vita's posts with tag: pengalaman
Setelah gelar sarjana diperoleh tentunya ada rasa bangga. Tetapi setelah itu masih juga kebingungan mencari lowongan pekerjaan.
Hal itulah yang saya alami. Hingga jadilah saya rajin membaca koran. Begitu menerima Jawa Pos setiap pagi, yang saya lihat pertama kali adalah iklan jitu. Begitu rajinnya saya membaca kolom dari kolom lowongan pada iklan jitu. Terkadang juga ada lowongan berbunyi : ”dibutuhkan... harap hubungi langsung jl....” Terbersit keinginan untuk datang langsung ke alamat yang dituju.
Tetapi saya mempunyai pertimbangan lain. Jarak Malang – Surabaya tidaklah dekat. Lagipula lowongan tersebut hanya satu saja yang cocok dan menarik bagi saya.
Suatu hari teman saya menelepon dari Mojokerto. Karena di rumah belum memiliki telepon, maka saya nebeng telepon budhe yang rumahnya persis di sebelah. Teman saya ini juga masih berstatus pengangguran seperti saya. Pendidikan yang diambil dan jurusannya sama dengan saya. Hanya berbeda angkatan Ketika di Surabaya, kami sama-sama satu kos.
Teman saya mengatakan bahwa ada lowongan pekerjaan yang diminatinya. Wawancara langsung akan diadakan di sebuah hotel berbintang di Surabaya. Saya mengatakan padanya kalau memang berminat apa salahnya untuk dicoba.
Berhubung wawancara tersebut masih lama, maka saya mengusulkan kepada teman saya agar bisa janjian kumpul diSurabaya dan mendatangi alamat yang dituju.
Rupanya teman saya setuju. Beberapa hari kemudian dia menelepon saya kembali. Lalu kami sepakat bertemu di bekas tempat kos kami yang lama.
Pada hari-Hkami bertemu. Masing-masing membawa koran Jawa Pos. Kami berunding dan menemukan 3 iklan jitu dengan tulisan : 1. dibutuhkan... hubungi langsung jalan Brigjen Katamso. 2. dibutuhkan... datangi langsung jalan Kapasari. 3. dibutuhkan... hubungi Residen Sudirman...
Pada malam itu juga kami ama-sama menulis surat lamaran. Sesudah itu merundingkan alamat mana dulu yang akan kami datangi agar waktu dapat dipakai seefisien mungkin. Kami juga perlu mengetahui rute mana yang paling enak sehingga tidak perlu bolak-balik naik dan berganti bemo.
Karena teman saya mengurungka niat untuk walk in interview di sebuah hotel berbintang, maka disepakati bahwa rute yang akan kami tempuh adalah ke jl. Brigjen Katamso, Jl. Ngagel, Jl. Kapasari, dan Jl. Residen Sudirman.
Keesokan harinya kami siap-siap. Kami meluncur ke Jl. Brigjen Katamso. Sepanjang perjalanan kami berharap bahwa tentunya lamaran yang langsung dibawa akan lebih diperhatikan dari pada surat lamaran yang dikirim lewat pos.
Sampai di tujuan kami menuju pos satpam. Kami berkata,”Pak, kami mau memasukkan surat lamaran.” Kami berpikir bahwa tentunya akan langsung diantar masuk. Tapi ternyata tidak. Betapa terkejutnya kami ketika pak satpam menjawab,”Oh ya. Silakan diletakkan di sini,” sambil menunjukkan paa setumpuk surat lamaran. Lantas saya berpikir bahwa hari masih pagi tetapi surat lamaran yang masuk sudah begitu banyak. Meskipun sedikit kecewa tetapi kami masih mempunyai harapan akan memperoleh surat panggilan.
Tempat kedua yang kami tuju adalah jalan Ngagel. Kebetulan di sini saya memperoleh panggilan. Sesampai di tempat tersebut ternyata sudah begitu banyak orang Karena sebelumnya saya sudah pernah ke tempat ini yang merupakan sebuah biro jasa recruitment service. Saya berpikir tentunya lama akan menunggu giliran, padahal masih ada 2 tempat lagi yang akan kami datangi.
Meluncurlah kami ke tempat yang ketiga. Di tempat ini kami diterima oleh seorang wanita. Kami diwawancarai sedikit karena bos yang bersangkutan seang ke luar kota. Karena segera dibutuhkan, maka minimal kami minggu depan kami akan mendapat surat panggilan. Itu harapan kami berdua.
Setelah itu kami menuju ke tempat terakhir. Ternyata peristiwa pertama terulang kembali. Surat lamaran yang kami bawa hanya ditumpuk.
Rasa kecewa dalam hati sudah jelas. Bagaimana tidak. Kami sudah berjalan cukup jauh dari pagi sampai siang, datang dari luar kota, naik turun bemo, ternyata hasilnya belum kelihatan sama sekali. Beberapa hari kami menunggu surat panggilan ternyata tak satu pun yang sampai ke rumah kami. Yah, mungkin belum rezeki.*****
(Jawa Pos 13 Nopember 1996)
| |
|