vita's posts with tag: baca tulis
Komunitas Pecinta Buku Pasuruan (KPBP) berdiri 2 Mei 2008 dengan sekretariat di Ceria Book Store (CBS) Jl. Diponegoro 26 Pasuruan. Keanggotaannya terbuka untuk seluruh pecinta buku. Ide membentuk KPBP datang dari sesama pecinta buku yang mempunyai visi memajukan Pasuruan dengan budaya membaca. KPBP akan berkoordinasi untuk melakukan langkah nyata ke depan.
Majalah Matabaca vol.6/no.10/Juni 2008
Di atas pintu masuk terpampang tulisan timbul pada bilah kayu : Padepokan sastra Tan Tular. Begitu masuk koleksi topeng dari berbagai daerah di Indonesia, beberapa wayang golek dan bilah keris tampak mencolok tersusun rapi di dinding ruang tamu. Beberapa senjata tradisional seperti tombak dan busur juga dipasang di dinding yang lain. Di sebelah kanan pintu masuk berjejer hiasan yang terbuat dari buah kelapa yang dikeringkan membentuk karakter hewan.
Masuk lebih dalam lagi, ada ruang yang tidak begitu luas. Di sinilah letak pusat padepokan sastra ini. Ruangan ini dipenuhi dengan rak dan lemari buku.Di tempat inilah tersimpan kurang lebih 6000 buku kleksi Dr. Henri Supriyanto, M.Hum. Koleksi bukunya terdiri dari buku umum, kajian budaya, dramaturgi, sosiologi sastra, dan masih ribuan judul buku lain. Buku-buku yang cukup menyita perhatian, seperti Kumpulan Sastra Lisan Jawa Timur dan buku Riset Budaya Using. Di sudut lain kumulan kaset ludruk disusun rapi. Judul-judul yang ada, misalnya Pak Sakerah, Sawunggaling, Joko Sambung, Sudamala, dan Geger Pabrik Kedawung.
Ketika penulis menemuinya siang itu, dosen di Fakultas Bahasa dan Seni jurusan Bahasa dan sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini seang menrima mahasiswanya. Banyak kisah di balik berdirinya Padepokan Sastra Tan Tular. Henri, demikian sapaan akrab sehari-hari, mulai mengoleksi buku sejak 1970-an. Buku-buku koleksinya dibeli dari honor menulis artikel di surat kabar nasional dan lokal, serta dari hasil memberi ceramah dan seminar di berbagai tempat.
Pada awalnya, buku-buku itu dibeli hany untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Melihat kenyataan koleksi bukunya semakin menumpuk dan tema yang dihimpun semakin beragam, almarhun Dr.Hasyim Amir, dosen IKIP Malang jurusan Bahasa Inggris (sekarang menjadi Universitas Negeri Malang – UM), menyarankan untuk membuat perpustakaan swasta. Perimbangannya kala itu, di Malang sudah ada perpustakaan daerah, perpustakaan perguruan tinggi negeri dan swasta, dan perpustakaan sekolah. Sedangkan perpustakaan yang dikelola swasta dengan bobot koleksi yang setara dengan koleski perpustakaan daerah atau perpustakaan perguruan tinggi masih jarang dijumpai.
Akhirnya, Bapak dengan dua putri yang sudah dewasa ini memenuhi harapan dan saran Hasyim dengan mendirikan padepokan sastra Tan Tular. Mengapa dinamakan Tan Tular? Ada kisah sendiri di balik penamaan unik ini. Tantular adalah seorang pujangga yang hidup di zaman Majapahit. Nama tan Tular sendiri merupakan sebutan yang diberikan mayarakat pada maanya, karena tak ada seorang pun yang mengetahui nama kecilnya. Dalam berkarya Tan tular tidak tertular oleh gaya penulisan pujangga-pujangga sebelumnya.
Dengan latar belakang di atas, padepokan sastra ini dinamakan Tan Tular. Lebih lanjut Henri menjelakan panjang lebar, perpustakaan yang didirikan lain dari perpustakaan pada umumnya. Jika perpustakaan melayani pembaca dari berbagai kalangan mulai dari anak-anak sampai dewasa, tidak demikian halnya dengan perpustakaan ini. Perpustakaan yang mulai dibuka 2001 ini lebih diutamakan sebagai perpustakaan untuk penelitian, lebih khusus lagi pada disiplin ilmu-ilmu sosial.
Karena satu cabang ilmu menyangkut cabang disiplin ilmu lain, maka arahnya sudah tidak mondisiplin ilmu, tetapi multidisiplin ilmu. Perpustakaan ini ditujukan untuk para peneliti S1, S2, dan S3, sehingga tidak semua orang bisa mengunjungi padepokan sastra tersebut. "Bukan tidak boleh, tetapi bahan pustaka yang tersedia di sini menyangkut disiplin ilmu sosial," demikian ditegaskan olehHenri, dosen sederhana yang ke mana-mama mengendarai motor.
Mahasiswa-mahasiswa dari Malang, Surabaya, Yogyakarta, Universitas Indonesia, dan Institut kesenian Jakarta pernah memanfaatkan padepokan sastra. Yang pasti peneliti dari mana saja dapat memanfaatkannya. Lebih lanjut Henri menegaskan, " Bukan berapa jumlah pengunjung atau peneliti yang pernah memanfaatkan tempat ini, dalam hal ini yang menjadi tolok ukur jelas kuantitas, tetapi dalam satu semester berapacalon sarjana yang akan memanfaatkan padepokan sastra ini."
Sasaran utamanya, seberapa jauh hasil yang dicapai setelah memanfaatkan padepokan astra, calon sarjana bisa lulus dengan cepat dan dengan mutu yang baik pula. Sasaran terakhir, karena multidisiplin ilmu, calon sarjana itu mampu atau tidak menerapkan ilmu yang sudah didapat dan ilmu itu berguna bagi masyarakat dalam arti pragmatik atau teoritik. Selanjutnya, sampai seberapa jauh ilmu itu mampu mengubah cara berpikir, minimal untuk diri sendiri dalam menghadapi kenyataan hidup yang sekarang an yang akan datang. Jadi di sini, yang lebih diutamakan adalah kualitas daripada kuantitas.
Pengunjung hanya boleh membaca di tempat, karena terbatasnya persediaan bahan pustaka yang ada. Calon-calon sarjana yang memanfaatkan buku-buku di sini diharapkan dapat menyumbangkan hasil skripsi, tesis, dan diertasi ke padepokan sastra setelah lulus untuk menambah koleksi. Sampai sejauh ini, padepokan Tan Tular masih non profit. Sudah sejak enam bulan lalu, beberap pustakawan membantu Henri menyusun katalog dan mengolah bahan pustaka pada hari libur.
Dalam waktu dekat, Henri akan melengkapi padepokannya dengan kliping bertema humaniora dan tidak menutup kemungkinan dengan tema yang lebih luas. Guntingan-guntingan koran diambil dari surat kabar harian Kompas, Jawa Pos, Surya, dan beberapa surat kabar harian lain.
MINAT PADA BUDAYA
Di tengah perbincangan, Henri kembali meneima tamu, Tri Wahyuni, seorang dosen tari dari UM. Henri memang punya minat besar pada budaya.Di lantai bawah ada satu ruang setengah terbuka yang memiliki banyak fungsi. Ruang ini bisa menjadi tempat pertemuan dengan para budayawan, paguyuban ludruk se-Malang, dan pertemuan penting lain. Jika rencana mendirikan sanggar tari terwujud, tempat ini berfungsi sebagai ruang latihan menari.
Henri yang pernah aktif sebagai wartawan di Sinar Harapan 1976-1986 dan menjadi redaksi di surat kabar harian Suara Indonesia 1984-1989 yang terbit di Malang sudah menulis 11 buku. Beberapa buku yang ditulis antara lain, Pengantar studi teater (untuk SMA), penerbit Universitas Brawijaya, Malang dan Kidungan Ludruk yang diterbitkan tahun 2004 oleh Pemmerintah Propinsi Jawa Timur bekerjasama dengan Wacana Nusantara (Wicara). Letak padepokan sastra Tan Tular persis bersebelahan dengan Sumber air PDAM kota malang di Wendit, kabupaten Malang. Dari jendela belakang padepokan yang berada di dapur, pengunjung dapat menyaksikan kolam pemandian Wendit. Saat ini tempat wisata itu masih dalam tahap pemugaran.
Di sela-sela percakapan, Henri menjelaskan asal kata Mendit. Asal musaal kata itu dari bahasa Jawa kuna, Walandhita, yang artinya sumber air yang dihuni oleh para petani penganut agama Hindu dan Budha. Dalam bahasa Jawa baru menjadi Wendit. Mawendit, Ma artinya ke. Jadi, artinya ke Mendit. Sampai akhirnya menjadi Mendit. Sampai sekarang ada yang menyebut dengan Wendit atau Mendit.
Semoga padepokan ini bisa menjadi sumber inspirasi (seperti Wendit) bagi masyarakat.
Majalah Matabaca, vol.6/no.8/April 2008
TOKO BUKU POESTAKA RAKJAT Book Fair and Scout Competiting diselenggarakan di MAN 3 Malang pada 21-24 Februari 2008. Acara Book Fair dimeriahkan dengan bedah buku biografi EDGAR ALLAN POE DAN SEPILIHAN KARYA yang diterbitkan Interlude Yogyakarta (23/2). Bedah buku disampaikan oleh Kandar dari penerbit Interlude dan pembanding oleh Yuyus, guru bahasa dan sastra Indonesia MTsN I Malang. Acara ini ditutup dengan musikalisasi puisi oleh siswa-siswa MAN 3. Pameran ini diramaikan dengan penjualan buku dari penerbit Gramedia, GIP, Dioma, ESQ, Toko Buku Sinau, dan Toko Buku Poestaka Rakjat.
Majalah Matabaca, vol.6/no 8/April 2008
Toko buku Poestaka Rakjat terletak di Jalan M.T. Haryono persis berada di seberang Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya, Malang. Toko buku kecil tapi sarat koleksi berbobot ini didirikan Agustus 2006 oleh Nuril. Ada dua komunitas di situ. Pertama, Komunitas Baca yang dibentuk Oktober 2006, kegiatannya diskusi rutin bedah buku setiap hari Minggu. Yang kedua, Komunitas seni dan sastra yang dibentuk Desember 2006. Kegiatan ini menjadi ajang apresiasi puisi (terbanyak) dan cerita pendek dari komunitas-komunitas kecil atau dari komunitas kampus yang diadakan dua minggu sekali pada hari Rabu.
Majalah Matabaca, vol.6/ no.8/ April 2008
Di ruang utama Perpustakaan umum dan arsip kota Malang diadakan pelatihan "Aku cepat membaca, belajar membaca koran" (27/1). Pelatihan ini ditujukan untuk guru TK, SD (terutama kelas 1), orang tua dan calon guru agar mereka mempunyai kemampuan membaca.
Majalah Matabaca vol.6/no.7/Maret 2008
Gedung Perpustakaan Umum kota Malang semakin cantik dengan cat kombinasi kuning dan oranye. Perpustakaan yang buka setiap hari ini memiliki koleksi mencapai 92.402 buku. Perpustakaan ini menjadi pusat kegiatan berbasis pendidikan.
Majalah Matabaca vol.6/no.6/Februari 2008
Setiap tahun Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis Negeri Malang (UKMP UM) mengadakan pameran karya. Tahun ini gelar karya diadakan di Joglo Perpustakaan UM (26-29/11). mengambil tema "Titian Penulis Muda", mereka memajang, menerbitkan, sekaligus menjual sendiri karya-karya terbaik yang mereka hasilkan. Buku-buku kumpulan puisi, cerita pendek, dan esai dipajang di rak khusus. Acara ini diisi dengan pelatihan jurnalistik, menulis cerpen dan puisi, dan sarasehan ekonomi kerakyatan. Saat pembukaan dan penutupan diisi dengan pertunjukan Teater Pelangi dari fakultas sastra. Selain acara di atas, ada lomba menulis cerpen untuk SMA se-Malang dengan tema "Dunia abu-abu di balik putih abu-abu".
Majalah Matabaca, vol.6/no.5/Januari 2008
Kebiasaan membaca dimulai dari lingkungan rumah. Orang tua yang memahami kebutuhan anak akan memberikan akses yang seluas-luasnya dengan buku sebagai sumber pengetahuan dan sebagai bagian dari kebutuhan utama. Membacakan cerita untuk anak atau mendongeng menjadi langkah awal orang tua untuk memperkenalkan buku kepada anak yang belum terampil membaca. Buku-buku yang dapat dibacakan disesuaikan dengan tingkat usia dan perkembangan pengtahuan anak.
Untuk memelihara minat baca yang sudah tumbuh dan menjadikan membaca sebagi suatu budaya, orang tua dapat mengajak anak membeli buku di toko buku dan pameran buku.
Bila akses terhadap buku menjadi kendala karena masalah harga, orang tua bisa mempunyai pilihan lain dengan membawa anak ke perpustakaan umum dan taman bacaan yang memenuhi syarat sebagai tempat membaca yang bermanfaat.
Idealnya perpustakaan umum (dan taman bacaan) disebut sebagai pusat minat baca sebagai sarana yang penting dan menunjang pendidikan dan pengajaran.
Peran guru di sekolah juga tak kalah pentingnya. Guru tidak hanya mengajar membaca, tetapi juga memberi dorongan kepada anak untuk menyukai kegiatan membaca dan menjadi pembaca yang baik.
Menuju budaya menulis Kemampuan menulis sudah diperoleh sejak kecil ketika anak mulai sekolah, sedang keterampilan menulis aalah hal yang lain lagi. Tak banyak orang tua yang mendorong anak gemar dan berlatih menulis karena terbentur pada pertanyaan : mungkinkah hidup layak dengan menulis?
Jika pertanyaan itu yang diajukan, maka pengertian yang paling mendekati dari keterampilan menulis adalah mencetak penulis, padahal keterampilan tak melulu hanya untuk menjadi penulis, karena menulis juga untuk mengembangkan cara berpikir yang baik dan runtut.
Mary Leonhardt dalam bukunya 99 cara menjadikan anak Anda bergairah menulis mengungkap beberapa alasan mengapa gemar menulis itu penting.
Rasa suka terhadap suatu kegiatan menjadi prasyarat untuk keberhasilan di bidang apa pun. Salah satunya dalam hal menulis. Anak-anak yang membenci dan takut paa kegiatan menulis kecil kemungkinan mereka bisa menulis dengan baik. Anak yang terbiasa menulis mandiri saja yang akan belajar cara menulis dengan fokus yang tajam dan jelas. Tulisan yang hidup, layak baca dan sangat terfokus tidak banyak terdapat dalam bidang akademis. Ketika dewasa kelak mereka jauh lebih siap menyajikan gagasan yang jernih dan kuat.
Dengan pengalaman mengajar lebih dari 30 tahun, Mary memperhatikan bahwa anak-anak yang suka menulis dan sering menulis untuk iseng lebih memahami hal-hal yang dibacanya. Anak-anak yang gemar membaca akan memperoleh rasa kebahasaan tertulis yang kemudian mengalir ke dalam tulisan mereka. Anak-anak yang menulis cerita dan puisi serta memoar akan membaca dengan ketelitian dan wawasan yang jauh lebih besar.
Seperti sudah diubgkap sebelumnya, menulis dimulai dari membaca. Seorang pembaca – yang baik sekali pun – belum tentu akan menulis dalam arti sempit menghasilkan tulisan untuk dirinya sendiri atau dalam arti luas tulisannya untuk dibaca banyak orang (dipublikasikan). Seorang penulis, amu tidak mau harus banyak membaca untuk memperkaya ruang batinnya yang nantinya bisa dibawa ke dalam tulisan-tulisannya.
Ahmad Tohari berujar, jadilah pembaca yang arkus sebelum menjadi penulis. Selain dari buku-buku, bahan tulisan dapat diperoleh dari pengalaman orang lain dan dari pengamatan keadaan yang ada di sekitar dan lingkungannya. Sesungguhnya, datangnya gagasan bisa muncul da mana dan dari mana saja karena gagasan itu bertebaran di tiap sudut kehidupan manusia.
Menulis dipakai sebagai sarana belajar untuk mengenal diri sendiri. Menulis menjadi sarana ’output’ untuk mengeluarkan ragam ekspresi yang dialami dan dirasakan penulis. Gagasan yang dituang dalam bentuk tulisan bisa bermacam-macam seperti puisi, cerita pendek, novel, catatan harian, artikel dan bentuk nakah lain. Biarkan tangan menulis bebas mengikuti alam pikiran yang terkadang liar tak terkendali karena penulis punya hak mutlak atas hasil keluaran karyanya. Penilaian akhir diserahkan pada pembaca. Tumbuhkan kecintaan dan kebiasaan membaca pada diri anak untuk menjamin agar menjadi penulis yang baik. *****
Koran Pendidikan, edisi 139, 8-14 Januari 2007
Berawal maraknya komunitas perbukuan di Malang dan kebutuhan penulis pemula akan satu komunitas, dimunculkan gagasan membentuk FPKM. Usaha dan kerja keras membuahkan hasildengan terbentuknya FPKM pada 8 Oktober 2006 yang mewadahi penulis pemula maupun penulis senior. Forum tidak membatasi penulis dari satu aliran saja, tetapi dari segala aliran: penulis fiksi, non-fiksi baik untuk anak-anak, remaja dan dewasa. Keanggotaan terbuka untuk segala rentang usia. Salah satu tujuan menulis adalah karya-karya penulis bisa dibaca banyak orang. Acara-acara yang digelar bertujuan memberdayakan para penulis di Malang. Selamat Ulang Tahun FPKM. Terus berkarya. Sebagai penulis, kita sama-sama berjuang menegakkan pena. *****
Majalah Matabaca, Oktober 2007
Bila Anda pengunjung setia perpustakaan umum dan arsip kota Malang, saya yakin Anda bisa merasakan perubahan yang sangat mendasar. Benar, sejak menempati gedung baru yang diresmikan 23 Desember 2004, perpustakaan selalu ramai dengan pengunjung. Kesan sepi dan lengang dengan koleksi buku-buku lama dan penuh debu sudah berubah sama sekali. Dulu, deretan buku-buku yang menunggu jamahan tangan pembaca. Kini yang terjadi sebaliknya, tangan pembaca yang memperebutkan buku.
Gedung perpustakaan yang baru, koleksi buku-buku fiksi. Non fiksi, dan majalaj untuk umum, remaja dan anak-anak yang baru adan selalu diperbarui memenuhi rak-rak. Buku-buku referensi, surat kabar, bahkan kumpulan kliping tersedia di perpustakaan ini. Tidak itu saja. Fungsi perpustakaan bukan lagi terbatas sebagai tempat membaca dan meminjam buku, tetapi sebagai pusat kegiatan, pameran foto dan lukisan, acara bedah buku, lomba pidato bahasa Inggris, lomba mendongeng, kegiatan belajar bahasa Inggris dalam kelompok (MAFEC – Malang Fun English Club). Book Fair Malang bulan September lalu diselenggarakan di sini. Yang paling baru adalah terbentuknya Forum Penulis Kota Malang (FPKM) pada 8 Oktober 2006 yang menjadi wadah bagi penulis-penulis di kota Malang untuk bertukar pikiran.
Jam buka perpustakaan rata-rata dari pukul 8 pagi sampai pukul 4 sore memberi kemudahan bagi pengunjung memilih waktu yang tepat baginya. Dengan jam buka yang panjang memungkinkan pelajar berkunjung ke tempat ini setelah pulang sekolah. Perpustakaan ini tak mengenal hari libur. Perpustakaan tetap buka pada hari Minggu dan hari libur nasional dengan catatan pada hari tersebut tidak melayani peminjaman, pengembalian dan perpanjangan buku serta pendaftaran anggota baru. Perpustakaan tutup bila libur nasional yang bertepatan dengan hari Jumat.
Melihat perpustakaan yang tak pernah sepi pengunjung tampak bahwa masyarakat dan pelajar mempunyai gairah baru dalam perbukuan dan kegiatan membaca. Mereka datang untuk membaca sekedar melepas diri dari rutinitas sehari-hari atau mengerjakan tugas-tugas sekolah dan mengambil manfaat dari kegiatan membaca. Ruang perpustakaan yang nyaman dan luas, koleksi berbagai jenis bacaan seperti novel, majalah, buku-buku pengetahuan, referensi, dan keanggotaan yang gratis membuat minat baca tumbuh perlahan-lahan. Mahalnya harga buku-buku di pasaran semakin mendorong pengunjung untuk memanfaatkan perpustakaan untuk meminjam buku.
Membaca adalah kegiatan utama dalam pendidikan. Dengan membaca kita dapat memperoleh informasi berharga tentang berbagai hal. Walaupun membaca kegiatan mudah, kegiatan ini perlu diperkenalkan dan ditanamkan sejak usia dini kepada anak-anak. Tugas kita semua memperkenalkan buku kepada anak. Untuk itu syarat utama yang harus dipenuhi, paling tidak orang tua mempunyai kecintaan pada buku dan kegiatan membaca. Kalau membaca sudah menjadi budaya pada orang tua, maka mudah menularkan kecintaan membaca pada anggota keluarga. Sebagai langkah awal kita dapat membacakan dongeng dan memberikan buku cerita bergambar untuk anak-anak yang belum terampil membaca.
Orang tua perlu mengembangkan dan memelihara minat baca yang mulai tumbuh. Sebelumnya bila liburan sekolah tiba mengadakan rekreasi ke tempat-tempat wisata, sekali-kali ajaklah anak melakukan wisata baca dengan berkunjung ke perpustakaan. Memberi pengenalan kepada anak, bahwa perpustakaan sebagai tempat menyimpan berbagai macam tema buku yang menarik dan tempat mengasyikkan untuk membaca. Ajaklah anak untuk menjadi anggota perpustakaan atas namanya sendiri. Tentunya anak akan bangga mempunyai kartu anggota perpustakaan dengan namanya sendiri. Katakan bahwa dengan kartu itu anak boleh memilih dan meminjam buku bacaan anak yang menarik dan sesuai dengan minatnya.
Kunjungan rutin ke perpustakaan bersama anggota keluarga bermanfaat untuk mempertahankan dan membina minar baca. Kecintaan pada buku dengan sendirinya mengajarkan kepada anak-anak – tentunya dengan bimbingan orang tua – untuk memperlakukan buku dengan baik, misalnya cara merawat buku, merapikan dan membersihkan buku, dan sebagainya yang berkaitan dengan buku. Selanjutnya bila anak benar-benar menjadi kutu buku, banggalah Anda sebagai orang tua karena anak-anak berteman dengan buku, asal tidak menjadi ’kutu buku’ atau ’ngengat’ yang menggerogoti dan menghancurkan buku. Ayo ke perpustakaan! *****
(Koran Pendidikan edisi 128, 16 – 22 Oktober 2006)
Baru tiga kali saya memperoleh kesempatan mengunjungi pameran buku yang besar. Pertama, pada acara Gramedia Fair 2004 di Plaza Tunjungan Surabaya yang berlangsung 6-15 Agustus 2004. Kedua, pada Pesta Buku Jogja yang berlangsung 8-16 februari 2005, diselenggarakan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) cabang DIY. Ketiga, pada acara Pesta Buku Gramedia Kompas 2005 di AJBS Pasaraya Surabaya yang berlangsung 20-28 Agustus 2005.
Sebagai pecinta buku, saya selalu menyimak iklan-iklan tentang pameran buku yang digelar dan akan digelar. Pameran Buku Anak dan Pendidikan Anak di Istora Bung Karno Senayan Jakarta, Gramedia Fair dengan jadwal di tiga kota besar (Bandung, Surabaya, dan Jakarta), Jakarta Bokk Fair, dan lain-lain. Para pecinta buku di kota-kota besar benar-benar dimanjakan dengan berbagai pameran buku dengan potongan harga yang besar.
Pertanyaan yang kemudian muncul di benak, mengapa penyelenggaraan pameran buku selalu di kota besar? Alasan utama yang diajukan karena banyak penerbit yang mempunyai basis di kota besar sehingga dapat menekan biaya dan lebih mudah untuk mengusung buku-bukunya ke tempat pameran. Pertimbangan lain yang mungkin menjadi alasan, karena konsumen lebih banyak di kota-kota besar dan tempat-tempat pameran yang luas tersedia di banyak tempat.
Alasan-alasan di atas masuk akal tetapi sangat tidak adil dan sering membuat iri pecinta buku yang tinggal di kota sedang atau kecil. Boleh jadi pecinta buku ari kota kecil khusus datang hanya untuk mengunjungi dan menyaksikan pameran buku dengan skala akbar yang jarang diselenggarakan sehingga kesempatan langka itu digunakan sebaik-baiknya.
Mungkin saja ada yang mau melakukan hal tersebut, namun langkah ini tidaklah praktis. Biaya transportasi dari kota asal ke kota tujuan, biaya tinggal selama pameran, dan tentu saja biaya membeli satu dua buku tidaklah sedikit. Barangkali masalah ini tidak menjadi soal bagi sebagian orang, yang penting dia memperoleh kepuasan batin dengan mengunjungi pameran buku, yang belum tentu didapat dari sekedar mengunjungi toko-toko buku yang besar sekali pun. Yang merana tentu penggemar buku yang hanya mempunyai duit pas-pasan, padahal sekedar mengunjungi pameran yang besar tanpa membeli satu dua buku saja sudah menjadi rekreasi yang sangat berarti.
Apapun yang menjadi alasan, pecinta buku yang tinggal di kota kecil berhak memperoleh akses untuk melihat dan mengunjungi pameran buku walaupun dengan skala yang kecil. Tidak sekdar melihat saja tetapi juga berhak memperoleh buku-buku berkualitas dengan harga yang lebih murah dari harga biasa. Menyelenggarakan expo furniture, otomotif, pekan raya daerah, atau apa saja bisa digelar oleh pemerintah daerah atau swasta secara besar-besaran, mengapa untuk pameran buku tidak bisa?
Daya tarik pameran buku Pameran buku tidak hanya menjadi sarana promosi, mendekatkan diri dengan konsumen dan berinteraksi langsung dengan pecinta buku. Penerbit juga mempunyai kewajiban mencerdaskan kehidupan bangsa melalui buku-buku-------------------- buku merupakan salah satu cara menumbuhkan minat baca dan budaya membaca.
Selama ini setiap penyelenggaraan pameran buku rasa-rasanya tak pernah sepi dari pengunjung dan selalu mampu menarik minat masyarakat dari berbagai kalangan seperti anak-anak, remaja, pelajar, mahasiswa, pendidik, orang tua, sampai masuyarakat umum.
Beberapa daya tarik pameran buku adalah : pertama, pameran buku menjadi ajang berkumpulnya berbagai penerbit di satu tempat sehingga para penggila buku tidak perlu mengeluarkan ongkos transportasi berlebihan untuk pergi dari satu toko ke toko buku lain. Selain itu penggila buku mendapat buku dengan harga lebih murah karena penerbit memberikan potongan harga yang besar. Ketiga, tempat pameran yang luas sehingga memberi kelegaan dan kenyamanan bagi pengunjung untuk mendatangi gerai satu per satu.
Kempat, lokasi yang strategis sangat mudah dicapai dengan kendaraan umum dan kendaraan pribadi. Kelima, suasana yang berbeda dari toko buku.Keenam, banyaknya brosur dan katalog terbaru dari penerbit sehingga pecinta buku bisa mengakses dengan leluasa. Ketujuh, ada kegiatan pendamping yang ikut meramaikan pameran seperti seminar, lomba mendongeng, melukis, menulis resensi, jumpa pengarang, dan kegiatan lain yang berkaitan dengan membaca dan menulis.
Banyak sekali manfaat yang bisa diambil dari pesta buku. Penerbit-penerbit buku sudah saatnya memikirkan untuk mengadakan pameran berskala besar di kota kecil secara bergilir. Upaya mencerdaskan bangsa dan menumbuhkembangkan minat dan budaya membaca harus merata sehingga menjangkau masyarakat lebih luas. Saya yakin di manapun pameran buku diadakan, baik di kota besar maupun di kota kecil yang potensial, mampu menarik minat masyarakat. Karena sesungguhnya mereka juga ingin memperoleh buku-buku bermutu dengan harga murah. *****
(Koran Pendidikan edisi 103, 24 – 30 April 2006)
| |