Category:Other
Di atas pintu masuk terpampang tulisan timbul pada bilah kayu : Padepokan sastra Tan Tular. Begitu masuk koleksi topeng dari berbagai daerah di Indonesia, beberapa wayang golek dan bilah keris tampak mencolok tersusun rapi di dinding ruang tamu. Beberapa senjata tradisional seperti tombak dan busur juga dipasang di dinding yang lain. Di sebelah kanan pintu masuk berjejer hiasan yang terbuat dari buah kelapa yang dikeringkan membentuk karakter hewan.



Masuk lebih dalam lagi, ada ruang yang tidak begitu luas. Di sinilah letak pusat padepokan sastra ini. Ruangan ini dipenuhi dengan rak dan lemari buku.Di tempat inilah tersimpan kurang lebih 6000 buku kleksi Dr. Henri Supriyanto, M.Hum. Koleksi bukunya terdiri dari buku umum, kajian budaya, dramaturgi, sosiologi sastra, dan masih ribuan judul buku lain. Buku-buku yang cukup menyita perhatian, seperti Kumpulan Sastra Lisan Jawa Timur dan buku Riset Budaya Using. Di sudut lain kumulan kaset ludruk disusun rapi. Judul-judul yang ada, misalnya Pak Sakerah, Sawunggaling, Joko Sambung, Sudamala, dan Geger Pabrik Kedawung.



Ketika penulis menemuinya siang itu, dosen di Fakultas Bahasa dan Seni jurusan Bahasa dan sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini seang menrima mahasiswanya. Banyak kisah di balik berdirinya Padepokan Sastra Tan Tular. Henri, demikian sapaan akrab sehari-hari, mulai mengoleksi buku sejak 1970-an. Buku-buku koleksinya dibeli dari honor menulis artikel di surat kabar nasional dan lokal, serta dari hasil memberi ceramah dan seminar di berbagai tempat.

Pada awalnya, buku-buku itu dibeli hany untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Melihat kenyataan koleksi bukunya semakin menumpuk dan tema yang dihimpun semakin beragam, almarhun Dr.Hasyim Amir, dosen IKIP Malang jurusan Bahasa Inggris (sekarang menjadi Universitas Negeri Malang – UM), menyarankan untuk membuat perpustakaan swasta. Perimbangannya kala itu, di Malang sudah ada perpustakaan daerah, perpustakaan perguruan tinggi negeri dan swasta, dan perpustakaan sekolah. Sedangkan perpustakaan yang dikelola swasta dengan bobot koleksi yang setara dengan koleski perpustakaan daerah atau perpustakaan perguruan tinggi masih jarang dijumpai.

Akhirnya, Bapak dengan dua putri yang sudah dewasa ini memenuhi harapan dan saran Hasyim dengan mendirikan padepokan sastra Tan Tular. Mengapa dinamakan Tan Tular? Ada kisah sendiri di balik penamaan unik ini. Tantular adalah seorang pujangga yang hidup di zaman Majapahit. Nama tan Tular sendiri merupakan sebutan yang diberikan mayarakat pada maanya, karena tak ada seorang pun yang mengetahui nama kecilnya. Dalam berkarya Tan tular tidak tertular oleh gaya penulisan pujangga-pujangga sebelumnya.

Dengan latar belakang di atas, padepokan sastra ini dinamakan Tan Tular. Lebih lanjut Henri menjelakan panjang lebar, perpustakaan yang didirikan lain dari perpustakaan pada umumnya. Jika perpustakaan melayani pembaca dari berbagai kalangan mulai dari anak-anak sampai dewasa, tidak demikian halnya dengan perpustakaan ini. Perpustakaan yang mulai dibuka 2001 ini lebih diutamakan sebagai perpustakaan untuk penelitian, lebih khusus lagi pada disiplin ilmu-ilmu sosial.

Karena satu cabang ilmu menyangkut cabang disiplin ilmu lain, maka arahnya sudah tidak mondisiplin ilmu, tetapi multidisiplin ilmu. Perpustakaan ini ditujukan untuk para peneliti S1, S2, dan S3, sehingga tidak semua orang bisa mengunjungi padepokan sastra tersebut. "Bukan tidak boleh, tetapi bahan pustaka yang tersedia di sini menyangkut disiplin ilmu sosial," demikian ditegaskan olehHenri, dosen sederhana yang ke mana-mama mengendarai motor.

Mahasiswa-mahasiswa dari Malang, Surabaya, Yogyakarta, Universitas Indonesia, dan Institut kesenian Jakarta pernah memanfaatkan padepokan sastra. Yang pasti peneliti dari mana saja dapat memanfaatkannya. Lebih lanjut Henri menegaskan, " Bukan berapa jumlah pengunjung atau peneliti yang pernah memanfaatkan tempat ini, dalam hal ini yang menjadi tolok ukur jelas kuantitas, tetapi dalam satu semester berapacalon sarjana yang akan memanfaatkan padepokan sastra ini."

Sasaran utamanya, seberapa jauh hasil yang dicapai setelah memanfaatkan padepokan astra, calon sarjana bisa lulus dengan cepat dan dengan mutu yang baik pula. Sasaran terakhir, karena multidisiplin ilmu, calon sarjana itu mampu atau tidak menerapkan ilmu yang sudah didapat dan ilmu itu berguna bagi masyarakat dalam arti pragmatik atau teoritik. Selanjutnya, sampai seberapa jauh ilmu itu mampu mengubah cara berpikir, minimal untuk diri sendiri dalam menghadapi kenyataan hidup yang sekarang an yang akan datang. Jadi di sini, yang lebih diutamakan adalah kualitas daripada kuantitas.

Pengunjung hanya boleh membaca di tempat, karena terbatasnya persediaan bahan pustaka yang ada. Calon-calon sarjana yang memanfaatkan buku-buku di sini diharapkan dapat menyumbangkan hasil skripsi, tesis, dan diertasi ke padepokan sastra setelah lulus untuk menambah koleksi. Sampai sejauh ini, padepokan Tan Tular masih non profit. Sudah sejak enam bulan lalu, beberap pustakawan membantu Henri menyusun katalog dan mengolah bahan pustaka pada hari libur.

Dalam waktu dekat, Henri akan melengkapi padepokannya dengan kliping bertema humaniora dan tidak menutup kemungkinan dengan tema yang lebih luas. Guntingan-guntingan koran diambil dari surat kabar harian Kompas, Jawa Pos, Surya, dan beberapa surat kabar harian lain.

MINAT PADA BUDAYA

Di tengah perbincangan, Henri kembali meneima tamu, Tri Wahyuni, seorang dosen tari dari UM. Henri memang punya minat besar pada budaya.Di lantai bawah ada satu ruang setengah terbuka yang memiliki banyak fungsi. Ruang ini bisa menjadi tempat pertemuan dengan para budayawan, paguyuban ludruk se-Malang, dan pertemuan penting lain. Jika rencana mendirikan sanggar tari terwujud, tempat ini berfungsi sebagai ruang latihan menari.

Henri yang pernah aktif sebagai wartawan di Sinar Harapan 1976-1986 dan menjadi redaksi di surat kabar harian Suara Indonesia 1984-1989 yang terbit di Malang sudah menulis 11 buku. Beberapa buku yang ditulis antara lain, Pengantar studi teater (untuk SMA), penerbit Universitas Brawijaya, Malang dan Kidungan Ludruk yang diterbitkan tahun 2004 oleh Pemmerintah Propinsi Jawa Timur bekerjasama dengan Wacana Nusantara (Wicara).

Letak padepokan sastra Tan Tular persis bersebelahan dengan Sumber air PDAM kota malang di Wendit, kabupaten Malang. Dari jendela belakang padepokan yang berada di dapur, pengunjung dapat menyaksikan kolam pemandian Wendit. Saat ini tempat wisata itu masih dalam tahap pemugaran.

Di sela-sela percakapan, Henri menjelaskan asal kata Mendit. Asal musaal kata itu dari bahasa Jawa kuna, Walandhita, yang artinya sumber air yang dihuni oleh para petani penganut agama Hindu dan Budha. Dalam bahasa Jawa baru menjadi Wendit. Mawendit, Ma artinya ke. Jadi, artinya ke Mendit. Sampai akhirnya menjadi Mendit. Sampai sekarang ada yang menyebut dengan Wendit atau Mendit.

Semoga padepokan ini bisa menjadi sumber inspirasi (seperti Wendit) bagi masyarakat.

Majalah Matabaca, vol.6/no.8/April 2008



Add a Comment
How would you rate this thing? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help