vita's posts with tag: filateli

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag filateli
Category:Other
Dunia teknologi informasi berkembang sangat cepat. Banyak warung internet dibuka menawarkan sewa per jam dan paket dengan harga terjangkau dan kecepatan akes tinggi. Pengiriman berita melalui surat banyak beralih lewat internet dalam hal ini memakai electronic mail (e-mail) karena unggul dalam kecepatan dengan biaya yang terjangkau. Chatting atau bercakap-cakap melalui internet dapat dilakukan pada saat itu juga tanpa perlu waktu tunggu untuk memperoleh balasan dibandingkan dengan mengirim surat.

Gejala seperti ini tampak beberapa tahun belakangan banyak dialami filatelis terutama yang mempunyai sahabat pena di luar negeri. Bila sebelum krisis moneter filatelis bisa mengirim surat untuk tukar menukar benda filateli sampai lebih dari lima surat dalam satu bulan, sekarang belum tentu bisa sebanyak itu karena tingginya tarif surat pos udara ke luar negeri.

Dampaknya, filatelis jarang, enggan, atau bahkan berhenti sama sekali melakukan surat menyurat. Cara paling cepat mencari sahabat dengan chatting dan di sini istilah sahabat pena menjadi kuarng tepat, diganti dengan shabat elektronik. Semua serba cepat, mudah, dan murah, apalagi di dunia yang serba instan.

Pada pertengahan 1998 P.T. Pos Indonesia sempat memberlakukan tarif surat pos luar negeri yang sangat tinggi. Saat itu surat untuk tujuan Eropa tarifnya di atas Rp12.000, sehingga banyak kantor pos yang kekurangan prangko, karena saat itu yang tersedia di loket benda pos dan meterai hanya prangko nominal kecil. Untuk mengantisipasi kekurangan prangko, setiap surat tujuan luar negeri dibubuhi cap khusus tanpa prangko dan petugas loket menuliskan tarif surat yang berlaku sesuai negara tujuan. Cara seperti ini dilakukan di kantor pos tertentu.Kebijaksanaan dengan tarif surat yang sangat tinggi hanya berlaku kurang lebih dua bulan karena keberatan pelanggan sehingga P.T. Pos Indonesia merevisi kebijakan itu dengan menurunkan tarif.

Pilihan mengirimkan berita melalui surat atau e-mail akhirnya dikembalikan pada flatelis karena masing-masing ada kelebihan dan kekurangan.

KARTU KLUB
Hal yang sering ditanyakan apabila seseorang ingin bergabung dalam klub filatelis adalah apa keuntungan atau manfaat menjadi anggota. Pertanyaan demikian sering diajukan calon anggota klub filatelis. Salah satu keuntungan yang pasti, dengan adanya pertemuan rutin dapat mempererat hubungan sesama anggota dan kemungkinan memperoleh teman baru. Keputusan tentang kebijaksanaan lain tergantung peraturan masing-masing klub filatelis tetapi umumnya hampir tidak ada manfaat nyata lain.

Korespondensi banyak dilakukan filatelis dengan rekan-rekan dari luar negeri. Dengan kenaikan tarif surat pos ke luar negeri kalangan filatelis mengeluh keberatan dan semakin sulit untuk membina persahabatan. Bisa dikatakan keadaan perfilatelian di Indonesia mengalami kemunduran selangkah demi selangkah.

P.T. Pos Indonesia biakembali menggairahkan semangat untuk tetap berkorespondensi di kalangan filatelis dan menggalakkan gemar berkirim surat secara tidak langsung. Kalau selama ini klub filatelis hampir tidak punya faedah inilah saatnya P.T. Pos Indonesia menunjukkan kepedulian nyata pada filatelis. Tidak hanya bisa menjual benda-benda filateli dengan sekian banyak seri dalam satu tahun, dengan nominal yang tinggi pula, dengan berbagai prduk dalam satu seri, dan dengan jadwal yang sering tidak tepat.

Alternatifnya. Kartu klub dipakai sebagai kartu diskon. Setiap anggota yang akan mengirim surat ke luar negeri menunjukkan kartu klub yang masih berlaku. Petugas loket mencatat nomor kartu, nomor identitas, dan tujuan pengiriman surat dalam buku khusu. Nama pengirim harus sesuai dengan nama yang tertera di atas kartu klub. Selanjutnya pada sampul surat dicap ’potongan khusus’, sehingga surat tidak dikembalikan ke pengirim karena kekurangan prangko.

Majalah Sahabat Pena 409/ Agustus 2006

Review36. TEMA NATAL DALAM FILATELIDec 26, '07 8:06 PM
for everyone
Category:Other
Tema Natal dalam filateli masih kalah populer dengan tema lain seperti flora dan fauna. Mungkin karena benda-benda filateli dengan tema Natal lebih sulit dicari daripada tema dunia hewan dan tumbuhan. Hampir setiap negara di dunia menerbitkan tema flora dan fauna setiap tahunnya. Bahkan ada negara yang menerbitkan prangko flora dan fauna lebih dari sekali dalam setahun.

Sedangkan tema Natal biasanya hanya diterbitkan oleh negara-negara tertentu dan hanya sekali dalam setahun di bulan Desember. Indonesia sendiri bisa dikatakan hampir tak ada penerbitan prangko tema Natal. Meskipun agak sulit, tidak menutup kemungkinan filatelis menyusun tema Natal.

Jika koleksi benda-benda filatelinya masih sedikit, bisa dicoba cara lain dengan mencari benda filateli lain yang bisa disusun dalam lembaran kertas-kertas pameran. Kelas terbuka (Open Class) dalam suatu pameran filateli, memungkinkan menggabungkan koleksi benda filateli dan benda lain yang masih satu tema dengan perbanding- an 70 persen benda filateli dan 30 persen benda bukan filateli.

Sekadar gambaran, ada beberapa benda filateli bertema Natal yang cukup menarik. Misalnya, prangko stiker dari Belanda yang diterbitkan tahun 1998 berjumlah lebih dari sepuluh macam yang menampilkan rusa bertanduk, pohon Natal, rumah bersalju, pohon cemara, dan gambar-gambar menarik lain yang berhubungan dengan Natal. Prangko terbaru tema Natal diterbitkan dinas pos Belgia.

Selain itu, setiap tahun dinas pos Hong Kong dalam lembar buletinnya selalu mengumumkan pemakaian cap (stempel) pos bergambar tema Natal. Cap pos dengan tulisan Post Early Christmas berlaku selama bulan November. Di Indonesia, cap-cap pos dengan nama yang dekat hubungannya dengan Natal bisa ditambahkan. Contoh, cap pos dari Kudus di Jawa Tengah, Bintang di Takengon, dan Natal di Padangsidempuan.

Non Filateli

Benda-benda non filateli (bukan filateli) bertema Natal dapat dikumpulkan sebagai pelengkap koleksi dalam kelas terbuka, asalkan benda itu bisa masuk dalam lembar kertas pameran yang ukurannya sekitar 22,5 x 28,5 cm atau seukuran A3. Salah satu operator telepon selular di Indonesia menerbitkan seri Natal hampir tiap tahun. Kartu-kartu telepon itu antara lain menampilkan gambar Santa Claus, boneka salju, pohon cemara, dan lagu- lagu Natal.

Kartu Natal juga dapat dimasukkan untuk koleksi, walaupun kartu Natal semakin jarang diugnakan karena adanya layanan pesan singkat melalui telepon seluler yang lebih populer. Kartu Natal sendiri dapat didefinisikan sebagai kartu ucapan dengan gambar yang berkaitan dengan perayaan kelahiran Yesus Kristus.

Tema yang diusung bermacam-macam mulai dari kelahiran Kristus, pohon Natal, boneka salju, sampai gambar-gambar yang lebih beragam yang tidak berhubungan langsung dengan Natal.

Jadi, di sini dituntut kreativitas para filatelis untuk menyusunnya dalam lembar kertas pameran sehingga menjadi cerita yang menarik dari awal sampai akhir. Sebagai gambaran untuk Open Class di suatu pameran filateli, biasanya seorang filatelis harus membuat sekitar 16 sampai 32 lembar kertas pameran yang berisikan cerita utuh dilengkapi ilustrasi berupa benda filateli dan benda non filateli yang sesuai. Mau mencoba?

Suara Pembaruan, 23 Desember 2007


Review33. FILATELIS MALANG BANGKIT KEMBALIOct 29, '07 1:08 AM
for everyone
Category:Other
Setelah "tidur pulas" selama 6 tahun sejak pameran terakhir "100 Tahun Bung Karno" yang diadakan pada 2001, geliat filateli mulai dibangkitkan kembali di Kota Malang. Malang Philately Exhibition (Maphilex) 2007 akhirnya digelar berdasarkan program kerja Perkumpulan Filatelis Indonesia Pengurus Cabang (PFI PC) Malang Raya bekerja sama dengan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang, yang juga merupakan tindak lanjut program kerja sama PFI PC Malang Raya dan PT Pos Indonesia di Malang.

Kegiatan itu memang berawal dari kesepakatan bersama PFI PC Malang Raya, Dishub Kota Malang dan PT Pos Indonesia di Malang untuk mempromosikan filateli sebagai salah satu pilihan kegiatan dan hobi yang bermanfaat. Salah satu pilihan yang tepat melalui kegiatan pameran filateli.

Dengan segenap perjuangan, terbatasnya dana, dan terbatasnya jumlah filatelis yang masih aktif di Malang, jadilah Maphilex 2007 digelar di Malang Town Square (Matos) pada 7 - 9 September. Matos menjadi pilihan utama karena inilah pusat perbelanjaan paling ramai saat ini sebagai awal untuk memperkenalkan dan menumbuhkan kegemaran filateli serta menghidupkan kembali kelom- pok-kelompok filatelis di Malang.

Mungkin inilah pameran filateli yang juga paling unik, karena panel-panel dan meja bursa ditata di antara lorong sepanjang gerai-gerai yang ada di Matos. Dengan lebar 2 meter, panjang sisi selatan 30 meter, panjang sisi timur 35 meter, dan membentuk siku, pameran itu digelar sekaligus memperingati dan menyambut Hari Perhubungan 17 September dan Hari Bakti Pos 27 September.

Maphilex 2007 dibuka oleh Wali Kota Malang drs Peni Suparto, M.AP. Dalam sambutannya, beliau menyatakan kebanggaannya karena salah satu remaja kota Malang mewakili Indonesia dalam Youth ASEAN Stamp (YAS) Exhibition 2007 di Singapura, yaitu Simon Henry Setiawan. Di YAS itu, Simon juga berhasil meraih medali emas. Prestasi ini bisa menjadi pembuka jalan untuk menyelenggarakan pameran filateli tingkat internasional di masa yang akan datang, demikian ditegaskan walikota Malang.

Hadir dalam pembukaan itu Direktur Pos Direktorat Jenderal Pos dan Teleko-munikasi (Ditjen Postel) Woro Indah Widiastuti, Kasi Prangko Ditjen Postel Kendro P Drajat, dan sejumlah pejabat PT Pos Indonesia.

Menuju Panfila 2009

Salah satu tugas pokok fungsi Dishub bidang Postel adalah membina filateli. Inilah terobosan baru dari Dishub Kota Malang yang sudah terjalin selama 2 tahun ini. Awalnya pada pelaksanaan Festival Malang Kembali (FMK) 2006, dilanjutkan pada FMK 2007, kemudian pada Maphilex 2007 dan akan terus dilanjutkan pada tahun-tahun yang akan datang. Rencananya setiap tahun diadakan Maphilex sebagai agenda tetap.

Diakui, bahwa ada kesenjangan dari penggemar prangko usia sekolah dasar sampai SMA. Sesudah memasuki perguruan tinggi sampai usia 40-an, sebagian filatelis meninggalkan hobinya, entah untuk sementara waktu atau selamanya. Ada yang kemudian kembali menggeluti hobi mengoleksi prangko, namun banyak juga yang kemudian berhenti sama sekali dari dunia filateli.

Setelah melihat dan mengamati dari dekat gejala-gejala di atas, Kepala Bidang Postel Dishub Kota Malang, dra Atfiah El Zam Zami, MM dalam kesempatan terpisah mengusulkan, untuk memperkenalkan filateli kepada ibu-ibu saat arisan PKK yang diadakan sebulan sekali. Maksud- nya supaya ibu-ibu juga mengenal filateli sebagai hobi yang mempunyai manfaat di waktu senggang sekaligus memperkenalkan kegemaran ini pada anak-anaknya.

Selanjutnya Zam Zami menyatakan akan mengajukan Malang sebagai tuan rumah Pameran Nasional Filateli 2009. Selama ini pameran filateli banyak diadakan di ibukota provinsi. Sudah saatnya, Malang yang walaupun bukan ibu kota provinsi, dapat juga berkiprah di dunia filateli tingkat nasional. *****

Suara Pembaruan, 23 September 2007


Review32. MENGOLEKSI KARTU POSOct 29, '07 1:02 AM
for everyone
Category:Other
Banyaknya pemakai telepon genggam semakin menggeser pengiriman berita melalui surat dan kartu pos. Surat digunakan untuk mengirim berita yang panjang, sedangkan kartu pos dipakai untuk berita singkat dan untuk pengiriman kuis atau teka teki silang. Pengiriman surat dan kartu pos lewat pos memang membutuhkan waktu tetapi kedekatan antara pengiriman dan penerima surat lebih terasa dan tidak bisa tergantikan.

Di Indonesia banyak orang yang lebih suka berbicara melalui telepon daripada menulis sepucuk surat. Budaya menulis semakin ditingkatkan karena kita lebih senang dengan budaya instan, budaya serba cepat, berita yang cepat sampai, cepat ditangkap oleh indera pendengaran lewat telepon (atau indera penglihatan dan pendengaran lewat televisi), dan cepat dilupakan. Berita singkat bisa dikirim melalui layanan pesan singkat (SMS), dikirim pada saat itu dan sampai beberapa detik kemudian. Praktis dan tidak membutuhkan banyak waktu. Jika sekarang kuis- kuis yang dikirim lewat SMS dengan tarif premium semakin marak, mungkin dalam 10 tahun mendatang tidak ada lagi pengiriman kuis melalui kartu pos. Akhirnya kartu pos menjadi barang langka.

Di kalangan filateli, mengumpulkan kartu pos yang diterbitkan oleh PT. Pos Indonesia (Persero) masih kalah popular dibanding kegiatan mengumpulkan prangko-prangko Indonesia. Walaupun penerbitan kartu pos tidak sesering penerbitan prangko yang sudah ada jadwalnya, namun jika kolektor telaten, ternyata banyak kartu pos yang sudah diterbitkan.

Terdapat tiga jenis kartu pos. Kartu pos bercetakan prangko, kartu pos lunas dan kartu pos biasa. Kartu pos bercetakan prangko adalah kartu pos yang prangko dan nilai prangkonya sudah dicetak di atasnya. Praktis karena tak perlu menempelkan prangko bila digunakan untuk pengiriman pos. Nilai nominal prangko berbeda-beda tergantung tarif pos yang berlaku pada saat kartu pos diterbitkan. Beberapa contoh kartu pos bercetakan prangko setelah 1992 yang pernah diterbitkan: Kartu pos Indopex '93, Kartu pos Jakarta '95, Kartu pos tarian daerah '94, Kartu pos Sea Games ke 19 Jakarta '97 dan Kartu Pos Timor Timur '98.

Kartu pos lunas fungsinya sama dengan kartu pos bercetakan prangko. Yang membedakan pada kartu pos ini tidak dicantumkan nilai prangkonya sehingga jangka pemakaian waktu lebih panjang. Apabila terjadi perubahan tarif pos, kartu pos tidak perlu ditarik dari peredaran. Sebagai pengganti nilai nominal prangko, kata prangko lunas atau biaya kirim lunas dicetak di atasnya.

Kartu pos sayembara yang terbit tahun 1997 dengan kata prangko lunas terdiri dari 6 gambar olahraga yaitu sepak bola, bulu tangkis, panahan, angkat besi, bola basket dan tinju. Kartu pos Kesetiakawanan Sosial Nasional (KSN) terbit tahun 1998 dengan kata biaya kirim lunas, terdiri dari 4 gambar bunga.

Kartu Pos biasa merupakan kartu pos dimana pengirim harus menempelkan perangko sebagai biaya pelunasan. Kartu pos jenis ini banyak serinya, terutama sesudah peredaran kartu pos konvensional berwarna kuning. Kartu pos warna putih dengan lambang PT. Pos Indonesia yang lama menampilkan Candi Borobudur dan pembakaran mayat. Kartu pos Tahun Telekomunikasi Indonesia 1997 Visit Indonesia Decade 1991 - 2001 menampilkan senjata tradisional, alat musik tradisoinal dan tempat tempat wisata di beberapa daerah. Kartu pos seri Gerakan Disiplin Nasional (GDN) cukup menarik karena menampilkan beberapa perusahaan (9 macam) seperti Djarum, Taspen, Telekomindo, Telkom, Bapindo Tabungan Mitra, BNI Taplus, Bank Indonesia, Phillips dan Kopi bubuk Kapal Api dari P.T Santos Jaya Abadi.

Kartu pos remaja terdiri dari beberapa seri. Seri layanan jasa pos terdiri dari 4 kartu pos yang menampilkan gambar fauna dengan produk W-net, cek pos wisata. EMS, dan surat bisnis elektronik. Seri oleh raga, flora fauna, tempat wisata merupakan tema tema yang ditampilkan dalam kartu pos remaja. Belakangan, dicantumkan nomor seri / urut kartu pos di pojok kanan bawah sehingga mudah bagi kolektor yang melengkapi koleksinya. Ada pula kartu pos seri 100 tahun Bung Karno (4 macam); SCTV ngetop, Kampanye nasional Gerakan Sadar Lingkungan (KN-GSL) dan Gerakan Nasional Gemar Berkirim Surat (GNGBS) - 50 tahun Indonesia Merdeka.

PT Pos Indonesia beberapa kali tercatat mengeluarkan kartu kartu pos istimewa yang peredarannya tidak di semua wilayah. Kartu pos kuning ucapan dukacita wafatnya Hj. Fatimah Siti Hartinah Soeharto yang dicetak di belakang kartu pos. Kartu ucapan selamat atas pelantikan sebagai presiden dan wakil presiden RI periode th 2004 - 2009. Tampak muka di kiri atas foto Susilo Bambang Yudoyono - Muhammad Jusuf Kalla. *****

Suara Pembaruan, 29 Juli 2007


Category:Other
Seru, meriah, dan menyenangkan. Itulah kesan sebagian besar pengunjung yang menghadiri acara "Malang Kembali 2007", yang digelar dalam rangka ulang tahun ke-93 Kota Malang ke-93. Acara yang diselenggarakan Pemerintah Kota Malang itu sukses digelar dari 2 sampai dengan 6 Mei 2007. Acara tersebut digelar di sepanjang Jalan Ijen , Perpustakaan Daerah, dan Museum Brawijaya. Pilihan jatuh ke Jalan Ijen, karena jalan tersebut merupakan boulevard-nya Malang yang menjadi ciri khas kota ini sejak zaman dulu.

Diikuti lebih dari 250 stan dari berbagai golongan mulai dari pedagang kaki lima, kalangan pendidikan, kelompok penggemar sepeda angin/sepeda onthel zaman dulu, sampai pemilik mobil mercy kuno yang pernah dipakai oleh Bung Karno, semua disajikan dalam nuansa Malang Tempo Doeloe, mulai dari zaman Hindia-Belanda, Jepang hingga awal kemerdekaan RI.

Pengunjung dan penjual banyak yang memakai busana zaman dulu. Ada kebaya, rok noni Belanda, celana monyet, kopiah, blangkon, serta topi bundar khas pemilik-pemilik perkebunan di zaman Hindia-Belanda. Sederhana namun hasilnya tampak meriah dan kental dengan nuansa tempo dulu. Apalagi sekelompok penggemar sepeda angin berseliweran sepanjang jalan dengan pakaian ala pejuang serta pakaian kebesaran Jenderal Sudirman.

Berkaitan dengan acara itu, Kantor Pos Besar Malang bekerja sama dengan Perkumpulan Filatelis Indonesia (PFI) Cabang Malang dan Dinas Perhubungan Kota Malang tak mau kalah. Mereka tampil menyajikan suasana Kantor Pos Malang tempo dulu, yang lengkap dengan mesin hitung, timbangan surat, dan radio kuno, yang digelar pula di Jalan Ijen. Koleksi filateli tentang perjalanan pos di Malang, turut ditampilkan. Surat pos, kartu pos, dan wesel dengan cap (stempel) pos Malang, dipasang di dalam empat frame di teras Perpustakaan Daerah Kota Malang. Koleksi filateli itu banyak menarik perhatian pengunjung, yang selalu berkerumun menyaksikan sejarah masa lalu pos di kota itu melalui benda-benda filateli yang dipamerkan.

Tak cukup sampai di situ. Ketua PFI Cabang Malang, Hendriyanto, bekerja sama dengan Kantor Pos Malang membuat kartu pos peringatan Malang Tempo Doeloe. Kartu pos ini hanya dicetak 1.000 seri saja, tiap seri terdiri dari 8 macam kartu pos bergambar hitam putih. Jumlah cetak untuk seri tahun ini yang mengangkat tema bangunan, lebih banyak 500 seri dari pada jumlah cetak seri pertama tahun lalu. Gambar kartu pos menampilkan foto-foto Malang zaman dulu yang diambil dari Malang Beeld van Een Stad oleh A Van Schaik. Ada 8 gambar yang ditampilkan yaitu, Pasar Besar Petjinan, Pasar Besar, Bioskop Grand, Bioskop Rex, Sekolah Cor Jesu, Masjid Agung Jami, Hotel Pelangi, dan Hotel Splendid. Dalam kartu pos itu, tertera pula tulisan "Malang Tempo Doeloe" dan lokasi foto yang tampil pada kartu pos tersebut. Sedangkan di pojok kiri bawah tertera logo Pos Indonesia Malang 65100 dan di pojok kanan bawah logo PFI Malang Raya.

Kantor Pos Malang memberikan nilai lebih pada kartu pos peringatan ini. Dengan izin kepala kantor pos Malang diterbitkan cap peringatan bebas bea kirim dalam negeri. Dengan cap ini kartu pos dapat dikirimkan tanpa membubuhkan prangko lagi. Nilainya sama dengan ongkos kirim kartu pos dalam negeri dan harus dikirimkan dari Malang. Masa lakunya sama dengan prangko berlangganan. Kartu pos yang diberi cap khusus ini tersedia hanya 200 seri saja. Harga kartu pos per set Rp 15.000 (tanpa cap) dan Rp 25.000 (dengan cap). Sedangkan untuk eceran dijual seharga Rp 2.500 tiap lembarnya.

Karena dijual pada saat yang tepat, harga terjangkau dan tampilan menarik, masyarakat umum dan filatelis menyukai dan "berburu" untuk memilikinya. Apalagi kartu pos tersebut tidak dicetak ulang, serta cetak birunya dan cap khususnya segera dimusnahkan.

Secara keseluruhan, acara "Malang Kembali 2007" sangat berarti bagi kota tersebut, karena mampu menarik minat masyarakat dan turis untuk bernostalgia. Kabarnya acara tersebut telah diagendakan menjadi acara tahunan kota Malang. Jika benar demikian, tidak mustahil tahun depan akan diterbitkan lagi kartu pos sejenis dengan tema yang berbeda. *****

Suara Pembaruan, 20 Mei 2007


Review27. MENGENAL TUBUH PRANGKOOct 4, '07 3:04 AM
for everyone
Category:Other
Kita semua pasti sudah tahu prangko. Tetapi pernahkah kita memperhatikan prangko? Seperti tubuh manusia, prangko juga mempunyai anatomi, lho! Apa saja yang menjadi bagian tubuh prangko? Yuk, kita lihat!

Nama Negara
Setiap prangko yang diterbitkan, wajib mencantumkan nama negara, sehingga penerima mengetahui negara asal pengirim surat. Kecuali Inggris yang tidak perlu mencantumkan nama negara karena merupakan negara pertama yang mecetuskan pemakaian prangko.

Nama negara tercetak dalam bahasa dan huruf yang dipakai secara resmi oleh Negara yang bersangkutan. Artinya tidak semua nama negara tercetak dalam huruf Latin. Ada yang tercetak dalam huruf Rusia, Cina, Arab, dan lain-lain.

Nilai nominal
Nilai nominal atau yang biasa disebut harga, tercantum pada prangko. Ada negara yang mencantumkan harga prangko dengan mata uang yang berlaku, termasuk dalam pecahan terkecil, misalnya dalam sen. Ada yang tidak.

Beberapa negara diEropa memakai mata uang Euro mencantunkan harga prangko alam dua satuan mata uang. Yaitu dalam mata uang yang sebelumnya berlaku dan dalam mata uang Euro. Misalnya Jerman dan Italia.

Fosfor
Fosfor adalah tanda yang terletak di bagian dalam kertas prangko dan tembus cahaya. Gunanya untuk mencegah dan mempersulit pemalsuan. Apabila prangko Indonesiadibentangkan pada cahaya, akan tampak logo P.T. Pos Indonesia. Tiap negara mempunyai tanda fosfor yang berbeda-beda.

Gambar dan judul
Prangko memuat gambar yang menarik serta judul yang sesuai dengan maksdu dan tujuan sampingan. Misalnya untuk promosi atau peringatan.

Tahun terbit
Menunjukkan tahun prangko diterbitkan oleh dinas pos negara yang bersangkutan.

Perforasi
Perforasi adalah libang-lubang yang ada di sekeliling prangko untuk memudahkan menyobek prangko. Jumlah perforasi tiap prangko tidak sama. Jumlahnya antara 7 sampai 17. Besarnya lubang juga berbeda-beda. Ada yang memiliki ukuran ½, ¼, atau ¾. Untuk mengukurnya digunakan pengukur perforasi.

Bingkai atau garis tepi
Pada awalnya gambar pada prangko memiliki bingkai sehingga tampak rapi. Sekarang gambar pada prangko umumnya tidak memiliki bingkai. Gambar dicetak memenuhi seluruh prangko sampai ke perforasinya. *****



(Majalah Kreatif no. 6 tahun 2005)

Review25. PEKAN SURAT MENYURAT INTERNASIONAL (PSMI)Oct 4, '07 2:59 AM
for everyone
Category:Other
Surat. Satu kata yang terdiri atas lima huruf itu sudah sering kita dengar bahkan erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Memberitakan kabar gembira dan menyampaikan kabar duka dapat dilakukan di atas kertas dengan komunikasi tertulis. Dengan surat, kita bisa berkomunikasi tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, dan umur. Semua lebur menjadi satu dalam ikatan persahabatan yang erat.

Dengan surat, jarak yang jauh tidak menjadi halangan uatam. Tidak ada bedanya mempunyai sahabat pena di dalam atau di luar negeri. Kita dapat berkelana dari satu daerah ke daerah lain dan mengelilingi dunia bertukar informasi dengan menceritakan ragam budaya, peninggalan sejarah, atau pesona alam masing-masing daerah atau negara. Hal-hal menarik lainnya bisa ditulis apalagi disertai kiriman kartu pos bergambar sekaligus sebagai promosi pariwisata.

Untuk menyambut hari UPU (Universal Postal Union atau Uni Pos Sedunia) 9 Oktober dan untuk memperat persahabatan dengan sesama di seluruh dunia, maka tiap administrasi pos yang menjadianggota UPU menyelenggarakan Pekan Surat Menyurat Internasional (PSMI) atau Internasional Letter Writing Week. Ide ini muncul pertama kali pada kongres UPU di Ottawa Kanada tahun 1957. Indonesia sebagai bagian dari dunia ikut ambil bagian dalam menyelenggarakan PSMI yang berlangsung selama dua minggu setiap tahun yaitu 8-12 Oktober sejak 1958.

Untuk mendukung PSMI, P.T. Pos Indonesia (Persero) menyediakan sampul surat khusus yang berbeda setiap tahun dengan tema dan ilustrasi gambar lengkap dengan tanggal, bulan, dan tahun penyelenggaraan. Tersedia cap khusus PSMI yang dilakukan di kantor pos yang ditunjuk. Tema PSMI 2002 adalah ”Mari selamatkan laut kita” (Save the marine life). Tema pada tahun-tahun sebelumnya antara lain Tahun Bahari dan Dirgantara (1996), Indonesia 2000 (1997), Tahun seni dan budaya (1998), Masalah komputer tahun 2000 Millenium Bug?MKT 2000 (1999), Lingkungan hidup era millenium, saatnya bertindak nyata (environment in millenium era – a time to get down to work) (2000), Koeat karena bersatoe, bersatoe karena koeat – 100 tahun proklamator (2001).

Masyarakat terutama pelajar, mahasiswa dan khususnya filatelis yang mengirim surat dengan sampul khusus PSMI dari kantor pos yang sudah ditetapkan akan dibubuhi cap khusus dan cap tanggal. Untuk pembubuhan cap ada aturan khusus. Cap tanggal kantor asal hendaknya dibubuhkan pada bagian alamat sampul PSMI dan bukan pada prangkonya. Cap khusus harus dibubuhkan pada sampul PSMI yang diposkan tanggal 8 Oktober (untuk tahun 2002 mulai 7 Oktober) sampai dengan 21 Oktober pada tahun yang sedang berlangsung, sehingga sebagian mengenai prangkonya dan sebagian lagi mengenai sampulnya, dengan memakai tinta cap tanggal warna hitam. Permintaan filatelis untuk pembubuhan cap khusus pada prabgko yang sudah direkatkan di sampul PSMI (khusus kurun waktu selama PSMI) hendaknya dipenuhi. Sampul akan lebih bernilai dan menarik apabila prangko dengan tema yang sesuai, lebih baik lagi apabila dikirim dengan surat tercatat.

Yang menjadi kendala utama bagi filatelis selama ini, pada saat PSMI berlangsung sampul khusus kadang-kadang belum dijual di loket benda pos dan meterai atau atang terlambat. Filatelis yang khusus mengumpulkan cap PSMI dari berbagai kantor pos yang diinginkan menjadi kesulitan karena terlambat. Hambatan lain yang cukup mengganggu adalah tidak tersedianya prangko dengan tema yang sesuai, sehingga terpaksa memakai prangko lain. Hal ini akan mengurangi nilai sampul tersebut. Untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan seperti di atas, P.T. Pos Indonesia hendaknya mencantumkan tema PSMI bersamaan dengan jadwal penerbitan prangko yang dikeluarkan setiap awal tahun, sehingga filatelis bisa menyiapkan prangko dengan tema seuai jauh-jauh hari sebelumnya. Ini mudah dilakukan karena tema PSMI pada tahun yang berjalan disesuiakna dengan salah satu tema penerbitan tahun itu.

Melalui surat kita turut ambil bagian dalam menciptakan perdamaian dunia yang didambakan setiap insan di muka bumi ini. Tidak ada dendam, curiga, dan amarah. Keserakahan dan kesombongan segelintir manusia membuat dunia terpecah-belah hanya untuk memenuhi ambisi pribadi mereka. Kedamaian akan datang dan tercipta apabila manusia saling menghargai dan menghormati. Dengan berkirim surat kepada teman dan sahabat pena di berbagai belahan dunia ini, kita semua berharap akan tercipta perdamaian dan persaudaraan. Betapa damainya bumi ini bila tidak ada sengketa dan perang, manusia hidup rukun dan berdampingan, saling mengasihi. Bumi kita satu. *****


(Majalah Sahabat Pena no. 396, Oktober 2004)


Review22. SURAT-SURAT YANG KEMBALIOct 4, '07 2:51 AM
for everyone
Category:Other
Apakah kalian seorang filatelis? Jika dengan tegas kalian menjawab YA, jangan buru-buru mengklaim diri sebagai seorang filatelis sejati karena definisi dari arti filatelis sangat luas. Filatelis yang dikenal selama ini mempunyai batasan arti yang sempit padahal untuk menjadi seorang filatelis sejati yang benar-benar mumpuni butuh waktu yang cukup panjang.

Kegiatannya tidak terbatas hanya mengumpulkan prangko-prangko bekas dan prangko mint saja. Namun kalian bisa mulai belajar dari sekarang.

Seorang filatelis umumnya tak lepas dari surat karena dengan korespondensi selain menjalin hubungan yang lebih erat dengan sahabat pena, bisa memperoleh keuntungan lain yaitu tukar menukar ilmu pengetahuan dan kebuadayaan.

Jika kalian menerima surat lalu melihat prangko yang menempel di atas sampul cukup menarik, jangan lantas digunting begitu saja, tetapi telitilah dulu surat-surat yang kalian terima.

Ada kalanya kalau kalian jeli meneliti surat, kadang-kadang ada cap entah itu cap dinas atau cap slogan atau cap-cap resmi dari kantor pos yang diterakan di atas sampul. Salah satu jenis cap tersebut adalah return to sender (kembali ke pengirim).

Ada macam-macam sebab mengapa surat-surat tersebut bia tidak sampai kepada penerima surat. Dalam teraan cap tertulis :


1. Alamat kurang lengkap
Untuk menjamin surat sampai kepada penerima, penulisan alamat yang jelas dan lengkap disertai kode pos sangat mutlak diperlukan. Ini untuk memperlancar petugas pos menyampaikan surat. Alamat yang kurang lengkap menjadi salah satu kasus yang paling sering terjadi. Bla pada surat tersebut dicantumkan alamat pengirim maka surat akan dikembalikan dan bila alamat pengirim tidak tercantum, surat akan diperlakukan sebagai surat buntu.

2. Tidak dikenal
Kasus ini meskipun jarang terjadi tapi tetap ada. Mungkin terjadi bila alamat yang tertera sudah betul tetapi nama penerima tidak ada pada alamat yang dituju.

3. Pindah/pergi
Kasus ini seringterjadi karena penghuninya sudah pindah atau pergi dan tidak memberikan alamat yang baru kepada petuga pengantar pos (tidak memberitahukan kepada pihak pos). Untuk menghindari terjadinya kasus ini, sebelum pindah ke alamat baru hendaknya penghuni meminta surat pindah ke kantor pos.

Pada surat pindah tersebut dicantumkan alamat lama dam alamat baru lalu beikan kartu ini ke bagian ekspedisi. Dengan demikian apabila ada surat tiba dengan menggunakan alamat lama petugas pos bia menerakan alamat yang baru untuk kemudian diteruskan ke alamat tersebut.

4. Tidak diambil
Seseorang atau pemakai jasa pos tidak selamanya mencantumkan alamat yang sebenarnya dengan berbai pertimbangan. Mungkin saja surat-surat yang diterima dalam jumlah yang sangat banyak atau bisa juga karena merupakan suatu perusahaan sehingga perlu untuk menyewa sebuak kotak pos dalam jangka waktu tertentu. Surat-surat yang tiba dimasukkan dalam kotak pos dan pengambilan bisa dilakukan sewaktu-waktu oleh pemilik.pebyewa kotak pos. Apabila penyewa kotak pos pindah tanpa pemberitahuan maka yang terjadi adalah surat-surat yang tidak diambil oleh pemiliknya.

5. Ditolak
Kasus ini serupa dengan kasus nomor 2 di mana penerima menolak surat yang dikirimkan melalui pos karena suatu sebab.

6. Meninggal dunia
Apabila penerima surat meninggal dunia. Kasus ini bisa terjadi jika penerima memperoleh surat tercatat di mana yang benar-benar berhak menerima adalah nama yang tertulis di atas sampul.

Jenis surat-surat return to sender sampai sejauh ini yang baru penulis ketahui ada 7 macam dengan tipe dan warna tinta yang berlainan, hitam, ungu, dan biru. Tetapi ada surat yang kembali tanpa cap return to sender namun dengan tulisan tangan dari petugas pos dengan catatan ’rumah selalu kosong’ dan ’pintu selalu terkunci’.

Jenis yang terakhir ini berbeda dengan ke-7 jenis lain. Pada jenis ini tercantum tulisan dengan cap kembali si pengirim karena :
1. Prangko kurang sebesar Rp. _________________
2. Prangko bekas, harap diganti prangko sebesar Rp. ______________
3. Yang tertempel meterai, harap diganti prangko sebesar Rp. _____________

Jika kalian tertarik mengumpulkan surat-surat jenis ini, bisa dimulai dari sekarang meskipun tergolong sulit karena surat jenis ini bukan suatu kesengajaan (kecuali kalau benar-benar disengaja dengan membuat nama dan alamat palsudengan harapan surat yang dikirimkan akan kembali dengan ’capnya’). Bisa dikumpulkan untuk melengkapi koleksi. *****


(Majalah Sahabat Pena no. 365, Maret 2002)







Review21. MEMBENTUK KLUB FILATELI MANDIRIOct 4, '07 2:42 AM
for everyone
Category:Other
Dalam buku Mengenal Seluk Beluk Filateli yang disusun oleh H. Soerjono, Bc.AP. dan Bethold DH Sinaulan, SS disebutkandalam Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga PFI bahwa klub-klub filateli merupakan tulang punggung seluruh kegiatan filateli. Tujuan dibentuknya klub-klub ini adalah untuk memperkenalkan dan memasyarakatkan kegiatan filateli serta mengambil manfaatnya selain untuk menggalakkan Gerakan Nasional Gemar Berkirim Surat (GNGBS).

Setelah melalui penataran filateli tahap I dan tahap II para Pembina filateli diharapkan dapat menularkan ilmu yang diperoleh selama mengikuti penataran kepada calon-calon filatelis. Pembina filateli dapat berasal ari utusan sekolah, organisasi pemuda, pramuka, atau karang taruna. Pertimbangan pemilihan kelompok ini diambil karena mereka mempunyai akses langsung kepada murid-murid dan anggota organisasi, selain itu kelompok inilah yang paling potensial untuk diarahkan dan dibina. Dengan persyaratan minimal 10 orang, pembina dapat membentuk klub filatelis sendiri.

Kumpulan klub filateli yang berada di wilayah kabupaten yang sama dihimpun dalam satu wadah organisasi yang lebih besar dalam PFI cabang. Akhirnya PFI cabang inilah yang mempunyai akses langsung terhadap kantor pos setempat.

Untuk mencapai tujuan klub perlu dibentuk pengurus yang akan memegang kedali terhadap jalannya kegiatan organisasi filateli. Pengurus inti terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara, dan jika perlu dibentuk seksi-seksi.

Dengan pengorganisasian yang rapi klub filatelis dapat menambah semangat untuk melaksanakan kegiatan filateli bersama-sama. Masing-masing anggota saling berkenalan, memberi informasiuntuk meningkatkan pengetahuan filateli dan tukar menukar informasi lain.

Melalui pengurus inti disusun rencana kegiatan klub antara lain ceramah dan tanya jawab yang dapat ditempuh dengan cara mencari penceramah dari filatelis senior atau dari pegawai kantor pos setempat untuk memperluas wawasan bidang filateli dan bidang pos. Praktek langsung tenatng cara melepas prangko yang benar dapat diberikan terutama kepada filatelis junior.

Acara khusus dapat diselenggarakan pada hari ulang tahun klub, masing-masing anggota membawa hadiah untuk tukar menukar, widya wisata filateli ke kantor pos dan museum filateli, dan mengunjungi klub filateli lain. Untuk merangsang minat anggota terhadap filateli, pengurus dapat membuat kuis tertulis atau langsung, kuis filateli semacam kata berkait, dan acara lain yang menarik. Sedangkan untuk menarik calon anggota yang berminat, pengurus bisa mengumumkan kepada anggotanya bahwa anggota aktif yang membawa minimal 5 orang tema nuntuk menjadi anggota klub akan mendapat bonus beupa benda filateli atau perpanjangan kartu anggota gratis.

Untuk menunjang kegiatan operasional klub, dana bisa diperoleh melalui iuran anggota pada saat mendaftar atau daftar ulang yang belaku selama satu tahun, penarikan komisi dari bursa pedagang prangko (yang dibuka setelah pertemuan selesai sehingga pembinaan bisa berlangsung karena filatelis tidak tergoda hanya untuk membeli benda-benda filateli), lelang, penjualan buletin berkala, dan para donatur bila ada.

Sudah menjadi hal umum di luar negeri, Amerika Serikat misalnya, sebuah klub filateli di suatu seklah meminta donatur yang mau menyumbang benda-benda filateli (umumnya prangko bekas) yang diumumkan secara terbuka dalam majalah atau koran filateli.

Dari klub-klub yang bersifat umum artinya klub tersebut hanya membahas filateli secara umum. Akhirnya lahirlah klub-klub khusus yang membahas tema-tema tertentu misalnya klub yang khusus membahas studi filateli tentang Lundy (ebuah pulau kecil di sebelah barat Inggris yang pernah menerbitkan prangko lokal), studi filateli tentang benda-benda filateli selama Perang Dunia II, dan tema-tema lain.

Salah satu klub filateli yang masih berdiri dan bertahan adalah PPRM (Perkumpulan Philatelist Remaja Malang) yang disahkan di depan notaris pada 27 Oktober 1985. Anggota terbuka untuk tua dan muda. Klub ini menerbitkan buletin dua bulan sekali bernama AHLI (Aku Hobi Filateli). Pertemuan diadakan pada hari Minggu ketiga setiap bulan di Kantor Pos Besar Malang lantai I. *****


(Majalah Sahabat Pena no. 372, Oktober 2002)

Review17. PRANGKO 3 MOct 3, '07 10:11 PM
for everyone
Category:Other
Prangko 3M merupakan singkatan dari marathon, missal, dan monoton. Prangko jenis mana yang dimaksud dengan prangko 3M? Tak lain adalah prangko definitif yaitu prangko yang diterbitkan untuk memenuhi pemrangkoan sehari-hari dan tidak berkaitan dengan suatu kejadian atau peristiwa.

Apabila diuraikan satu per satu maka penjelasannya adalah sebagai berikut :
1. Maraton
Umumnya prangko definitif mempunyai rancangan gambar yang sederhana dan cenderung membosankan sehingga terkesan bahwa seolah-olah rancangan dibuat secara maraton.

2. Massal
Jumlah cetak prangko definitif tidak dibatasi sampai ada instruksi penarikan peredaran oleh pemerintah dalam hal ini Dirjen Postel. Untuk setiap pecahan harga dicetak dalam jumlah yang berbeda, biasanya prangko yang memiliki nilai nominal rendah dicetak lebih banyak dari prangko dengan nilai nominal tinggi. Apabila persediaan prangko tinggal sedikit, prangko definitif akan dicetak ulang.

3. Monoton
Sebagian besar prangko definitif menampilkan desain yang sederhana sehingga membosankan karena tidak ada segi yang menarik. Biasanya adalah gambar kepala negara atau lambang negara.

Pesona di balik definitif
Setiap negara pasti menerbitkan prangko definitif. Contohnya adalah kerajaan Denmark yang menerbitkan seri Wavy Line (bergambar gelombang), Small National Coat of Arms (lambang kerajaan Denmark) dan Queen Margarethe II. Dari kerajaan Inggris yang sejak prangko pertama terbit tahun 1840 bergambar Queen Victoria, King Edward VII, King George V, sampai Queen Elizabeth II. Indonesia menerbitkan seri Presiden Soekarno, Presiden Soeharto.

Tetapi tahukah kalian bahwa di balik desain yang sederhana dan membosankan tersimpan suatu pesona yang menarik di balik prangko ini?

Sebagai contoh bisa disimak dari penerbitan prangko definitif Inggris seri Queen Elizabeth II (QE II). Prangko ini dicetak dengan nominal yang terendah sampai nominal tertinggi dengan warna yang beragam.

Desain bisa sama tetapi pencetaknya berbeda-beda. Ada yang dicetak dengan teknik photogravure oleh Harrison and Son Ltd dengan band fosfor. Band fosfor ini masih bermacam-macam jenisnya, ada yang berada di tengah, di sisi kiri, dan di sisi kanan, serta ada yang 2 band. Ada yang dicetak dengan pencetak yang sama seperti di atas tetapi dengan kertas biasa dan kertas berfosfor. Ada yang dicetak dengan teknik lithography oleh John Waddington Ltd.

Sisi lain yang bisa dipelajari adalah dari segi warna dan band prangko. Meskipun nilai nominalnya sama tetapi bisa memiliki beberapa warna dan band yang berbeda. Contohnya seri QE II nominal 23p tahun 1983 berwarna brown red dan nominal 23p tahun 1988 berwarna bright green. Lalu seri QE II dengan nominal 12½p yang terbit tahun 1982 berwarna light emerald memiliki 3 macam band yaitu di sisi kiri, tengah dan kanan.

Daftar prangko definitif seri QE II ini masih bisa diperpanjang dengan penerbitan dari negara bagian Wales, Irlandia Utara, dan Scotland.

Baru-baru ini Royal Mail (kantor pos Inggris) menerbitkan millenium definitive bergambar QE II tanpa nominal (untuk pengiriman surat dalam negeri first class) yang tebit 16 Januari 2000 dengan warna emas kecoklatan latar belakang putih (Linn’s 13 Desember 1999).

Prangko definitif bergambar kepala negara atau lambang negara terlihat membosankan. Tetapi jika kalian mempunyai rasa penasaran maka susunlah prangko tersebut secara berderet, melengkapinya sedikit demi sedikit an akan kalian temui suatu ’pemandangan’ yang menakjubkan di balik kesuraman dan keseragaman prangko jenis ini.

Yang jelas dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan untuk mengumpulkannya seperti halnya seri QE II yang ratusan jumlahnya.

Jika tidak suka dengan prangko jenis ini ada alternatif lain mengumpulkan prangko definitif dengan gambar dan desain yang menarik dan tidak lagi membosankan. Saat sekarang sudah banyak negara yang menerbitkan prangko definitif dengan desain yang beragam mulai dari flora, fauna, dan gambar lain yang menarik. Bisa disebutkan seperti Vietnam yang menerbitkan seri kerajinan (1998), bambu, rotan dan bunga (1996), lalu Korea Utara dengan desain monumen yang berjumlah 12 prangko, Liechtenstein menerbitkan pemandangan desa, Vanuatu dengan penari #1 tahun 1999 berjumlah 7 prangko, dan lain-lain. Indonesia mengeluarkan definitif seri jamur dan bebek yang cukup menarik sebagai terobosan awal terhadap prangko sejenis (bandingkan prangko definitif seri Pelita dan kepala negara). *****


(Majalah Sahabat Pena no. 362, Desember 2001)

Review16. CAP POS MENDUKUNG KOLEKSIOct 3, '07 10:09 PM
for everyone
Category:Other
Ada empat macam cap tanggal, yaitu cap tangan, cap palu, mesin cap, dan cap roda. Cap tanggal dipakai untuk mengecap prangko, prangko pungut dan teraan prangko yang masih berlaku supaya tidak digunakan lagi. Fungsi kedua untuk mengecap surat pos, formulir, dan sebagainya. Angka-angka pada cap tanggal menunjukkan tanggal, bulan, tahun, jam, dan nama kota, kecamatan atau daerah.

Untuk membubuhi teraan cap tanggal, ada beberapa syarat yang harusdipenuhi: angka-angka masih baik dalam arti belum aus, cap tanggal harus bersih, bantalan cap masih utuh, tidak robek dan tidak berdebu, dan tinta pada bantalan cap harus cukup, artinya tidak berlebih dan tidak kurang. Sedangkan cara membubuhi cap tanggal adalah teraan cap harus jelas dan hitam tua, teraan harus mengenai prangko sekurang-kurangnya separuh prangko.

Filatelis harus mengetahu seluk beluk cap pos untuk menunjang koleksinya. Teraan cap yang ringan, bersih, dan udah dibaca menjadi syarat mutlak. Teraan cap yang tepat pada prangko sesuai dengan pengembangan tema merupakan nilai tambah dalam penilaian pameran kompetisi.

Pembahasan tenatng cap pos tidak lepas dari sejarah pos Indonesia yang wilayahnya terdiri dari pulau-pulau besar dan kecil dipisahkan oleh lautan. Karena keterbatasan infrastruktur, ada pulau-pulau dan daerah terpencil yang terisolasi.

Untuk mengatasi keterbatasan itu, P.T. Pos Indonesia sejak belum berubah status beberapa kali menjadi pelopor dalam membuka keterisolasian masyarakat di bidang komunikasi dan distribusi barang dan jasa. Caranya dengan menjamin perhubungan pos di seluruh wilayah sampai ke pelosok-pelosok dan pulau-pulau terpencil dengan biaya seragam dan yang dapat dibayar oleh rakyat.

Karena itu, banyak unit pelayanan pos yang berdiri disesuaikan dengan kondisi setempat seperti Rumah Pos, Pos Desa, Kantor Pos Desa, Agen Pos Desa, danAgen Pos denga nkerja sama P.T. Pos Indonesia dengan pihak lain.

Yang dimaksud dengan pihak lain adalah instansi pemerintah dalam hal ini departemen transmigrasi untuk rumah pos, kantor kecamatan untuk kantor pos desa, kantor desa dan kelurahan untuk pos desa, atau dengan pihak ketiga lainnya. Bila perkembangan semakin pesat, ramai dan ada pertambahan penduduk serta pertumbuhan ekonomi di lokasi transmigrasi, tidak menutup kemungkinan rumah pos beralih fungsi menjadi kantor pos desa atau bahkan kantor pos pembantu yang dikelola sendiri oleh P.T. Pos Indonesia.

Salah satu contoh adalah Kantor Pos Desa Marabatuan yang ada di Pulau Sembilan, letak geografisnya antara Pulau Laut dan Pulau Madura. Alat angkut yang dipakai berupa kapal laut dengan frekuensi terbatas dua kali sebulan dan masih bergantung pada kendala cuaca. Kondisi ini berdampak pada waktu tempuh kiriman pos yang lama.

Untuk membedakan satu daerah dengandaerah lain yang bernama sama, diterapkan system kode pos Indonesia yang ditetapkan untuk semua kota dan di wilayah kabupaten yang berada di luar kota mulai beraku 1 Agustus 1885. Dalam buku Kode pos Indonesia tercatat ada tiga nama kecamatan Bulu di tiga kabupaten ayitu diTemanggung, Sukoharjo, dan Rembang. Kecamatan Pekalongan yang berada di Metro, Kabupaten Lampung Tengah, mempunyai nama sama dengan Kabupaten Pekalongan diJwa Tengah. Kecamatan Purbolinggo diMetro mempunyai nama mirip dengan Kabupaten Probolinggo di Jawa Timur dan Kabupaten Purbalingga diJawa Tengah. Karena itu, penulisan kde pos menjadi suatu keharusan.

Apabila ditelusuri dengan cermat, terdapat nama-nama daerah yang bias dikaitkan dengan pemakaian cap pos yang bias ditampilkan untuk mendukung tema koleksi.

Sebagian contoh misalnya Kecamatan Sedan di Labupaten Rembang, Kecamatan Rakit dan Bawang di Kabupaten Banjarnegara, Kecamatan Gajah dan Guntur di Kabupaten Demak, serta Kecamatan Beo di Tahuna, Kabupaten Sangihe Talaud.

Filateli tidak terbatas pada benda-benda fisik seperti prangko dan Sampul Hari Pertama yang banyak dijual dan mudah diperoleh di kantor pos, tetapi mempunyai cakupan lebih luas yang bias dikembangkan. Semua kembali pada kreativitas, minat, dan tingkat pengetahuan filatelis. *****


(Suara Pembaruan, 14 Oktober 2001)

Review15. “MARCOPHILY” MENARIK UNTUK DIKOLEKSIOct 3, '07 10:07 PM
for everyone
Category:Other
Menyimak isi koleksi dalam kelas postal history di suatu pameran filateli sesungguhnya sangat menarik. Jenis koleksi ini banyak menceritakan sejarah pos yang pernah ada di suatu negara. Penekanan penelitiannya terletak paa benda-benda filateli dengan rute perjalanan pos dan cap pos yang penah dipakai pada rute tersebut.

Alternatif lain dalam koleksi ini yaitu marcophily yang khusus mengadakan penelitian pada tipe atau klarifikasi dari cap-cap pos saja. Sehingga rute perjalanan dan tarif pos tidak menjadi titik penelitian utama, kecuali jika berhubungan dengan cap posnya. Perhatian utama bagi filatelis yang menekuni koleksi ni adalah tanggal pemakaian pertama kali, alasan penggunaan cap pos, dan periode pemakaian.

Dalam buku Poststempel Catalogus Nederlands Indie 1864-1942 karangan Peter Strom van Leeuwen, diuraikan tipe-tipe cap pos dan karakteristiknya. Dilengkapi pula dengan contoh cap pos, tahun pemakaian, jumlah kantor pos yang menggunakan cap pos tersebut, dan perkiraan harga saat ini.

Belum populer
Objek pengumpulan dalam marcophily tidak terbatas pada cap pos saja, tapi semua cap yang berhubungan dekat dengannya. Seperti cap Rumah Pos, cap Agen Pos (kota), cap Agen Pos Desa, cap Kantor Pos Desa, dan cap Pos Desa yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Cap-cap itu diterakan di atas surat pos, kartu pos, atau wesel pos yang dikirim melalui unit pelayanan pos tersebut. Patut disayangkan, mengumpulkan cap-cap pos demikian belum populer dan belum banyak dikenal.

Hambatan utama adalah kurangnya informasi yang jelas tentang objek koleksi itu. Hal itu sedikit banyak menyebabkan kolektor yang tertarik untuk mengumpulkan cap jenis ini hanya sedikit.

Kendala lain, banyak unit pelayanan pos yang tidak menerakan cap di atas sampul surat karena mungkin tidak dianggap perlu. Padahal teraan cap bisa menandakan identitas lewat mana surat itu dikirimkan sebelum diteruskan ke kantor pos penghubung atau kantor pos periksa.

Dalam hal ini, P.T. Pos Indonesia benar-benar sangat diharapkan bisa membantu memperkenalkan keberadaan unit pelayanan pos yang ada di daerah-aerah. Hanya saja selama ini banyak kantorp os di daerah atau kota yang bersifat tertutup untuk memberikan informasi seluas-luasnya tentang adanya unit pelayanan pos yang ada di kantor pos yang membawahinya.

Salah satu alasan yang dikemukakan adalah keberadaan unit-unit pelayanan pos bersifat rahasia. Padahal di era globalisasi seperti ini, informasi sudah begitu mudah diperoleh, bahkan banyak perusahaan yang membuka diri kepada masyarakat luas.

Sebenarnya apabila informasi yang diinginkan kolektor marcophily bisa mudah diperoleh, secara tak langsung hal ini akan menambah pendapatan perusahaan. Selanjutnya bila mudah memperoleh informasi, akan membangkitkan semangat kolektor untuk giat berburu cap-cap yang diinginkan sehingga dokumentasi terhadap keberadaan unit pelayanan pos yang ada bisa dilakukan melalui kolektor bersangkutan.

Bila memungkinkan, dokumentasi tertulis bisa diwujudkan sehingga dapat menambah literatur filateli marcophily yang ditulis oleh kolektor dalam negeri karena keberadaan unit pelayanan pos yang ribuan jumlahnya menjadi bagian dari sejarah P.T. Pos Indonesia. Bukan tak mungkin keberadaannya bisa cepat berganti dan hilang karena suatu sebab (bencana alam, kerusuhan dan sebab lainnya) sehingga capnya menjadi langka. Seperti contohnya, cap Rumah Pos yang sejak beberapa tahun lalu benar-benar telah dihapus sama sekali.

Di Malaysia, daftar kantor pos/kantor pos mini, serta agen pos yang baru dinuka dan telah ditutup dicantumkan dengan tanggalnya dalam jurnal perkumpulan filatelis Malaysia, Pemungut Setem Malaysia. Sebagai bahan pertimbangan, P.T. Pos Indonesia dapat membuka informasi lebih luas kepada masyarakat, khususnya kolektor tentang adanya Agen Pos (kota), Agen Pos Desa, Kantor Pos Desa, dan Pos Desa dengan tanggal buka/tanggal tutupnya berikut alamat lengkapnya. *****


(Suara Pembaruan, 25 Februari 2001)

Category:Other
Sebagai salah seorang pembina filateli pada sebuah klub yang anggotanya terbuka untuk umum, penulis kerap memperoleh pertanyaan dari siswa-siswa SD, SLTP, SMU, mahasiswa dan masyarakat luas, yang menanyakan mengapa penerbitan prangko Indonesia semakin sering.

Apalagi dalam satu seri jumlahnya cukup banyak, sehingga memberatkan mereka untuk membeli. Selain prangko, secara bersamaa, diterbitkan pula jenis benda filateliseperti minisheet, Sampul Hari Pertama (SHP), SHP dengan carik kenangan, kemaan prangko (spesial), album koleksi prangko, dan karnet.

Sesungguhnya banyak siswa yang antusias terhadap filateli, tetapi setelah melihat harga prangko terutama yang mint (belum terpakai) mahal, mereka patah arang. Bahkan ada filatelis senior yang kecewa dengan perkembangan penerbitan prangko akhir-akhir ini.

Mereka mengatakan untuk membeli prangko bisa saja menabung terlebih dahulu, tetapi pada saat tabungan hampir cukup, sudah terbit lagi prangko baru. Sehingga untuk membeli prangko yang akan terbit sudah tak terkejar lagi. Untuk menunggu sampai uangnya cukup, belum tentu bisa terlaknsana, karena di kantor pos setempat barangnya bisa saja sudah habis.

Pakaian adat
Contoh yang cukup menarik adalah penerbitan prangko seri Pakaian Adata Nusantara pada 28 Oktober 2000. Ada beberapa hal penting yang patut diberi catatan. Pertama, prangko yang dikeluarkan dalam satu seri itu terlalu banyak, mencapai 28 keping prangko berlainan desain dengan nominal Rp 900 tiap prangko. Berarti untuk membeli satu seri lengkap harus mengeluarkan biaya Rp 25.200. Kedua, selain prangko diterbitkan pula banyak jenis benda filateli, terdiri dari SHP, karnet, dan kemaan prangko spesial yang masing-masing berharga di atas Rp 25.000. Ketiga, karena diterbitkan sekaligus harganya menjadi sangat tinggi. Keempat, cara penyimpanannya ternyata sulit, karena diterbitkan dalam satu lembar besar.

Jika dikaji lebih jauh penerbitan prangko ini istimewa karena temanya bagus dan menarik.

Benda-benda filateli tersebut dapat dijadikan bahan ajar yang cocok bagi siswa untuk mengenal pakaian adat dan senjata tradisional seluruh propinsi di Indonesia, termasuk dua propinsi baru, yaitu Banten dan Maluku Utara.

Namun menjadi petanyaan utama, mengapa tidak diterbitkan secara berkala seperti prangko seri Kebudayaan Indonesia yang pernah terbit beberapa tahun sebelumnya?

Dalam prangko seri Pakaian Adat Nusantara, tramsaksi pembelian hanya dilakukan satu kali saja dan pembeli sudah dapat memperoleh seluruh prangko lengkap. Tetapi bila diterbitkan setiap tahun sebanyak empat desain, tentu harganya akan lebih murah dan terjangkau. Lagi pula dapat membuat filatelis penasaran dan menunggu penerbitan seri selanjutnya tahun depan.

Kesulitan menyimpan prangko juga bisa diatasi. Filatelis tidak perlu mengumpulkan dalam satu lembar besar sekaligus, tetapi paling besar hanya ukuran 4 prangko saja yang disatukan. *****


(Suara Pembaruan 4 Februari 2001)

Review13. FILATELI SEBAGAI MITRA LINGKUNGANOct 3, '07 10:04 PM
for everyone
Category:Other
Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah berinteraksi dengan sesamanya karena pada dasarnya manusia tidak hisup seorang diri. Sebagai mahluk social manusia membutuhkan komunikasi untuk mencetuskan ide-idenya, menuangkan pikiran dan perasaannya. Bentuk komunikasi yang sudah lama dikenal adalah surat.

Pilar sejarah penting dalam hubungannya dengan surat berawal pada tanggal 6 Mei 1848 ketika prangko pertama lahir dan diedarkan secara resmi. Ide penggunaan prangko sebagai biaya yang diterakan di atas sampul guna mempermudah pelayanan pos berasal dari Sir Rowland Hill yang hingga detik ini ide beliau masih tetap berlaku.

Prangko yang dikenal dengan penny black baik bentuk maupun cetakannya masih sangat sederhana. Prangko tersebut bernilai satu penny dengan warna cetakan hitam tanpa nama Negara, tanpa perekat dan tidak mempunyai perforasi dengan gambar Ratu Victoria.

Sejak saat itu penggunaan prangko semakin luas tidak saja digunakan di aalnya Inggris tetapi dipakai pula oleh negara-negara lain. Dengan berjalannya waktu, desain prangko yang semula sederhana bias dikembangkan lebih baik, tidak melulu hanya menampilkan gambar kepala Negara atau kepala kerajaan tetapi dengan desain lain yang menarik yang berhubungan dengan segi-segi kehidupan.

Dari sekian banyak tema yang ada, yang paling banyak menyedot perhatian para filatelis adalah tema yang berhubungan dengan lingkungan alam. Pada umumnya menampilkan keindahan dan keanekaragaman hayati berupa flora dan fauna.
Pendidikan lingkungan melalui filateli
Sejak adanya pencanangan program sejuta filatelis oleh Joop Ave yang ketika itu menjabat sebagai menteri pariwisata, pos dan telekomunikasi, banyak diadakan penataran calon pembina filateli. Tujuannya antara lain untuk menjaring lebih banyak lagi calon-calon filateli dan gerakan nasinal gemar berkirim surat. Jumlah sejuta filatelis ini diharapkan dapat terpenuhi pada akhir pelita VI bukan hanya dari segi kuantitas tetapi juga kualitas.

Calon-calon pembina filateli banyak berasal dari guru-guru SD, SMP< SMU dan pembina pramuka. Mereka dipilih dan diikutsertakan karena mereka mempunyai akses lebih banyak dengan murid-muridnya.

Setelah kembali ke sekolah masing-masing para pembina filateli bisa memperkenalkan, menyebarluaskan, dan memasyarakatkan filateli melalui kegiatan ekstra kurikuler. Bahkan melalui filateli dapat dijadikan sebagai salah satu sarana alat peraga yang disesuaikan dengan mata pelajaran yang diberikan.

Pendidikan yang berwawasan lingkungan sebaiknya dimulai sejak usia dini dan ini bisa dilakukan melalui filateli. Untuk anak-anak usia sekolah dasar guru-guru menunjukkan prangko dengan gambar hewan dan tumbuhan, tempat hidupnya, terdapat di mana saja, apa makanannya dan keterangan-keterangan lain yang disesuaikan dengan daya tangkap dan tingkat usia mereka. Untuk tingkat sekolah yang lebih tinggi, pendidikan lingkungan dilakukan di alam terbuka. Mereka diajak untuk mengambil pelajaran sebanyak-banyaknya dari alam dengan mempelajari dan mengamati tumbuh-tumbuhan dan hewan yang ada di sekitar karena alam menyimpan ilmu yang tidak habis-habisnya. Tujuannya untuk membuka mata dan memperluas cakrawala terutama di kalangan pelajar dan remaja terhadap masalah yang berkaitan dengan lingkungan.


Kepedulian dan tantangan bagi filatelis
Dari jajak pendapat yang diadakan oleh dinas pos Afrika Selatan dalam pemilihan desain dan prangko terbaik tahun 1997 maka dapat diambil kesimpulan bahwa sebagian pembaca memilih tema burung atau kehidupan liar (majalah Setempe vol.3 no.6 Nopember-Desember 1998). Salah satu bukti bahwa tema ini mendapat tempat tersendiri di kalangan filatelis.

Cinta puspa dan satwa nasional dengan desain identitas flora dan fauna daerah tingkat I seluruh Indonesia disambut dengan penerbitan prangko setiap 5 Nopember. Seri cinta puspa dan satwa ini telah beredar sejak 1993 dan setiap tahun pada tanggal yang sama terus berlanjut sehingga nantinya genap ditampilkan identitas flora dan fauna dari 27 propinsi.

Tak heran jika setiap penerbitan prangko flora dan fauna tiba selalu ditunggu oleh para filatelis karena menampilkan gambar yang menarik dengan warna yang multicolor selain jumlah cetaknya terbatas. Masyarakat luas yang bukan pengemar prangko banyak yang menyukai seri ini.

Prangko seri WWF (World Wide Fund for Nature) di setiap penerbitannya juga banyak ditunggu bahkan banyak diburu dan menjadi salah satu primadona benda filateli. Lembaga yang berpusat di Gland, Swiss ini memiliki jaringan kerja berupa 23 organisasi nasional, 5 organisasi afiliasi, dan 22 kantor program yang tersebar di seluruh dunia, berdiri sejak 1961.

WWF hadir di Indonesia sejak tahun 1962 dengan tujuan utama menyelamatkan orang utan dan badak yang terancam punah tetapi sekarang mempunyai misi yang lebih luas dengan menyokong pelestarian alam dan keanekaragaman hayati.

Sampai saat ini sudah lebih dari 100 negara yang menerbitkan seri WWF yang menampilkan flora dan fauna yang hampir punah. Dana yang terhimpun untuk membantu usaha pelestarian alam di berbagai negara.

Apabila diamati dalam setiap pameran filateli banyak peserta yang mengambil tema-tema yang dekat hubungannya dengan dengan alam seperti ikan, burung, dan tema-tema yang sejenis tetapi sampai saat ini agaknya belum ada seseorang yang meneliti hubungan antara perilaku filatelis dengan usaha pelestarian lingkungan hidup.

Sebenarnya kegiatan seorang filatelis tidak cukup dengan hanya datang ke kantor pos untuk mencari dan membeli benda-benda filateli setiap kali terbit, kemudian mengagumi, menyimpan, memamerkan, lalu kegiatan berhenti sampai di sini.

Seorang filatelis ditunutut untuk mampu menafsirkan dan membaca misi dan pesan yang terkandung pada sekeping prangko, Sampul Hari Pertama, Souvenir Sheet atau benda-benda filateli lainnya bahkan sampul-sampul surat dengan cap slogan ”Lestarikan lingkungan hidup” meskipun cap slogan selama ini sangat jarang.

Misi dan pesan apa yang dapat ditangkap Di sini bisa dicatat bahwa masyarakat luas umumnya dan khususnya kalangan filatelis dalam runag lingkup yang lebih kecil jumlahnya diharapkan bisa turut terlibat secara aktif dalam usaha melestraikan lingkungan hidup sebagai langkah awal kepekaan hati nuani kita.

Lalu apa yang diharapkan dan dapat dilakukan sebagai sumbangan dan langkah nyata kepedulian kita pada lingkungan hidup? Bisa dimulai dengan cara yang cukup sederhana misalnya mengurangi limbah, memanfaatkan sampah kertas dengan metode daur ulang, menghemat energi, dan tidak bersiat konsumtif terhadap sumber daya alam.
Seandainya manusia memiliki etika terhadap alam dan tidak memanfaatkan alam yang ”polos” dan segala keluguannya tanpa memikirikan akibatnya hanya demi kepentingan sesaat dan keuntungan pribadi, maka alam pun berbaik hati pada manusia dan sebaliknya manusia dapat hidup berdampingan dengan alam sehingga bumi yang hanya satu ini dapat diwariskan pada anak cucu kita kelak. Mereka pun masih dapat menyaksikan dan melihat wujud asli keanekaragaman hayati yang ada, tidak hanya mengenal jenis dan namanya saja melalui sekeping prangko. Bagaimana para filatelis, berani menjawab tantangan ini? *****


(Majalah Sahabat Pena no. 351 Januari 2001)


Review12. PAMERAN FILATELI SEBAGAI TEMPAT PEMBELAJARANOct 3, '07 10:01 PM
for everyone
Category:Other
Dalam buku Mengenal seluk beluk filateli yang disusun oleh H. Soerjono, Bc. AP dan Berthold DH Sinaulan, SS dituliskan penggolongan filatelis, yang dipilah-pilah sesuai dengan tahapan yang dilalui dalam mengumpulkan benda-benda filateli.

Tahap pertama disebut “akumulator”, sebagai tahap awal mengumpulkan prangko. Golongan ini baru mengenal filateli dan mengumpulkan benda filateli apa saja yang dapat diperoleh. Tahap kedua disebut ”pengumpul khusus”, setingkat lebih tinggi dari akumulator. Tahap ketiga disebut ”spesialis”, yang merupakan tahap akhir dan tahap tertinggi dalam filateli.

Menjadi titik perhatian saat ini, ada pada tahap kedua dan ketiga. Pada tahap ini, para filatelis memilih, mengumpulkan, dan mendalami filateli sesuai dengan bidang spesialisasinya. Setelah itu timbul sejumlah pertanyaan, apakah yang akan dilakukan selanjutnya? Bila filateli tetap akan diteruskan tanpa mempunyai tujuan, berarti koleksi itu hanya dapat dinikmati sendiri. Lalu, bila ada tujuan tertentu yang ingin dicapai, langkah-langkah apa yang akan diambil?

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mengikuti pameran filateli. Filatelis yang sudah memutuskan untuk ikut dalam pameran filateli, ibarat seorang mahasiswa yang akan ujian untuk mengukur sampai di mana hasil belajarnya selama ini. Bisa juga diibaratkan, seorang mahasiswa yang sedang melakukan praktek kerja lapangan yang mencoba mempraktekkan teori-teori ilmu yang telah dipelajarinya. Bagi filatelis, teori-teori itu adalah informasi filateli, baik lisanmaupun tertulis, berkaitan dengan spesialisasi yang dipilihnya.

Filatelis yang akan menyusun koleksi untuk diikutsertakan dalam pameran filateli, harus menggali pengetahuan dan wawasan lebih dalam. Caranya antara lain, dengan sering mengunjungi pameran sebagai tempat pembelajaran secara langsung. Di arena pameran, filatelis bisa menyaksikan cara-cara menyususn koleksi filateli berdasarkan kelas-kelas dalam pameran yang diakui Federation Internationale de Philatelie (FIP/Federasi Filateli Sedunia. Filatelis juga bisa melihat penilaian juri, dan bahkan kalau perlu berdiskusi dengan pakar-pakar filateli.

Hal selanjutnya yang perlu dilakukan filatelis adalah memilih tema tertentu yang akan didalami. Koleksi bisa disusun berdasarkan suatu negara pada suatu periode tertentu, atau berdasarkan bentuk benda filateli, misalnya koleksi sampul-sampul bercetakan prangko (postal stationery). Di samping, dapat pula disusun berdasarkan tematis tertentu yang diplih filatelis itu, misalnya tema fauna, flora, lah raga, pramuka, dan sebagainya.

Bila sudah diketahui sejak awal, koleksi bisa diarahkan, dan filatelis bisa berkonsentrasi hanya pada tema yang disukai atau dipilih. Hal ini akan membantu filatelis bersangkutan menguasai dan memahami tema itu secara lebih mendalam. Di luar itu, syarat-syarat dasar untuk mengikuti pameran juga harus diketahui.

Keikutsertaan koleksi seorang filateli dalam pameran, merupakan tolok ukur kemampuannya dalam pengetahuan filateli, kedalaman, dan penguasaan materi pameran. Perolehan nilai yang berwujud dalam bentuk medali, Ceritificate of Participation sampai Larga Gold untuk dewasa, dan Diploma sampai Large Vermeil untuk kelas remaja, akan memacu semangat filateli bersangkutan untuk memperoleh medali lebih tinggi pada pameran-pameran mendatang.

Pameran filateli, memang dapat menjadi ajang meraih prestasi bagi filatelis. Semakin tingi medali diperoleh, semakin terangkat pula nilai koleksi yang dimilikinya. *****


(Suara Pembaruan 5 Nopember 2000)





Review11. CERITA DI BALIK KARTU POS REMAJAOct 3, '07 9:58 PM
for everyone
Category:Other
Di antara pembaca tentunya sudah banyak yang tahu dengan kartu pos remaja. Pada kartu pos lama yang berwarna kuning dicetak polos tanpa variasi sehingga membosankan. Beberapa waktu lalu banyak terobosan baru yang dilakukan seperti halnya pencetakan kartu pos yang lebih hidup dan bervariasi.

Baru-baru ini P.T. Pos Indonesia mengeluarkan empat kartu pos remaja dengan gambar depan yang memuat cabang olah raga yang banyak digemari oleh kawula muda. Kartu pos ini dijual Rp 100,. Per lembar. Pada sisi atas memuat lambang P.T. Pos Indonesia dan logo di sampingnya yang bertuliskan Tahun Telekomunikasi Indonesia 1997.

Cabang olah raga yang menjadi ilustrasi kartu pos ini memerlukan keberanian bermental baja, kepercayaan diri yang tebal, perhitungan yang tepat dan cermat, serta modal kesehatan fisik yang betul-betul prima. Hal-hal di atas sesuai dengan sifat dan gejolak remaja yang suka akan kegiatan yang memiliki resiko dan tantangan yang berat.

Kartu pos pertama dengan warna merah semu menggambarkan cabang olah raga arung jeram. Olah raga jenis ini tidak saja sekedar naik rafting tetapi melawan riak-riak air sungai. Dengan perahu karet khusus, helm, serta pakaian Landing Craft River (LCR) sebagai pengaman mereka siap melintasi beberapa lokasi untuk jumping bahkan kelokan tajam dan kedung yang dalam siap untuk diterjang melawan rintangan.

Kartu pos kedua dengan gambar semu coklat bergambar olah raga menyelam. Indonesia terkenal sebagai negara bahari yang sebagian besar wilayahnya dikelilingi oleh lautan. Tak heran jika kekayaan dasar laut dimiliki begitu melimpah, salah satunya adalah keindahan pesona alam yang berada di bawah air. Sebut saja beberapa tempat wisata bawah air yang terkenal seperti Kepulauan Seribu di Teluk Jakarta, Taman laut Bunaken yang berada diTeluk Manado, disekitar Laut Banda, Pulau Moyo di Sumbawa, serta Pulau Hoga di Kabupaten Buton Sulawesi Tenggara.

Keindahan dunia bawah air yang amat mengagumkan hanya dapat disaksikan secara langsung melaluiolah raga menyelam ini. Formasi terumbu karang mulai dengan karang datar pada kedalaman 5m (15 kaki) kemudian menurun membentuk bukit-bukit bawah air dan drops off yang vertikal ke bawah hingga beratus0ratus meter. Bentuk-bentuk yang menakjubkan ini biasa disebut dengan underwater greatwalls.

Kartu pos jetiga dengan warna biru semu bergambar olah raga panjat tebing. Olah raga ini memerlukan peralatan khusus seperti harnes (tali pengaman tubuh), cincin kait (carabiner), sepatu dan tali. Alat-alat tersebut merupakan alat perorangan minimal. Untuk beregu selain perlengkapan perorangan ditambah dengan alat-alat seperti prusik, sling, wibing, paku piton, hammer dan helm. Untuk turun tebing ditambah alat yang disebut descender dan untuk naik disebut ascender.

Kemiringan tebing dan dasar tebing berpengaruh besar terhadap keamanan dan keselamatan pemanjatan. Tebing dari karang kokoh tentu berbeda dengan cadas, gunung berkapur atau batu yang tidak terlalu keras. Sebagai tempat latihan biasanya diadakan di Kelapa Nunggal daerah Cileungsi, Bukit Cihampea di Bogor, dan bukit Citatah di Padalarang.

Kartu pos keempat dengan warna ungu semu bergambar olah raga selancar. Banyak pantai di Indonesia yang layak dijadikan ajang olah raga ini. Pantai-pantai yang biasa digunakan misalnya perairan pantai Lakey di Kecamatan Huu Kabupaten Dompu, di Pulau Nias Sumatera Utara, pantai Kuta di Bali, dan pantai-pantai lain.

Tempat-yempat yang disebutkan di atas mewakili berbagai pantai di dunia yang biasa digunakan oleh para peselancar senior. Semakin besar dan sulit gelombang yang dihadapi akan semakin baik. Tinggi minimal gelombang mencapai 7-8 feet atau 8m.

Kartu-kartu pos tersebut cukup layak untuk melengkapi koleksi terutama untuk tematik olah raga dan akan semakin lengkap jika prangko yang dipakai sesuai dengan tema kartu pso. Cukup banyak variasi dan kreasi yang dapat diciptakan dari tema ini sesuai dengan selera masing-masing. *****


(Majalah Sahabat Pena no. 347 September 2000)


Review10. PRANGKO SEBAGAI “JENDELA” DUNIAOct 3, '07 9:57 PM
for everyone
Category:Other
Filateli semakin hari semakin berkembang dan banyak disukai berbagai golongan masyarakat. Banyak jawaban bisa dipaparkan mengapa seseorang tertarik untuk mengoleksi benda-benda filateli. Salah satu alasan yang memang sudah terbukti, yaitu melalui filateli seseorang dapat belajar berbagai hal.

Prangko misalnya, dapat dijadikan ”jendela” untuk melihat dunia lebih luas dan beragam. Contohnya mengenai letak geografis suatu negara. Semasa di bangku sekolah, siswa umumnya lebih diajarkan untuk mengenal negara-negara besar, seperti Amerika Serikat, Inggris, Rusia, Jepang, Jerman dan Cina. Negara-negara kecil yang jarang diwartakan dalam pemberitaan internasional, luput dari perhatian.

Hal ini baru disadari setelah mengamati prangko dari negara-negara kecil yang banyak menerbitkan prangko dengan gambar dan warna yang indah dan menarik, serta mempunyai nilai jual yang tinggi. Misalnya, Fiji, Tokelau, Faroes, merupakan sebagian di antara negara-negara kecil di dunia yang menerbitkan prangko sendiri. Untuk mengetahui letak geografis, peta bisa dipakai sebagai sarana untuk mencari letak negara itu.

Dari selembar prangko, meskipun tidak semua dapat diketahui bentuk negaranya. Biasanya tertulis menyertai nama negara, seperti Republik Indonesia (untuk prangko-prangko sebelum tahun 2000), republique Framcaise dan sebagainya. Melalui prangko pula, kadang-kadang bisa dikenal mata uang negara penerbit prangko itu,

Hal lain yang bisa dipelajari melalui prangko adalah budayasuatu negara. Karena, salah satu cara paling efektis untuk memperkenalkan budaya suatu negara adalah lewat prangko, sekaligus sebagai promosi pariwisata.

Sejarah negara
Abjad bisa pula dikenali lewat prangko. Abjad Latin dikenal dan banyak dipakai, namun ada pengecualian untuk negara-negara tertentu. Yunani, Jepang, Cina, dan Rusia adalah cntoh negara yang memliki karakter khusus dalam abjadnya.

Sejarah suatu negara juga dapat dilihat dengan mengamati prangko. Setelah era 1990-an lahir negara-negara baru seperti kzakhstan, Turkmenistan, dan negara-negara lain yang merupakan pecahan dari Uni Soviet. Ada juga negara-negara bagian, negara persemakmuran (Inggris Raya) dan negara jajahan, yang sudah diberi kemerdekaan.

Contoh paling mudaha adalah Hong Kong setelah lepas dari Inggris dan kembali ke RRC. Bisa dibandingkan prangko Hong Kong sebelum dan sesudah peristiwa pengembalian koloni Inggris itu kepada RRC yang terjadi tahun 1997.

Contoh lain, adalah prangko Macau dan paling baru adalah Timor Timur yang kini menerbitkan dua prangko bertuliskan ”Timor Lorosae” di sebelah kiri dan ”UNTAET” di kanan atas tanpa nilai nominal. Satu prangko bertuliskan ”Dom: yang digunakan untuk pengiriman surat domestik, di dalam Timor Timur sendiri, dan satu lagi bertuliskan ”Int.” untuk pemrangkoan ke luar negeri.

Nama negara dapat pula dipelajari dari prangko. Pencantuman nama negara yang menerbitkan prangko merupakan keharusan, kecuali Inggris yang mepunyai hak istimewa sebagai pelopor lahirnya prangko. Apabila di atas prangko tertulis ”Canada” atau ”USA”, pasti sudah banyak yang tahu dari mana prangko itu berasal. Namun jika tertulis ”Hellas”, ”Sqipteria”, atau ”Magyar Posta, apakah bisa langsung diketahui dari mana asalnya?

Itulah prangko sebagai ”jendela” dunia yang dapat membuka cakrawala pengetahuan lebih luas dalam banyak segi. Suatu keuntungan yang bisa diperoleh seorang filatelis, bila mau mempelajari lebih jauh koleksinya dan bukan hanya mengumpulkan serta menyimpan dalam album saja. *****


(Suara Pembaruan, 11 Juni 2000)


Review9. PERKEMBANGAN LITERATUR FILATELI INDONESIAOct 3, '07 9:54 PM
for everyone
Category:Other
Jumlah filatelis di Indonesia, terutama filatelis muda bertambah dari tahun ke tahun. Perkembangan pesat jumlah itu, yang kabarnya saat ini sudah lebih dari 1 juta filatelis, sedikit demi sedikit mulai dibarengi dengan peningkatan kualitas.

Beberapa kali para filatelis Indonesia sebagai duta bangsa memperoleh medali pada pameran internasional. Namun perkembangan ini belum disertai dengan perkembangan dalam bidang literatur filateli yang juga dibutuhkan bagi para pengemar prangko itu.

Seorang filatelis yang ingin meningkatkan kualitasnya, perlu mengetahui perkembangan yang terjadi di seputar hobi tersebut, dengan berbagai aspeknya. Informasi filateli itu dapat diperoleh melalui literatur, beupa majalah atau koran khusus, dan buku-buku panduan khusus filateli.

Para pembina filateli sudah waktunya ikut pula menekankan hal ini kepada para calon filatelis. Kegiatan dalam hobi tersebut, bukan hanya mencakup mengumpulkan benda-benda filateli seperti yang banyak ditemui selama ini, tetapi termasuk di dalamnya lteratur filateli.

Di Indonesia, literatur filateli ada beragam jenisnya. Selain Katalog Prangko Indonesia yang diterbitkan Asosiasi Pedagang Prangko Indonesia (APPI) dan Buletin Filateli dari P.T. Pos Indonesia, ada juga beberapa buku panduan filateli yang diterbitkan Pengurus Pusat Perkumpulan Filatelis Indonesia (PP PFI). Bku-buku panduan PP PFI yang disusun antara lain oleh H. Soerjono, BcAP dan Bethold DH Sinaulan itu, telah digunakan dalam beberapa kali penataran an penyuluhan filateli.

Selain itu, ada juga buletin-buletin sederhana yang diterbitkan berkala oleh klub-klub filateli dan biasanya dibagikanterbatas untuk anggota. Ada juga harian yang memuat artikel filateli secara berkala. Salah satu di antaranya, adalah Suara Pembaruan yang secara rutin memuat rubrik filateli dalam edisi hari Minggu.

Luar negeri
Di luar negeri, majalah dan koran khusus filateli sudah banyak diterbitkan. Sebagai contoh majalah Le Monde des Philatelistes dari Prancis, majalah DBZ (Deutsche Briefmarken-zeitung) dari Jerman, Stamp Magazine dan Stamp Gibbons Monthly dari Inggris, dan koran berbentuk tabloid Linn’s Stamp News yang terbit mingguan dari Amerika Serikat. Isinya mencakup berbagai macam bahasan, mulai dari benda-benda filateli yang umum ditemui, cap-cap pos bergambar, cap meter, sampai sampul-sampul langka.

Dalam pameran filateli, literatur mempunyai kelas sendiri, yaitu literatur filateli dan merupakan satu-satunya kelas yang tidak menampilkan benda filateli. Secara umum diklasifikasikan menjadi literatur filateli khusus (pedoman filateli, pendidikan filateli), literatur media filateli bekala (buletin), literatur katalog prangko (katalog umum, khusus), literatur kliping filateli (koran, majalah), dan literatur media elektronik (video, VCD, film dokumenter).

Untuk para pemula yang ingin mengikuti pameran kelas literatur akan lebih mudah menyusun koleksinya berdasarkan literatur kliping filateli yang bahannya bisa diambil dari berbagai koran dan majalah.

Ada dua keuntungan sekaligus mengkliping tulisan atau berita filateli. Sambil membuat literatur kliping filateli, pengetahuan filatelis bersangkutan juga ikut bertambah dengan bahan tulisan yang dia kliping.

Sayangnya, sampai saat ini informasi filateli di Indonesia masih sangat kurang. Pernah ada beberapa majalah khusus filateli yang terbit, namun tidak beumur panjang. Padahal informasi itu sangat berguna bagi filatelis. *****


(Suara Pembaruan, 28 Maret 2000)

Review8. PRANGKO DEFINITIF INDONESIA ALAMI KEMAJUANOct 3, '07 9:47 PM
for everyone
Category:Other
Selama ini prangko definitive yang diterbitkan P.T. Pos Indonesia )dulu bernama Perum Pos dan Giro), selama ini dipandang sebelah mata oleh para filatelis atau kolektor prangko. Seperti diketahui, prangko definitive adalah prangko yang dicetak dan diterbitkan untuk kepentingan perposan semata dan bias dicetak ulang, dijual serta tetap berlaku selama belum dinyatakan kadaluarsa.

Sedangkan prangko-prangko lainnya, masa jual dan masa lakunya terbatas. Biasanya masa jual prangko non-definitif adalah tiga tahun dan masa lakunya lima tahun, sebelum dinyatakan kadaluarsa. Prangko definitif selama ini umumnya bertema Pelita (pembangunan Lima Tahun) dan potret kepala negara.

Mengapa para kolektor enggan untuk memiliki prangko definitif? Salah satu sebab yang banyak dikemukakan, selain jumlah cetaknya yang lebih banyak dibandingkan prangko non-definitif, juga karena desainnya kurang menarik, serta warna yang dipakai untuk ilustrasi prangko kurang menarik.

Seiring dengan embusan ’angin reformasi’ yang melanda negeri ini, rupanya P.T. Pos Indonesia juga menjadi lebih ’reformis’. Hal ini bisa dilihat dari percetakan prangko definitif yang mulai membaik. Mulai dari segi desain maupun bentuk fisik prangkonya. Sebuah kemajuan yang cukup berarti.

Terbitnya prangko definitif dengan tema menarik, dimulai dari prangko seri ”Bebek I” yang terbit 19 Oktober 1998. Menampilkan lima jenis bebek, diserta hologram dengan harga nominal tinggi. Sebagai kelanjutannya pada 1 Desember 1998 terbit seri ”Bebek II” yang kali ini menampilkan tujuh jenis bebek liar yang terdapat di Indonesia. Prangko definitif ini diterbitkan dengan harga nominal rendah. Meskipun tergolong prangko definitif, penerbitan seri ini disertai dengan lembar kenangan (souvenir sheet). Padahal lembar kenangan itu biasanya hanya menyertai penerbitan prangko non-definitif.

Memasuki tahun 1999, tepatnya pada tri semester kedua, terbit kembali prangko definitf. Kali ini menampilkan berbagai jenis jamur yang banyak tumbuh di hutan Indonesia. Selain desain yang menarik, bentuk prangkonya juga termasuk unik (belah ketupat) dan baru pertama kalinya bentuk ini ditampilkan sepanjang sejarah perprangkoan di Indonesia.

Yang patut menjadi catatan pada penerbitan seri ini, adalah beragamnya benda-benda filateli yang dikeluarkan. Selain prangko, ada lembar kenangan, minisheet, dan booklet, Hanya sedikit berbeda bentuk prangko pada booklet berbentuk segi empat, bukan berbentuk belah ketupat seperti prangko lainnya.

Beragamnya benda-benda filateli pada prangko definitif dalam arti tidak terbatas pada pengeluaran prangko dan Sampul Hari Pertama (SHP) saja, dapat diartikan bahwa meskipun hanya prangko definitif, tetapi desain dan bentuk yang ditampilkan dapat menjadi daya tarik. Apalagi temanya berupa kekayaan flora dan fauna yang terdapat di Indonesia, yang menjadi daya tarik utama, karena tematik jenis ini umumnya banyak disukai kalangan filatelis.

Agar prangko definitif Indonesia tidak dihindari dan ditinggalkan penggemarnya, ada baiknya P.T.Pos Indonesia tetap menerbitkan prangko definitif dengan tema-tema seperti itu. Banyak tema yang bisa diangkat sebagai desain prangko definitif. Banyak kekayaan hayati yang dimiliki bumi Indonesia yang selama ini belum banyak dikenal. Antara lain aneka jenis binatang laut seperti kerang dan batu karang. Dengan warna-warni yang indah, tentunya prangko ini akan banyak digemari filatelis. Selain bertujuan untuk meningkatkan kecintaan pada dunia bahari, khususnya dunia bawah lautyang mengagumkan namun penuh misteri.

Beragamnya budaya bangsa dari sekian banyak suku bangsa yang ada di Indonesia bisa diangkat sebagai inspirasi. Kerajinan tangan, motif kain tradisional, rumah adat, adalah sebagian kecil tema yang bisa disajikan.

Tujuan penerbitan seperti telah diuraikan, adalah untuk menumbuhkan rasa cinta pada flora dan fauna yang keberadaannya di atas bumi semakin sedikit, sedapat mungkin - dan ini yang diharapkan – adalah tindakan nyata untuk meledatarikannya. *****


(Suara Pembaruan 28 Juni 1999)




Review7. SURAT VS TEKNOLOGI INFORMASIOct 3, '07 9:45 PM
for everyone
Category:Other
Budaya surat menyurat sudah ada sebelum prangko diperkenalkan oleh Sir Rowland Hill. Bahkan orang zaman dulu menulis di atas potongan bambu atau di atas daun lontar sebelum kertas ditemukan.

Surat zaman dahulu
Warisan budaya menulis surat di Indonesia sebenarnya telah dimulai sejak zaman dahulu. Hal ini dapat dibuktikan saat diselenggarakan kegiatan Festival Kraton Yogyakarta 15-21 September 1991 yang bertempat di kesulatanan kraton Yograyakarta. Pada pameran ini ditampilkan surat emas raja-raja dan naskah-naskah kuno yang berasal dari abad 17 sampai 19 beserta salinan naskah asli yang berasal dari seluruh nusantara.

Adanya kontak antar bangsa dan perhubungan dengan orang-orang asing (seperti dari India) membawa pengaruh besar pada corak kebudayaan Indonesia pada zaman dahulu. Perkembangan seni bangunan dan seni arca tumbuh dengan pesat. Bahkan pengaruh ini juga merasuk dalam hal kesusastraan.

Bukti tertulis adanya pengaruh Hindia di Indonesia dapat disaksikan antara lain di daerah Kalimantan berupa tonggak kaul dari batu dengan goresan kalimat-kalimat yang ditulis dalam bahasa Sansekerta. Peninggalan ini berasal dari zaman kerajaan Kutei pada masa pemerintahan raja Mulawarman. Masih banyak prasasti batu tulis yang menunjukkan kebesaran sejarah bangsa seperti yang ditemukan di daerah Bogor, Kedu, dan sebagainya.

Di atas batu tulis tersebut biasanya dituliskan tentang kedudukan para raja dan bangsawan, tentang tata cara pemerintahan, corak hidup bermasyarakat pada masa itu, agama yang dianut dan hal-hal lain yang menyangkut tentang keadaan pemerintahan.

Pada zaman kerajaan-kerajaan seperti Majapahit, Matarm, Sriwijaya, surat menyurat digunakan sebagai sarana komunikasi yang masih terbatas di antara para raja. Sarana yang digunakan adalah daun lontar, potongan bambu, atau kulit kayu.Kurir untuk menyampaikan surat biasanya merupakan kurir yang berasal dari kerajaan.

Seiring dengan perkembangan zaman jalur perdagangan maka kebutuhan akan hubungan antara satu wilayah dengan wilayah lain turut berkembang. Untuk memperoleh neraca perdagangan yang aktif dengan memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya, mendorong bangsa-bangsa untuk mencari daerah koloni yang dimanfaatkan sebagai daerah monopoli.

Sejak dahulu kepulauan Indonesia terkenal karena menghasilkan rempah-rempah seperti lada, kopi, pala, dan sebagainya. Hal inilah yang menyebabkan banyak bangsa Eropa yang mulai melirik daerah ini. Tujuan semula adalah untuk berdagang, tetapi dalam perkembangan selanjutnya berubah menjadi penjajahan. Tercatat bangsa Portugis, Inggris, Belanda dan Jepang pernah menduduki nusantara ini.

Pada masa-masa penjajahan inilah merupakan awal dimulainya penggunaan kertas untuk keperluan surat menyurat. Bangsa yang memperkenalkan adalah bangsa Belanda yang dalam sejarah merupakan yang paling lama menjajah Indonesia.

Surat-surat yang ditulis oleh para raja saat itu berkuasa di tanah Jawa, Sumatera, atau pulau-pulau lain di nusantara ditujukan untuk pembesar atau penguasa pada masa penjajahan seperti gubernur jenderal Belanda.Selain itu hubungan perdagangan yang lancar antar negara pada maa itu membawa pengaruh besar pada tradisi surat menyurat.

Untuk meperlancar komunikasi antar pedagang atau para raja manca negara maka sarana yang paling tepat digunakan adalah dengan surat. Surat-surat dan naskah ini banyak ditulis dalam bahasa Bali, Jawa, Batak dan bahasa-bahasa daerah lain.

Perkembangan surat
Cikal bakal kantor pos besar sekarang ini berawal dari kantor surat besar yang didirikan oleh pemerintahan Charles II tahun 1660. Kiriman pos ini dibawa oleh pesuruh pos dengan berjalan kaki atau berkuda.

Untuk pengiriman surat digunakan uang tunai sebagai tanda pelunaan biaya pengiriman. Pembayaran dilakukan oleh pengirim surat. Tetapi pembayaran ini ada juga yang dibebankan kepada penerima surat. Orang yang menerima surat tersebut harus membayar ongkos kirim. Dengan cara ini orang yang menerima surat dapat menolak untuk membayar biaya pengiriman.

Karena kesulitan yang ditimbulkan dengan cara pembayaran di atas, selanjutnya dinas pos Inggris banyak melakukan perbaikan sampai digunakan prangko sebagai tanda pelunasan biaya pengiriman. Berkat gagasan Sir Rowland Hill mengembangkan prangko berperekat maka kesulitan pengiriman surat dapat diatasi.

Telah terbukti bahwa surat merupakan sarana kumunikasi yang ampuh untuk tetap saling berhubungan. Bahkan jarak dan tempat yang jauh tak lagi menjadi halangan.

Surat bisa digunakan sebagai sarana untuk menjalin pershabatan secara luas tanpa membedakan ras, agama dan suku. Dengan surat, kita dapat memberikan ucapan selamat ulang tahun, berita kelahiran, kenaikan jabatan baru, menyampaikan rasa simpati, tukar menukar pengetahuan dan budaya masing-masing daerah. Dengan surat pula kita dapat mengenal lebih jauh budaya dan daerah pariwisata melalui informasi yang disampaikan di atas sepucuk surat bahkan dapat mengelilingi dan menjelajah dunia.

Untuk lebih mempererat persahabatan antar sesama di muka bumi ini, maka perhimpunan pos sedunia menyelenggarakan Pekan Surat Menyurat Internasional (PSMI) – International Letter Writing Week sejak 1857 yang dilangsungkan setiap 8-21 Oktober. Indonesia pun tak ketinggalan turut aktif menyelenggarakan PSMI.

Untuk menyambut PSMI, P.T. Pos Indonesia(dahulu Perum Posa dan Giro) setiap tahun menyediakan sampul surat dengan gambar dan tema yang berbeda, lengkap dengan keterangan tanggal, bulan, dan tahun yang bersangkutan. Selain itu diterbitkan pula cap khusus PSMI yang digunakan oleh kantor pos yang ditunjuk (dewasa ini ±150 kantor pos dari Sabang sampai Merauke).

Teknologi informasi dewasa ini
Peralihan suatu negara dari nehara agraris menuju industrialisasi pada abad 14 membawa dampak yang sangat besar bagi kehidupan manusia selanjutnya, yang mencapai puncaknya pada abad ke 18. Abad ini merupakan abad pemikiran dan timbulnya penemuan-penemuan baru di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Adanya penemuan mesin cetak, bola lampu, alat tulis, mesin ketik, dan sebagainya membawa pengaruh besar dalam hampir semua bidang kehidupan manusia.

Setelah era menulis di atas potongan bambu dan daun lontar digantikan dengan kertas dan tinta, maka orang menulis surat di atas kertas dengan alat tulis. Namun, sifat manusia yang ingin serba enak, cepat dan praktis membuat peralihan di bidang persuratan tradisional menjadi persuratan modern.

Penggunaan mesin ketik terutama komputer sebagai alat bantu mengetik secara cepat menjadi tumpuan. Dengan komputer, naskah diketik dan disimpan dalam media penyimpanan yang bernama disket untuk selanjutnya dicetak dengan printer. Kelebihannya yaitu pada kecepatan mencetak, naskah yang tersimpan bisa dibuka kembali sewaktu-waktu dan penggunaan huruf yang beraneka ragam serta format tulisan yang dapat diatur di atas kertas.

Media lain yang dapat digunakan sebagai sarana komunikasi yang cepat adalah penggunaan telepon. Tanpa perlu menulis surat dan menunggu balasan surat, hanya dengan menekan tombol sejumlah angka, maka hubungan komunikasi dapat dilakukan. Bahkan mengirim surat dengan faksimili sebagai mesin fotocopy jarak jauh pun sudah dapat dilakukan.

Pengaruh kemajuan teknologi tak bisa dihindari dan dibendung. Perkembangan teknologi komputer dan jaringan komunikasi yang semakin pesat berkembang telah mampu menghadirkan suatu media penyaji informasi yang dapat menampilkan gambar, teks dan suara sekaligus.

Demam internet. Pemandangan itulah yang dapat dirasakan akhir-akhir ini. Kemajuan ini tak luput dari incaran P.T. Pos Indonesia dengan Information Service Provider (ISP) melalui layanan Wasantara Net (W-Net). Salah satu fasilitas yang disediakan adalah e-mail (electronic mail) yaitu kotak pos elektronik yang bisa menerima dan mengirimkan berita. Berkirim surat, kartu ucapan, kartu pos, bisa dilakukan melalui e-mail hanya dalam hitungan detik ke belahan dunia yang dikehendaki.

Keuntungan dan kerugian
Jika ditelaah lebih jauh, maka pengiriman berita lewat surat atau melalui pemanfaatan teknologi informasi yang berkembang pesat akhir-akhir ini memiliki keuntungan dan kerugian masing-masing. Berikut ini sedikit catatan yang dapat diambil.
Keuntungan berkirim surat secara konvensional
Kerahasiaan alamat seseorang lebih terjamin, kecuali jika ingin memperoleh banyak sahabat sehingga individu mendaftarkan diri pada suatu klub sahabat pena yang memuat data-data pribadi termasuk alamat seseorang.
Kerahasiaan isi surat lebih terjamin.
Melalui tulisan sedikit banyak dapat diketahui karakter dan pribadi seseorang.
Pengiriman surat dapat dilakukan ke mana saja baik ke luar negeri atau dalam negeri bahkan sampai ke tempat-tempat yang terpencil sekali pun.
Biaya yang dikeluarkan jauh lebih sedikit dibandingkan pengiriman melalui faksimili ataupun e-mail.
Melalui surat, dapat mengumpulkan benda-benda filateli beragam dan dapat mengetahui sejarah pos melalui cap yang tertera.

Kerugian :
Apabila terdapat banyak kesalahan penulisan, kemungkinan seluruh surat harus ditulis ulang.
Kecepatan pikiran dan penuangan ide lebih cepat dibandingkan kecepatan tangan menulis.
Adanya surat buntu karena penulisan alamat yang dituju kurang jelas atau lengkap sehingga pengirim perlu menghafalkan penulisan lamat secara benar. Kerepotan dalam menempelkan prangko lalu mengirimkan surat melalui kotak pos atau kantor pos terdekat.

Keuntungan teknologi informasi
Melalui komputer penulisan surat dapat dilakukan lebih cepat, mengingat penuangan ide dan kecepatan pikiran dapat diimbangi oleh kecepatan pengetikan.
Hasil ketikan dapat lebih rapi, karena kesalahan penulisan dapat dikoreksi melalui monitor sebelum dicetak melalui printer.
Penggunaan komputer dapat menghemat waktu, karena surat yang isinya sama dan dikirimkan ke alamat yang berbeda cukup dengan mengetik satu surat sebagai master kemudian dicetak dengan berbagai alamat.
Pengiriman surat melalui e-mail menghemat waktu, karena dapat mengakses surat dari rumah dan bisa membuka kotak pos kapan saja (bisa diakses 24 jam, 365 hari).
Banyak situs terutama di luar negeri yang menawarkan e-mail gratis.
Ada ISP yang menawarkan faksimili lewat internet dengan harga murah, misalnya ada yang menarik biaya $20 dalam sebulan ke mana pun dan berapa pun jumlah yang dikirimkan.

Kerugian :
Penyebaran teknologi informasi yang demikian cepat di satu pihak menguntungkan, tetapi di pihak lain ada segelintir orang yang ingin mengambil keuntungan pribadi dengan membuat virus lalu menyebarkan, salah satunya melalui e-mail.
Peralatan komputer apalagi jika ditambah fasilitas internet untuk saat ini relatif mahal dan bagi masyarakat kebanyakan terutama di Indonesia masih dianggap barang mewah.
Adanya junk-mail yang mengganggu privacy seseorang. Dapat terjadi seseorang menerima surat-surat elektronik yang tak pernah diketahui siapa pengirimnya dan dari mana asalnya atau sebaliknya seseorang dapat mengirim e-mail kepada orang yang tidak disukainya dalam jumlah banyak.Dalam hal ini e-mail disalahgunakan dan dijadikan sarana untuk mengekspresikan kebencian.
Karena internet merupakan hal yang baru, maka banyak terjadi seorang user ingin mencari ISP yang terbaik dan menawarkan banyak kemudahan bagi dirinya, sehingga tak jarang sering berpindah ISP. Hal ini mengakibatkan e-mail address berubah sesuai dengan ISP yang dipakai saat itu, paling tidak domain-namenya berubah, sehingga kemungkinan seorang rekan dapat kehilangan jejak alamat.
Untuk mengirimkan faksimili ke tetangga dengan biaya Rp 110,. Saja mungkin sudah sampai. Tetapi jika mengirimkan ke luar kota atau ke luar negeri tentu akan lebih banyak biaya yang dikeluarkan karena menggunakan fasilitas SLJJ/SLI.

Dari pembahasan di atas, mungkin masih banyak keuntungan dan kerugian lain yang luput dari perhatian. Dalam era globalisasi sekarang ini pengaruh masuknya teknologi informasi tak dapat dibenung. Jia demikian halnya, apakah suatu saat nanti yang entah kapan, teknologi informasi benar-benar melanda seluruh dunia dan mampu menggeser penulisan surat secara konvensional yang telah sekian lama berakar, sehingga membawa dampak bagi perkembangan hobi filateli yang sedikit demi sedikit dapat punah? Perlu renungan yang lebih mendalam bagi kita semua. *****


(Majalah Eboni edisi 2 September 1997)

Pages:12
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help