolam pemandian Wendit. Saat ini tempat wisata itu masih dalam tahap pemugaran.

Di sela-sela percakapan, Henri menjelaskan asal kata Mendit. Asal musaal kata itu dari bahasa Jawa kuna, Walandhita, yang artinya sumber air yang dihuni oleh para petani penganut agama Hindu dan Budha. Dalam bahasa Jawa baru menjadi Wendit. Mawendit, Ma artinya ke. Jadi, artinya ke Mendit. Sampai akhirnya menjadi Mendit. Sampai sekarang ada yang menyebut dengan Wendit atau Mendit.

Semoga padepokan ini bisa menjadi sumber inspirasi (seperti Wendit) bagi masyarakat.

Majalah Matabaca, vol.6/no.8/April 2008



Review42. BOOK FAIR MAN 3 MALANGMar 31, '08 9:27 PM
for everyone
Category:Other
TOKO BUKU POESTAKA RAKJAT
Book Fair and Scout Competiting diselenggarakan di MAN 3 Malang pada 21-24 Februari 2008. Acara Book Fair dimeriahkan dengan bedah buku biografi EDGAR ALLAN POE DAN SEPILIHAN KARYA yang diterbitkan Interlude Yogyakarta (23/2). Bedah buku disampaikan oleh Kandar dari penerbit Interlude dan pembanding oleh Yuyus, guru bahasa dan sastra Indonesia MTsN I Malang. Acara ini ditutup dengan musikalisasi puisi oleh siswa-siswa MAN 3. Pameran ini diramaikan dengan penjualan buku dari penerbit Gramedia, GIP, Dioma, ESQ, Toko Buku Sinau, dan Toko Buku Poestaka Rakjat.

Majalah Matabaca, vol.6/no 8/April 2008




Review41. TOKO BUKU POESTAKA RAKJATMar 31, '08 9:22 PM
for everyone
Category:Other
Toko buku Poestaka Rakjat terletak di Jalan M.T. Haryono persis berada di seberang Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya, Malang. Toko buku kecil tapi sarat koleksi berbobot ini didirikan Agustus 2006 oleh Nuril. Ada dua komunitas di situ. Pertama, Komunitas Baca yang dibentuk Oktober 2006, kegiatannya diskusi rutin bedah buku setiap hari Minggu. Yang kedua, Komunitas seni dan sastra yang dibentuk Desember 2006. Kegiatan ini menjadi ajang apresiasi puisi (terbanyak) dan cerita pendek dari komunitas-komunitas kecil atau dari komunitas kampus yang diadakan dua minggu sekali pada hari Rabu.

Majalah Matabaca, vol.6/ no.8/ April 2008



Review40. AKU CEPAT MEMBACA, BELAJAR MEMBACA KORANMar 10, '08 2:31 AM
for everyone
Category:Other
Di ruang utama Perpustakaan umum dan arsip kota Malang diadakan pelatihan "Aku cepat membaca, belajar membaca koran" (27/1). Pelatihan ini ditujukan untuk guru TK, SD (terutama kelas 1), orang tua dan calon guru agar mereka mempunyai kemampuan membaca.

Majalah Matabaca vol.6/no.7/Maret 2008

Review39. GEDUNG PERPUSTAKAAN MALANGFeb 11, '08 8:14 PM
for everyone
Category:Other
Gedung Perpustakaan Umum kota Malang semakin cantik dengan cat kombinasi kuning dan oranye. Perpustakaan yang buka setiap hari ini memiliki koleksi mencapai 92.402 buku. Perpustakaan ini menjadi pusat kegiatan berbasis pendidikan.

Majalah Matabaca vol.6/no.6/Februari 2008

Pages:123
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help