vita's posts with tag: cerpen

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag cerpen
Review48. CERPEN : BBMJul 27, '08 9:14 PM
for everyone
Category:Other
Matahari mulai menampakkan sinar sebagai janjinya setiap hari yang memberi kelangsungan kehidupan di atas bumi. Di musim kemarau seperti ini, hembusan angin cukup kencang sehingga membuat udara cukup dingin. Keadaan ini diperparah dengan debu-debu yang terbawa angin sebagai akibat batuknya Gunung Semeru. Akibat lebih lanjut perabot rumah tak pernah bersih, lantai berdebu, dan genteng berwarna putih.

“Koran!” teriak seorang anak loper koran dari balik pagar yang setiap pagi setia mengantarkan setumpuk koran dan majalah kepada pelanggannya. Seorang lelaki berumur, pak Paijo namanya, telah menunggu sejak tadi. Pak Paijo bangkit dari kursi, berjalan ke arah pagar dan mengulurkan tangannya di antara jeruji pagar untuk menerima surat kabar lokal.

Ia duduk kembali di kursi kebesarannya, menyeruput kopi panas yang disajikan istrinya, mengenakan kacamata, kemudian mulai membaca koran. Begitulah kebiasaannya setiap pagi. Dibukanya lipatan koan dan ia mulai menyimak halaman muka yanh menyajikan berita-berita uatama.

Tiba-tiba gerak matanya terhentidan tertuju pada sebuah judul yang ditulis dengan huruf besar.

KRISIS BBM MAKIN MENINGKAT

Krisis BBM yang terjadi sejak dua hari lalu diperkirakan akan terus berlanjut hari ini. Antrean panjang kendaraan bermotor masih mewarnai beberapa SPBU…

Kalimat selanjutnya tidak lagi dibaca oleh Pak Paijo yang segera melempar koran tak bersalah itu ke meja.

“Bu…ambilkan helm, Bu!” teriaknya. Bu paijo yang sedang menyapu di dapur- entah untuk ke berapa kalinya- tergopoh-gopoh menghampiri suaminya.

“Ada apa, to Pak, pagi-pagi begini sudah teriak-teriak?” tanya Bu Paijo.

“Ambilakan helm, Bu. Bapak mau keluar sebentar,” sahut Pak Paijo.

“Mau ke mana, to Pakne?” tanya Bu Paijo lebih lanjut.

“Beli bensin. Menurut berita koran pagi ini BBM mulai langka di kota kita. Makanya Bapak mau beli bensin,” ada sebersit kekhawatiran yang tidak terucap.

Pak Paijo mengeluarkan Honda bebek tua kesayangannya dari ruang tamu. Mestrarter. Meskipun tua motor kesayangannya itu tetap dirawat baik-baik. Bagaimanapun juga kendaraan tersebut telah berjasa mengantar pergi pulang menuki kantor sewaktu masih bekerja dulu di sebuah instansi pemerintah. Sebagai seorang pegawai negeri dengan gaji pas-pas an ia membeli motor itu secara kredit.

Tak lama istrinya muncul membawa helm dan memberikan kepada suanya. Lalu Bu Paijo membuka pintu pagar. “Bapak berangkat dulu, Bu,” pamit Pak Paijo setelah mengenakan helm. “Hati-hati, Pak.”

Bu Paijo menutup pintu pagar kemudian menghampiri meja di teras. Dibacanya koran sekilas dan berlalu ke dalam rumah melanjutkan pekerjaannya tadi yang sempat tertunda. Bersiap-siap untuk belanja ke pasar besar sebagai pekerjaan rutinnya setiap dua hari sekali.

-666-

Sepanjang perjalanan pak Paijo tidak habis pikir. Banyak kasus besat yang membaut ibu pertiwi menangis. Belum tuntas satu kasus sudah timbul kasus lain. Begitu banyak kasus saling tumpang tindih. Mungkin tak akan terselesaikan, kasus ditutup. Apa yanh sebenarnya sedang terjadi terhadap negeri ini? Apakah murka tuhan sedang turun je atas bumi Indonesia? Pak Paijo hanya dapat membatin dalam hati. Tanpa ada jawaban yang memuaskan. Dia hanyalah seorang dari sekian puluh ribu rakyat kecil yang paling merasakan penderitaan akibat permainan politik tingkat atas.

Ada sesuatu yang berbeda kali ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi oleh berbagai jenis kendaraan bermotor, roda dua, roda empat, mobil-mobil pribadi sampai angkutan kota kini terlihat lengang. Kelangkaan BBM membuat perubahan besar padakehidupan manusia. Seperti pagi ini. Padahal proses terjadinya minyak berlangsung juataan tahun. namun manusia telah mengurasnya untuk bahan bakar, dibakar dalam sekejap dan hilang. Kalau habis? Butuh jutaan tahun lagi.

Seandainya setiap hari keadaan jalan seperti ini, alangkah nikmatnya. Jalan tidak macet, kendaraan tidak semrawut main serobot seenaknya, polusi udara akibat pembuangan asap kendaraan bermotor bisa dikurangi seminimal mungkin. Seandainya angkutan umum aman dan nyaman, ketertiban dan peraturan dibenahi pasti banyak pemakai jasa angkutan yan bersedia meninggalkan kendaraan pribadi di rumah dan beralih naik angkutan masal. Ah, tapi ini kapan bisa terwujud? Peraturan pemerintah, Pemda, paguyupan sopir mikrolet, DLLAJ, sampai pemerintah pusat semuanya saling terkait. Seandainya…seandainya…hati Pak Paijo berkecamuk sendiri. pusing.

Tiba di SPBU antrean mobil sudah berderet sepanjang setengah kilometer sehingga menimbulkan kemacetan. Beberapa anggota Kamra sibuk mengatur arus lalu lintas. Segala jenis kendaraan tumplek blek di sini, dari mobil mewah keluaran terbaru sampai mobil tua. Pajero, Mercedez Benz, Ford Champ, Hijet 1000 keluaran tahun '83 sampai bemo - becak bermotor roda tiga yang bentuknya lucu mirip seterika yang pernah jaya sebagai sarana transportasi angkutan kota ini tahun 1980-an bahkan sampai beberapa tahun lalu keberadaannya tetap dipertahankan di jalur-jalur tertentu hingga akhirnya seluruh armada yang masih memakai bemo berganti dengan mikrolet. Kini bemo menjadi mobil antik.

Dengan gesit Pak Paijo menyelinap di antara mobil-mobil yang antre dan kendaraan di badan jalan yang bergerak perlahan. Macet total. Pak Paijo tiba di tempat pengisian bahan bakar khusus motor. Berjubel. Kesadaran untuk antre dengan tertib belum membudaya.

Pak Paijo menegur pengendara motor di sebelahnya, “Sudah lama antre, Pak?” tegur Pak Paijo.

“Sudah, Pak. Tiga puluh delapan menit sudah saya berada di sini,” jawab pengendara itu. “Itu pemilik mobil lebih lama antre. Bisa dua tiga jam atau lebih bahkan ada yang rela bermalam di sini untuk antre keesokan harinya,” tambahnya.

Pak Paijo hany abisa menggut-manggut memaklumi keadaan. Iamenoleh ke arah deretan mobil-mobil itu. rupanya untuk mengisi waktu luang banyak hal yang mereka lakukan. Ada yang membaca koran, ada yang mengada-adakan komunikasi melalui handphone, ada yang membuka pintu mengusir hawa panas dalam mobil, ada yang membuka jendela, ada yang berbincang-bincang denga teman seperjalanan.

“Pak…” sadar bahwa panggilan itu ditujukan pada dirinya Pak Paijo menoleh ke arah sumber suara.

“Bapak lihat pengendara motor di depan sana,” sambil menyorongkan dagunya ke obyek ke obyek yang dimaksud, “Dia membawa jerigen,” kata pengendara motor yang sejak tadi menjadi teman berbincang Pak Paijo melihat ke arah yang dimaksud.

“Ya…,” Pak Paijo mendesah, “Mestinya petugas bisa tegas tidak melayani pembelian dengan jerigen. Kalau dilayani mungkin bisa bolak-balik beli dan mereka bisa menjual kembali di luaran dengan harga yang lebih tinggi.”

“Dalam keadaan kepepet seperti ini ada saja orang-orang kreatif yang memanfaatkan situasi dan naluri bisnisnya tiba-tiba muncul. Banyak penjual bensin dadakan di pinggir jalan, bahkan ada teman saya yang bilang ada mobil pick up membawa drum dan menjualnya eceran. Harganya bervariasi, ada yang seribu lima ratus, ada yang dua ribu lima ratus, bahkan ada yang lebih mahal dari itu. kabarnya mereka dari Surabaya dan berbondong-bondong kemari. Ada kabar pasokan BBM di sana lancar dan tidak ada antrean seperti di sini,” papar pengendara itu.

“Saya jadi bingung, ada fenomena apa dibalik semua ini?” tanya Pak Paijo.

Panas matahari semakin menyengat. Keduanya tidak megucapkan sepatah kata. Tiba giliran Pak Paijo mengisi bensin. Cukup melelahkan bagi dirinya.

Tiba di rumah, Pak Paijo memarkir motor tuanya di beranda. Melihat kedatangan suaminya, Bu Paijo segera membuatkan minuman dingin.

“Ada apa to, Pak, beli bensin kok sampai dua jam lebih?” tanya Bu Paijo sambil menyodorkan segelas minuman.

Pak Paijo menerima gelas itu, seteguk demi seteguk air dingin melewati kerongkongannya yang kering hingga habis. Segar seklai.

“Walah, Bu. Antreannya panjang sekali,” Pak Paijo menjawab pertanyaan istrinya sambil mengipas-ngipas badan Gerah. “Kelangkaan BBM berdampak luas. Antrean sampai setengah kilometer.”

“Nah, itu! Ibu tadi ke pasar naik mikrolet ditarik seribu. Lha wong biasanya hany alimaratus, je. Mana beberapa bahan pokok ada yang naik harganya. Gula lokal jadi tiga ribu dua ratus, naik enam ratus,” Bu Paijo menceritakan pengalamannya.

“Terus kita ini mau bagaimana lagi to, Bu?”

“Ibu tadi juga sempat omong-omong dengan sopir mikrolet. Katanya mereka terpaksa menaikkan tarif. Dalam sehari biasanya bisa lima rit, sekarang hanya bisa dua rit. Yang tiga rit habisa di antrean.”

“Yang kasihan kan anak sekolah ya, Bu. Mereka banyak yang telantar tidak terangkut. Banyak yang bolos jadinya. Sampai ada bantuan truk dari polresta dan pemda untuk mengangkut mereka. Semuanya ya kena dampaknya Bu…Bu. Anak sekolah, pegawai, pengemudi, penumpang, ibu-ibu rumah tangga, semuanya mengeluh.”

“Yang sempat Ibu dengar tadi dari salah satu radio swasta, kota kita sudah digelontor BBM dari UPPDN sampai melebihi standar kebutuhan sehari-hari. Kok masih antre, ya Pak?” tanya Bu Paijo lebih lanjut kepada suaminya.

“Ndak tahu, BU. Bapak mumet,” Pak Paijo mengisap rokoknya dalam-dalam.

“Apa ini karena kerusakan kilang minyak seperti yang banyak diberitakan ya, Pak? Ada yang bilang karena kebutuhan dalam negeri meningkat. Ada yang bilang karena banyak BBM yang diselundupkan lalu dijual di luar negeri karena harga di sini lebih rendah sehingga bisa dijual lagi dengan harga yang lebih tinggi. Ada yang bilang situasi ini sengaja diciptakan untuk mengobok-obok kota kita karena beberapa kali ada usaha ke arah itu tapi gagal.” Bu Paijo menyerocos tanpa henti.

Mendengar ocehan istrinya terutama pada kalimat terakhir Pak Paijo kaget. Ternyat istrinya tercinta sekarang pandai mengamati situasi yang sedang terjadi. Dulunya sebelum krisis melanda, istrinya tak punya perhatian pada hal-hal semacam itu.

“Waduh Bu, jangan terus dikaitkan dengan politik, to. Pokoknya sekarang kita semua meningkatkan kesabaran dalam menghadapi situasi yang tak menentu dan tetap berusaha mempertahankan keadaan yang aman, tidak mudah dihasut oleh oknum tertentu. Mudah-mudahan pemerintah bisa segera mengatasi hal ini. Ya to, Bu. Ayo Bu makan, perut Bapak dari tadi sudah lapar.”

“Betul juga ya, Pak. Oya, Ibu tadi masak kesukaan Bapak. Sayur santan dengan tempe kacang dan ikan pe sangit.” Bu Paijo beranjak ke dapur.


Surabaya Post, 29 Juni 2008

Review47. CERPEN : TAMAN BACAAN DENIJul 27, '08 9:07 PM
for everyone
Category:Other
Sepanjang perjalanan menuju rumah, Deni terus berpikir. Panas terik matahari tidak lagi dirasakan. Apa yang akan dilakukannya?

Sampai di rumah Ibu menegur, “Kenapa pulang terlambat, Deni?”
“Maaf, Bu. Tadi Deni, Ria, Andi, dan Leni menengok Budi yangs edang sakit di rumahnya,” jawab Deni sambil menghempaskan badannya ke sofa.
“Oh, Budi yang tinggal di kampung belakang kompleks perumahan kita?”

Deni melepas sepatu dan kaus kaki lalu menaruhnya di rak sepatu. “Ya, Bu. Deni meminjamkan majalah kepada Budi. Eh, dua adiknya yang sedang ada di situ malah berebut ingin membaca!” deni bersungut-sungut. “Deni kan jadi kesal.”

“Kamu tidak boleh kesal begitu. Seharusnya kamu mengerti kalau adik-adik Budi ingin sekali membaca karena mereka tidak punya bacaan. Justru kamu harus menolong mereka. “Ibu mencoba memberi pengertian kepada Deni.

“Lalu bagaimana Deni bisa menolong mereka, Bu?” tanya Deni ingin tahu. Setelah mencuci tangan, dia membuka kulkas. Diambilnya botol ar minum, isinya dituang ke dalam gelas lalu diteguk sampai habis.

Sambil menata piring di meja makan Ibu menjawab, “Nah, kamu sudah punya banyak majalah dan buku cerita. Selama ini kamu cepat bosan. Kalau sudah dibaca sekali jarang dibaca lagi. Semua ditumpuk di kamar. Sebagian lagi ditumpuk di atas bufet di ruang keluarga. Betul, kan?”

“Memang betul, sih,” kata Deni mengaku.

“Kamu bisa meminjamkan buku dan majalah itu kepada mereka,” kata Ibu lebih lanjut.

Tiba-tiba Dita – kakak Deni – keluar dari kamarnya. Rupanya sejak tadi dia mendengar percakapan antara Ibu dan adiknya.

“Ada apa, sih. sepertinya ada pembicaraan seru,” ujar Dita ingin tahu.

“Adikmu ini, daripada semua buku dan majalah ditumpuk begitu saja lebih baik dipinjamkan kepada teman-temannya.”

“Setuju, Bu. Kita bisa mengumpulkan semua buku dan majalah Deni- ditambah majalah dan buku cerita Dita. Sesudah semua terkumpul, kita mendirikan perpustakaan kecil atau taman bacaan,” usul Dita bersemangat.

“Wah, idemu bagus sekali. Dengan perpustakaan kecil itu adik-adik Budi bisa membaca di sini. Teman-teman Deni juga boleh membaca. Pokoknya siapa saja boleh,” kata Ibu turut bersemangat.

Deni yang sejak tadi diam berseru, “Asyiik!” ketika mendengar rencana itu.

“Ruang kosong di samping garasi bisa dipakai untuk perpustakaan,” sahut ibu menambahkan. “Sekarang makan siang dulu, nanti malam kita bicarakan usul ini dengan Bapak.”

Sekarang taman bacaan Deni sudah selesai. Sebuah ruangan yang nyaman untuk membaca dengan suasana santai siap dipakai. Tidak ada kursi dan meja di dalamnya. Yang ada hanya karpet biru muda yang digelar dilantai. Beberapa bantal dan alas duduk ditumpuk di sudut. Dinding dicat dengan lukisan pemandangan. Rak-rak kecil berjajar menempel di dinding. Buku-buku cerita dan majalah disusun di dalamnya.

“Siiip!” gumam Deni puas melihat perpustakaan kecilnya. “Aku bisa mengundang adik-adik Budi dan teman-teman kemari untuk membaca.”

Malang Post, 29 Juni 2008

Review45. CERPEN : KERAMASApr 6, '08 9:05 PM
for everyone
Category:Other
Hari ini, lelaki itu menganggap dirinya sebagai orang yang paling malang sedunia. Dia tak bisa berbuat apa-apa, dia kecewa, sangat kecewa. Sejak kedatangannya tadi, lelaki itu sudah uring-uringan. Rambutnya yang agak panjang tampak berantakan tanpa seuntuhan sisir. ketombe bertebaran di sela-sela rambutnya yang kusut.

"Aduuhhh........piye iki!" teriaknya sambil menyibak rambutnya.

Beberapa orang teman lelaki itu - yang hadir di tempat itu - bengong. Apa yang dibicarakan lelaki itu, tak ada ujung pangkalnya. Tak biasanya lelaki itu mengomel, datang dengan wajah keruh dan rambut kusut masai. Dia lelaki yang ceria. Tapi pagi ini?

Salah seorang teman lelaki itu bertanya,"Ada masalah apa?"

"Aku sudah berusaha mengutak-atik hard diks komputer, tapi tetap tak bisa jalan. Bayangkan, sejak komputer itu datang siang kemarin, aku langsung memeriksa komputer itu sampai jam sepuluh malam. Tetap saja tak bisa! Au sudah lapor ke bos besar bahwa aku tak mampu membereskan komputer itu. Bos besar menjawab bahwa itu bukan kesalahanku, tapi kesalahan mereka - yang jual komputer."

"Kalau begitu, ya sudah. Jangan dipikir lagi," jawab salah seorang teman lelaki itu.

"Biasanya aku sanggup menyelesaikan masalah. Masa masalah sepele seperti ini tak bisa kuselesaikan?" Lelaki itu tetap ngotot pada pendiriannya.

"Aaddduuuuuhhh.......aku mau bunuh diri saja!" teriak lelaki itu. Ia mengambil seutas tali rafia - yang entah dia dapat dari mana - tali itu dililitkan ke jempol kaki kirinya. Diambilnya korek api dari saku bajunya, lalu menyalakan geretan itu seolah-olah henak membakar sisa tali rafia yang terjuntai.

"Hei, jangan mati dulu. Kalau mati sekarang, masih banya pekerjaan yang belum kamu slesaikan dan utangmu belum dilunasi di dunia ini. Hidup itu indah. Hidup di dunia untuk dihayati dan dinikmati. Halangan bukan rintangan yang harus dihindari tapi dihadapi."

"Aku merasa sudah mengecewakan banyak orang dan teman-teman. Aku sudah lama sekali tiak merasa sedih dan kecewa seperti sekarang. Selama ini hidupku bahagia terus,"ujar lelaki itu.

"Nah, sekarang kena batunya. Hidup tidak selalu bahagia, hidup tidak selalu sempurna, pasti ada kekurangan. Sudahlah, masalah begitu saja dipikir panjang. Komputer itu termasuk cacat produk. selama masih ada garansi, bisa ditukar kebali ke tokonya," timpal temannya yang lain.

Walaupun sudah diberi penjelasan panjang lebar oleh teman-temannya, lelaki itu belum bisa menerima kegagalannya. Lelaki itu masih tetap uring-uringan.

*********
Sampai di tempat kos, lelaki itu sudah sangat capai. bau leringat di sekujur tubuh. Jarum jam pendek menunjuk ke angka tujuh lewat sedikit dan jarum jam panjang menunjuk ke angka lima. Perutnya sudah kenyang. Lelaki itu berbaring di atas ranjang sekedar melepas penat sejenak.

Lelaki itu membiarkan pikirannya mengembara. Diam dalam hening. Hampir saja kelopak matanya terpejam. Perlahan-lahan dia memaksakan diri bangkit dari ranjang. Ah ya, aku harus mandi dulu, pikirnya.

Di dalam kamar mandi lelaki itu memulai ritual mandi. Diambilnya satu gayung air dan diguyur ke atas kepalanya sampai membasahi rambut dan seluruh tubuhnya. Dua kali dia melakukan hal yang sama. Air yang mengalir dingin lewat permukaan kulit tak dirasakan olehnya, yang tersisa hanyalah kesegaran raga, pikiran dan jiwanya. Aha, ternyata beban pikiranku sedikit demi sedikit sirna. Akan lebih baik lagi aku benar-benar mandi, bukan sekedar mandi bebek. itu pikiran yang ada di benak lelaki itu.

Selanjutnya dia ambil satu botol sampo. Cairan pembersih rambut itu dituang ke atas telapak tangan kirinya, kemudian digosok-gosokkan di atas rambutnya, sampai menyentuh kulit kepalanya. Buih sampo menutupi rambutnya. Berdasarkan iklan di televisi dan media cetak, sampo itu memberi gizi, menjaga dan mengembalikan perlindungan alami rambut. Membuat setiap helai rambut sehat berkilau, lembut, mengembang dan bercahaya. Pemakaian sampo secara teratur membua ketombe hilang.

Itu semua menurut iklan, membujuk konsumen supaya membeli produk itu. Karena kata-kata manis dan bombastis, konsumen ada yang terbujuk, produsen berhasil menggaet konsumen membeli produk yang diiklankan. Hasilnya? Sering tidak sesuai dengan yang diiklankan.

Seandainya aku punya uang lebih, aku akan creambath di salon. Di sana rambutku akan dikeramasi oleh tangan-tangan terampil pegawai salon sambil dipijat-pijat sedikit. Dengan setengah berbaring, rambut dikeramasi dan dipijat....wuuiiihhhh...perlakuan seperti itu yang bikin ngantuk. Selesai keramas, rambut ditarik-tarik sedikit, dipijat sana-sini, dirawat, diberi vitamin supaya sehat.

Seandainya aku mandi di kamar mandi kering, aku akan berbaring di bath tub yang penuh air sabun. berenam di dalam air hangat sambil mendengarkan musik, mataku terpejam. Berendam setengah jam sudah cukup. Nikmat sekali.

"Aaaagghhh...hanya khayalan," ucap lelaki itu pendek. Dibuangnya jauh-jauh segala khayalan yang menggayuti otaknya. Nyatanya aku di sini, di kamar mandi basah, katanya dalam hati. Lelaki itu melanjutkan kembali ritual mandinya. Kali ni seluruh daki yang melekat di permukaan kulit digosok dari sela-sela jari kaki sampai muka. Hasilnya memang banyak daki hitam yang berhasil diangkat. Sesudah itu seluruh badan digosok dengan sabun mandi.

**********

Rambut lelaki itu masih basah. Ada yang lain di raut wajahnya. Benar, paras mukanya sudah segar dan tidak kusut masai seperti pagi, siang, sore an sesaat sebelum mandi tadi. Keceriaan sudah kembali menghias di raut wajahnya. Sensasi mandi dan keramas sudah membuatnya berubah seperti sedia kala.

Diputarnya lagu-lagu Mozart : Serenade in B-Dur >> Gran Partita dan Symphonie nr.40 in G-Moll, sampai alunan musik terakhir. Yeah, lelaki itu tak paham bahasa jerman, namun harmoni musik klasik dari suara klarinet dan horn mampu dinikmati sepenuh hati. Sambil mendengarkan musik, lelaki itu membaca novel Di tepi Sungai Piedra aku duduk dan tersedu karya Paulo Coelho.

Matanya sudah lelah. lelaki itu meletakkan novel di atas meja, alunan musik klasik Mozart sudahselesai sejak tadi. Sesaat sebelum terlelap, lelaki itu termenung. Pertanyaan tentang sebab musabab mengapa sejak kemarin malam dan sepanjang hari ini uring-uringan sudah ada jawabnya. Lelaki itu tersenyum sendiri. Aku memasang target terlalu tinggi. Aku merasa mampu menyelesaikan masalah 100%, padahal aku hanya sanggup 60% saja. Dan yang terpenting, masalah lain yang sebenarnya sangat sepele : aku belum keramas sejak empat hari lalu!

Surya, 6 April 2008

Review44. CERPEN : WARISAN MAMAApr 6, '08 9:02 PM
for everyone
Category:Other
Sisil termenung seorang diri di teras depan rumahnya sambil memandang bunga mawar merah yang seang mekar dalam pot milik mama. Semilir angin yang menerpa tubuh seolah tak dirasakannya. Sudah setengah menit berlalu ia melamun sambil bertopang dagu.

Hari ini adalah hari ke tujuh masa liburan sekolahnya. Masih empat hari lagi baru ia masuk sekolah kembali. Selama ini sudah setumpuk novel karya Mira W., S. Mara Gd., Lima Sekawan, sampai komik Tintin telah habis dibacanya. Kini ia tak tahu lagi apa yang akan dilakukannya.

”Ah, seandainya Rina tidak berlibur ke rumah pamannya di luar kota tentu aku bisa bermain-main ke rumahnya. Aku tidak terpuruk di rumah dan kesepian seperti sekarang ini,” pikir Sisil dalam lamunannya. Rina adalah teman dekat Sisil. Sudah dua tahun mereka bersahabat sejak pertama kali masuk di sebuah SMP swasta.

Ia masih menatap bunga mawar ketka tiba-tiba terlintas sebuah ide dalam benaknya.

”Daripada berdiam diri terus seperti ini lebih baik aku menyiram bunga-bunga dan tanaman peliharaan Mama,” kata Sisil dalam hati. Lalu ia beranjak dari kursi dan bergegas ke belakang rumah. Ia mengambil gayung dan ember. Dibawanya kembali benda-benda itu ke teras.

Saat melintas di samping rumah, mama Sisil yang seang memasak terheran-herab melihat sikap anaknya.

”Apa yang akan dilakukan anakku? Kok tumben, anakku jadi rajin begini?” gumam mama Sisil.

Lewat kisi-kisi jendela yang terbuka lebar, mama menegur Sisil, ”Sil, kamu mau apa bawa-bawa ember dan gayung?”

”Sisil mau menyiram tanaman, Ma. Daripada bengong aja ngga ada yang dikerjakan,” jawab Sisil sambil berlalu. Mama hanya mengangkat bahu.

”Ya sudah, sana!” sahut mama Sisil.

Sisil asyik menyiram tanaman sambil bersenandung. Bunga mawar, tanaman suplir di bawah jendela kamar Sisil, bunga nusa indah, semua tak ada yang lewat disiram Sisil.

”Senangnya memberi kehidupan pada tanaman-tanaman yang diciptakan Tuhan untuk melengkapi kehidupan manusia,” pikir Sisil.

”Pos!” Tiba-tiba pak pos berteriak.

Sisil menoleh, menghentikan sejenak pekerjaannya kemudian menghampiri pak pos yang mengangsurkan dua pucuk surat.

”Terima kasih, Pak.”

Sisil melihat sampul surat. Satu surat untuk mama dari Tante Dina dan satu dari Rina sahabatnya. Sisil masuk dan menuju dapur.

”Ma, surat dari Tante Dina,” ujar Sisil sambil menyodorkan surat.

Mama mebuka amplop dan dibacanya surat dari adiknya yang paling keil. Mama tersenyum.

”Wah, Tante Dina sekarang berada diAustralia meneruskan studi ke jenjang S2. tante Dina titip salam untukmu.” Sisil mengangguk.

”Ma, itu prangkonya bagus,” sambil menunjuk prangko di atas amplop yang dipegang mama,”boleh Sisil ambil?”

”Hmm....boleh. Tapi untuk mengambil prangko ada caranya sendiri, Sil. Tidak bisa langsung dilepas dari amplopnya.”

”Kok gitu sih, Ma?”

”Iya, kalau langsung dilepas akan merusak prangko.”

”Lalu caranya gimana, Ma?”

”Coba ambilkan mangkuk lalu isi dengan air. Airnya cukupan saja, tidak usah terlalu penuh.”

Sisil kembali membawa mangkuk yang dipesan Mama, kemudian ia melanjutkan. ”Setelah itu guntingsekeliling prangko dan jangan sampai kena tepi prangko. Sisakan sekitar dua milimeter dari pirnggir prangko. Setelah lepas, rendam dalam air kira-kira lima menit sampai kertas amplop terpisah dari prangko/ Prangko dikeringkan dengan kertas penghisap kalau ada. Biarkan keing sendiri. Tapi jangan diseterika atau dijemur di bawah terik matahari,” kata mama panjang lebar. Sisil yang sejak tadi memperhatikan mama manggut-manggut.

”Rumit juga ya, Ma. Sisil bingung.”

”Kalau kamu sudah terbiasa kan jadi gampang. Oya, mama punya sesuatu untuk Sisil. Yuk, ke kamar kerja papa sambil menunggu prangko kering.”

Sisil mengekor di belakang mama menuju ruang kerja papa. Mama mengambil tiga album prangko berukuran besar di salah satu rak buku.

”Nah Sil, ini untukmu,” kata Mama sambil menyodorkan album-album itu kepada Sisil, ”Mama wariskan untukmu.”

Sisil membuka salah satu album.Ber,acam-macam prangko dari dalam dan luar negeri tersusun rapi.

”Sejak kapan Mama mrngumpulkan prangko?” tanya Sisil ingin tahu.

”Sejak Mama berusia kira-kira tiga belas athun. Sekarang Mama sudah tidak ada waktu merawatnya.”

”Tapi Ma, yang ini kok seperti masih baru?” tanya Sisil lebih lanjut menunjuk salah satu prangko dalam album.

”Prangko yang ini namanya prangko mint artinta prangko yang belum dipakai. Kalau prangko yang tadi disebut prangko used artinya prangko bekas atau prangko yang sudah dipakai.”

”Cara merawatnya gimana, Ma?”

”Untuk merawat prangko memang harus telaten apalagi di Indonesia yang punya udara lembab. Prangko yang langsung disimpan dalam album lama kelamaan akan timbul bintik kuning. Untuk menghindarinya prangko harus dibungkus dengan plastik khusus, plastik OPP namanya. Seperti ini,” ujar Mama mengambil sebuah prangko yang tlelah dibungkus plastik OPP dan menunjukkannya pada Sisil. ”Lagipula bila pada prangko timbul bintik kuning itu berarti sudah menurunkan harganya,”lanjut Mama.

”Oh, gitu. Susah ya, Ma,”sahut Sisil.

"Memang, tapi nantinya kamu akan tahu. Kapan-kapan Mama ajarin lagi cara-cara merawat prangko. Oya, satu hal lagi sebelum Mama lupa. Album prangko harus disimpan dalam keadaan tegak atau berdiri, jangan ditidurkan karena kalau tertindih buku-buku lain akan mebuat prangko lengket pada album atau garis-garis album kan membekas di belakang prangko.”

”Ya Ma, akan Sisil ingat.”

”Sisil tadi sudah selesai menyiram?”

”Wah belum. Sampai lupa, habis terlalu asyik sih, Ma.”

”Kalau memang belum selesai, lanjutkan lagi. Prangko yang dikeringkan tadi biar Mama yang urus.”

”Terima kasih, Ma. Mama sudah mewariskan dan mempercayakan pada Sisil untuk merawat koleksi Mama,” kata Sisil sambil mengecup pipi Mama. *****


(Majalah Sahabat Pena no. 384, Oktober 2000)

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help