Hari ini, lelaki itu menganggap dirinya sebagai orang yang paling malang sedunia. Dia tak bisa berbuat apa-apa, dia kecewa, sangat kecewa. Sejak kedatangannya tadi, lelaki itu sudah uring-uringan. Rambutnya yang agak panjang tampak berantakan tanpa seuntuhan sisir. ketombe bertebaran di sela-sela rambutnya yang kusut.
"Aduuhhh........piye iki!" teriaknya sambil menyibak rambutnya.
Beberapa orang teman lelaki itu - yang hadir di tempat itu - bengong. Apa yang dibicarakan lelaki itu, tak ada ujung pangkalnya. Tak biasanya lelaki itu mengomel, datang dengan wajah keruh dan rambut kusut masai. Dia lelaki yang ceria. Tapi pagi ini?
Salah seorang teman lelaki itu bertanya,"Ada masalah apa?"
"Aku sudah berusaha mengutak-atik hard diks komputer, tapi tetap tak bisa jalan. Bayangkan, sejak komputer itu datang siang kemarin, aku langsung memeriksa komputer itu sampai jam sepuluh malam. Tetap saja tak bisa! Au sudah lapor ke bos besar bahwa aku tak mampu membereskan komputer itu. Bos besar menjawab bahwa itu bukan kesalahanku, tapi kesalahan mereka - yang jual komputer."
"Kalau begitu, ya sudah. Jangan dipikir lagi," jawab salah seorang teman lelaki itu.
"Biasanya aku sanggup menyelesaikan masalah. Masa masalah sepele seperti ini tak bisa kuselesaikan?" Lelaki itu tetap ngotot pada pendiriannya.
"Aaddduuuuuhhh.......aku mau bunuh diri saja!" teriak lelaki itu. Ia mengambil seutas tali rafia - yang entah dia dapat dari mana - tali itu dililitkan ke jempol kaki kirinya. Diambilnya korek api dari saku bajunya, lalu menyalakan geretan itu seolah-olah henak membakar sisa tali rafia yang terjuntai.
"Hei, jangan mati dulu. Kalau mati sekarang, masih banya pekerjaan yang belum kamu slesaikan dan utangmu belum dilunasi di dunia ini. Hidup itu indah. Hidup di dunia untuk dihayati dan dinikmati. Halangan bukan rintangan yang harus dihindari tapi dihadapi."
"Aku merasa sudah mengecewakan banyak orang dan teman-teman. Aku sudah lama sekali tiak merasa sedih dan kecewa seperti sekarang. Selama ini hidupku bahagia terus,"ujar lelaki itu.
"Nah, sekarang kena batunya. Hidup tidak selalu bahagia, hidup tidak selalu sempurna, pasti ada kekurangan. Sudahlah, masalah begitu saja dipikir panjang. Komputer itu termasuk cacat produk. selama masih ada garansi, bisa ditukar kebali ke tokonya," timpal temannya yang lain.
Walaupun sudah diberi penjelasan panjang lebar oleh teman-temannya, lelaki itu belum bisa menerima kegagalannya. Lelaki itu masih tetap uring-uringan.
*********
Sampai di tempat kos, lelaki itu sudah sangat capai. bau leringat di sekujur tubuh. Jarum jam pendek menunjuk ke angka tujuh lewat sedikit dan jarum jam panjang menunjuk ke angka lima. Perutnya sudah kenyang. Lelaki itu berbaring di atas ranjang sekedar melepas penat sejenak.
Lelaki itu membiarkan pikirannya mengembara. Diam dalam hening. Hampir saja kelopak matanya terpejam. Perlahan-lahan dia memaksakan diri bangkit dari ranjang. Ah ya, aku harus mandi dulu, pikirnya.
Di dalam kamar mandi lelaki itu memulai ritual mandi. Diambilnya satu gayung air dan diguyur ke atas kepalanya sampai membasahi rambut dan seluruh tubuhnya. Dua kali dia melakukan hal yang sama. Air yang mengalir dingin lewat permukaan kulit tak dirasakan olehnya, yang tersisa hanyalah kesegaran raga, pikiran dan jiwanya. Aha, ternyata beban pikiranku sedikit demi sedikit sirna. Akan lebih baik lagi aku benar-benar mandi, bukan sekedar mandi bebek. itu pikiran yang ada di benak lelaki itu.
Selanjutnya dia ambil satu botol sampo. Cairan pembersih rambut itu dituang ke atas telapak tangan kirinya, kemudian digosok-gosokkan di atas rambutnya, sampai menyentuh kulit kepalanya. Buih sampo menutupi rambutnya. Berdasarkan iklan di televisi dan media cetak, sampo itu memberi gizi, menjaga dan mengembalikan perlindungan alami rambut. Membuat setiap helai rambut sehat berkilau, lembut, mengembang dan bercahaya. Pemakaian sampo secara teratur membua ketombe hilang.
Itu semua menurut iklan, membujuk konsumen supaya membeli produk itu. Karena kata-kata manis dan bombastis, konsumen ada yang terbujuk, produsen berhasil menggaet konsumen membeli produk yang diiklankan. Hasilnya? Sering tidak sesuai dengan yang diiklankan.
Seandainya aku punya uang lebih, aku akan creambath di salon. Di sana rambutku akan dikeramasi oleh tangan-tangan terampil pegawai salon sambil dipijat-pijat sedikit. Dengan setengah berbaring, rambut dikeramasi dan dipijat....wuuiiihhhh...perlakuan seperti itu yang bikin ngantuk. Selesai keramas, rambut ditarik-tarik sedikit, dipijat sana-sini, dirawat, diberi vitamin supaya sehat.
Seandainya aku mandi di kamar mandi kering, aku akan berbaring di bath tub yang penuh air sabun. berenam di dalam air hangat sambil mendengarkan musik, mataku terpejam. Berendam setengah jam sudah cukup. Nikmat sekali.
"Aaaagghhh...hanya khayalan," ucap lelaki itu pendek. Dibuangnya jauh-jauh segala khayalan yang menggayuti otaknya. Nyatanya aku di sini, di kamar mandi basah, katanya dalam hati. Lelaki itu melanjutkan kembali ritual mandinya. Kali ni seluruh daki yang melekat di permukaan kulit digosok dari sela-sela jari kaki sampai muka. Hasilnya memang banyak daki hitam yang berhasil diangkat. Sesudah itu seluruh badan digosok dengan sabun mandi.
**********
Rambut lelaki itu masih basah. Ada yang lain di raut wajahnya. Benar, paras mukanya sudah segar dan tidak kusut masai seperti pagi, siang, sore an sesaat sebelum mandi tadi. Keceriaan sudah kembali menghias di raut wajahnya. Sensasi mandi dan keramas sudah membuatnya berubah seperti sedia kala.
Diputarnya lagu-lagu Mozart : Serenade in B-Dur >> Gran Partita dan Symphonie nr.40 in G-Moll, sampai alunan musik terakhir. Yeah, lelaki itu tak paham bahasa jerman, namun harmoni musik klasik dari suara klarinet dan horn mampu dinikmati sepenuh hati. Sambil mendengarkan musik, lelaki itu membaca novel Di tepi Sungai Piedra aku duduk dan tersedu karya Paulo Coelho.
Matanya sudah lelah. lelaki itu meletakkan novel di atas meja, alunan musik klasik Mozart sudahselesai sejak tadi. Sesaat sebelum terlelap, lelaki itu termenung. Pertanyaan tentang sebab musabab mengapa sejak kemarin malam dan sepanjang hari ini uring-uringan sudah ada jawabnya. Lelaki itu tersenyum sendiri. Aku memasang target terlalu tinggi. Aku merasa mampu menyelesaikan masalah 100%, padahal aku hanya sanggup 60% saja. Dan yang terpenting, masalah lain yang sebenarnya sangat sepele : aku belum keramas sejak empat hari lalu!
Surya, 6 April 2008