Sisil termenung seorang diri di teras depan rumahnya sambil memandang bunga mawar merah yang seang mekar dalam pot milik mama. Semilir angin yang menerpa tubuh seolah tak dirasakannya. Sudah setengah menit berlalu ia melamun sambil bertopang dagu.
Hari ini adalah hari ke tujuh masa liburan sekolahnya. Masih empat hari lagi baru ia masuk sekolah kembali. Selama ini sudah setumpuk novel karya Mira W., S. Mara Gd., Lima Sekawan, sampai komik Tintin telah habis dibacanya. Kini ia tak tahu lagi apa yang akan dilakukannya.
”Ah, seandainya Rina tidak berlibur ke rumah pamannya di luar kota tentu aku bisa bermain-main ke rumahnya. Aku tidak terpuruk di rumah dan kesepian seperti sekarang ini,” pikir Sisil dalam lamunannya. Rina adalah teman dekat Sisil. Sudah dua tahun mereka bersahabat sejak pertama kali masuk di sebuah SMP swasta.
Ia masih menatap bunga mawar ketka tiba-tiba terlintas sebuah ide dalam benaknya.
”Daripada berdiam diri terus seperti ini lebih baik aku menyiram bunga-bunga dan tanaman peliharaan Mama,” kata Sisil dalam hati. Lalu ia beranjak dari kursi dan bergegas ke belakang rumah. Ia mengambil gayung dan ember. Dibawanya kembali benda-benda itu ke teras.
Saat melintas di samping rumah, mama Sisil yang seang memasak terheran-herab melihat sikap anaknya.
”Apa yang akan dilakukan anakku? Kok tumben, anakku jadi rajin begini?” gumam mama Sisil.
Lewat kisi-kisi jendela yang terbuka lebar, mama menegur Sisil, ”Sil, kamu mau apa bawa-bawa ember dan gayung?”
”Sisil mau menyiram tanaman, Ma. Daripada bengong aja ngga ada yang dikerjakan,” jawab Sisil sambil berlalu. Mama hanya mengangkat bahu.
”Ya sudah, sana!” sahut mama Sisil.
Sisil asyik menyiram tanaman sambil bersenandung. Bunga mawar, tanaman suplir di bawah jendela kamar Sisil, bunga nusa indah, semua tak ada yang lewat disiram Sisil.
”Senangnya memberi kehidupan pada tanaman-tanaman yang diciptakan Tuhan untuk melengkapi kehidupan manusia,” pikir Sisil.
”Pos!” Tiba-tiba pak pos berteriak.
Sisil menoleh, menghentikan sejenak pekerjaannya kemudian menghampiri pak pos yang mengangsurkan dua pucuk surat.
”Terima kasih, Pak.”
Sisil melihat sampul surat. Satu surat untuk mama dari Tante Dina dan satu dari Rina sahabatnya. Sisil masuk dan menuju dapur.
”Ma, surat dari Tante Dina,” ujar Sisil sambil menyodorkan surat.
Mama mebuka amplop dan dibacanya surat dari adiknya yang paling keil. Mama tersenyum.
”Wah, Tante Dina sekarang berada diAustralia meneruskan studi ke jenjang S2. tante Dina titip salam untukmu.” Sisil mengangguk.
”Ma, itu prangkonya bagus,” sambil menunjuk prangko di atas amplop yang dipegang mama,”boleh Sisil ambil?”
”Hmm....boleh. Tapi untuk mengambil prangko ada caranya sendiri, Sil. Tidak bisa langsung dilepas dari amplopnya.”
”Kok gitu sih, Ma?”
”Iya, kalau langsung dilepas akan merusak prangko.”
”Lalu caranya gimana, Ma?”
”Coba ambilkan mangkuk lalu isi dengan air. Airnya cukupan saja, tidak usah terlalu penuh.”
Sisil kembali membawa mangkuk yang dipesan Mama, kemudian ia melanjutkan. ”Setelah itu guntingsekeliling prangko dan jangan sampai kena tepi prangko. Sisakan sekitar dua milimeter dari pirnggir prangko. Setelah lepas, rendam dalam air kira-kira lima menit sampai kertas amplop terpisah dari prangko/ Prangko dikeringkan dengan kertas penghisap kalau ada. Biarkan keing sendiri. Tapi jangan diseterika atau dijemur di bawah terik matahari,” kata mama panjang lebar. Sisil yang sejak tadi memperhatikan mama manggut-manggut.
”Rumit juga ya, Ma. Sisil bingung.”
”Kalau kamu sudah terbiasa kan jadi gampang. Oya, mama punya sesuatu untuk Sisil. Yuk, ke kamar kerja papa sambil menunggu prangko kering.”
Sisil mengekor di belakang mama menuju ruang kerja papa. Mama mengambil tiga album prangko berukuran besar di salah satu rak buku.
”Nah Sil, ini untukmu,” kata Mama sambil menyodorkan album-album itu kepada Sisil, ”Mama wariskan untukmu.”
Sisil membuka salah satu album.Ber,acam-macam prangko dari dalam dan luar negeri tersusun rapi.
”Sejak kapan Mama mrngumpulkan prangko?” tanya Sisil ingin tahu.
”Sejak Mama berusia kira-kira tiga belas athun. Sekarang Mama sudah tidak ada waktu merawatnya.”
”Tapi Ma, yang ini kok seperti masih baru?” tanya Sisil lebih lanjut menunjuk salah satu prangko dalam album.
”Prangko yang ini namanya prangko mint artinta prangko yang belum dipakai. Kalau prangko yang tadi disebut prangko used artinya prangko bekas atau prangko yang sudah dipakai.”
”Cara merawatnya gimana, Ma?”
”Untuk merawat prangko memang harus telaten apalagi di Indonesia yang punya udara lembab. Prangko yang langsung disimpan dalam album lama kelamaan akan timbul bintik kuning. Untuk menghindarinya prangko harus dibungkus dengan plastik khusus, plastik OPP namanya. Seperti ini,” ujar Mama mengambil sebuah prangko yang tlelah dibungkus plastik OPP dan menunjukkannya pada Sisil. ”Lagipula bila pada prangko timbul bintik kuning itu berarti sudah menurunkan harganya,”lanjut Mama.
”Oh, gitu. Susah ya, Ma,”sahut Sisil.
"Memang, tapi nantinya kamu akan tahu. Kapan-kapan Mama ajarin lagi cara-cara merawat prangko. Oya, satu hal lagi sebelum Mama lupa. Album prangko harus disimpan dalam keadaan tegak atau berdiri, jangan ditidurkan karena kalau tertindih buku-buku lain akan mebuat prangko lengket pada album atau garis-garis album kan membekas di belakang prangko.”
”Ya Ma, akan Sisil ingat.”
”Sisil tadi sudah selesai menyiram?”
”Wah belum. Sampai lupa, habis terlalu asyik sih, Ma.”
”Kalau memang belum selesai, lanjutkan lagi. Prangko yang dikeringkan tadi biar Mama yang urus.”
”Terima kasih, Ma. Mama sudah mewariskan dan mempercayakan pada Sisil untuk merawat koleksi Mama,” kata Sisil sambil mengecup pipi Mama. *****
(Majalah Sahabat Pena no. 384, Oktober 2000)