
Judul buku : Aku mau...feminisme dan nasionalisme
Alih bahasa : Vissia Ita Yulianto
Penerbit : Buku Kompas
Tahun terbit : April 2004
Tebal buku : lxxiv + 227 halaman
KARTINI DAN PEMIKIRANNYA
Hari Kartini diperingati setiap 21 April, sesuai dengan tanggal lahir R.A Kartini. Sepanjang pengetahuan saya selama ini cara memperingati Hari Kartini dengan lomba mirip Kartini yang harus memakai kebaya dan lomba memasak, sangat jauh dari gagasan orisinilnya. Dengan cara seperti itu memberi kesan perempuan hanya bergerak di sektor domestik yang dihubungkan dengan kodratnya: memasak, diam di rumah dan merawat diri. Ada kekeliruan pemahaman tentang tokoh ini sehingga nyaris kita malah tidak kenal Kartini yang sesungguhnya.
Dari buku-buku sejarah kita mengenal sosok Kartini yang hanya memperjuangkan emansipasi perempuan. Kita bisa mengenal sosoknya lebih dalam setelah membaca buku Aku Mau: Feminisme dan Nasionalisme, surat-surat Kartini kepada Stella Zcehandelaar 1899-1903. buku ini dialihbahasakan oleh Vissia Ita Yulianto dan kata pengantar oleh Goenawan Mohamad. Aku Mau diambil dari judul moto hidup Kartini yang tidak menyerah pada nasib dan pada zamannya sanggup menentang arus (hal. xxii, xxiii). Stella Zcehandelaar, seorang perempuan muda pegawai kantor pos di Amsterdam yang sudah menerbitkan artikel berseri pada jurnal feminis, majalah De Holiandsche Lelie.
Ada dua hal yang menjadi pokok perjuangan Kartini: poligami dan kesempatan memperoleh pendidikan untuk perempuan. Sebagai seorang perempuan keturunan bangsawan pada zamannya yang terkungkung di balik tembok tebal sulit baginya mempunyai kesempatan untuk menikmati kebebasan. Namun, kesempatan itu akhirnya diperoleh dari orangtuanya ketika Kartini didijinkan pergi ke Kota Batavia (sekarang Jakarta) mengurusi festival penghormatan kepada Ratu belanda. “Tetapi festival ini bukan tujuan utama, melainkan kebebasan untuk menjadi perempuan yang mandiri, tidak tergantung kepada siapapun, untuk tidak pernah harus menikah. Tapi kami harus menikah, harus, harus. Tidak menikah adalah kejahatan yang berat…, hal yang paling memalukan bagi gadis bumiputera dan keluarganya.” (hal. 6).
Pada Akhirnya Kartini harus berhadapan dengan kenyataan saat ayahnya menjodohkan dirinya dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat yang sudah mempunyai tiga selir. Sangat jelas ini bertentangan dengan suara hatinya tetapi Kartini memandang hal itu bukan “keharusan” namun dilakukan dengan sukarela demi pengorbanan untuk ‘Nya” (hal. 98). Karena dia sangat mencinta ayahnya, dia tak ingin membuat hati ayahnya terluka dan dia tidak bisa mengabaikan kewajibannya sebagai seorang anak yang berbakti. “Cinta, apa yang kami tahu soal cinta? Bagaimana kita bisa saling mencintai jika kami belum pernah mengenal atau bahkan bertemu sebelumnya.” (hal. 7).
Banyak peraturan adapt yang harus dipatuhi tetapi Kartini berusaha mengoyak etika peraturan yang berlaku. Terhadap kakak-kakaknya Kartini masih mematuhi peraturan adapt, misalnya harus berjongkok ketika lewat di depan mereka, harus menggunakan bahasa “karma alus”. Namun, antara Kartini, adik laki-laki dan perempuannya merasa setara. “Pertama kali orang-orang memang membenci kebebasan dan keakraban kami, kami bahkan dijuluki anak salah didik. Aku dijuluki ‘kuda kore’ atau kuda liar karena jarang sekali berjalan melainkan pecicilan kesana kemari.” (hal. 20). “Kartni tak membiarkan perempuan dan orang-orang yang usianya lebih tua, meski status sosialnya lebih rendah untuk hormat padanya.” (hal. 57).
Dalam hal pendidikan, cita-citanya begitu mulia. Dia ingin bekerja mengangkat taraf hidup perempuan bumiputera yang tertindas. Kartini melihat kennyataan di sekelilingnya bahwa jalan hidup perempuan bumiputera adalah hanya boleh memperoleh sedikit pendidikan dan menikah. Padahal jika perempuan diberi kesempatan sekolah, pandangan mereka bisa lebih luas, mereka bisa menempuh jalan hidup sendiri dan tidak akan ‘dikunci oleh sangkar’.
Demikian juga halnya pandangan Kartini terhadap pendidikan untuk anak perempuan dan anak laki-laki. Kartini ingin menghapus kebasaan buruk yang lebih memihak anak laki-laki daripada anak perempuan. “Seringkali aku mendengar ibu-ibu yang mengatakan pada anak laki-lakinya jika mereka menagis saat jatuh: waduh anak laki-laki kok menangis seperti anak perempuan saja! Aku akan mengajari anak-anakku, baik laki-laki maupun perempuan untuk saling menghormati sebagai sesame dan membesarkan mereka dengan perlakuan sama, sesuai dengan bakat masing-masing. (hal. 75).
Jika dibawa ke masa sekarang, apakah pemikiran Kartini tentang feminisme masih relevan? Ya. Dasar cita-cita feminisme adalah mengangkat harkat dan kedudukan perempuan untuk kesejahteraan bersama. Feminis tidak anti laki-laki tetapi menentang patriarki. Perempuan sekarang- saya lebih suka memakai istilah perempuan daripada wanita berdasarkan asal katanya- mempunyai kesempatan lebih luas meraih pendidikan tinggi dan aktualisasi diri. Perempuan bisa menentukan masa depannya sendiri: bekerja, menikah, tidak menikah atau berperan ganda (bekerja dan menikah). Di balik kesuksesan perempuan (Indonesia) di berbagai sector, sebenarnya masih banyak pekerjaan yang harus dipikirkan bersama: masalah kekerasan dalam rumah tangga, perdagangan perempuan, TKW dan masih banyak lagi masalah perempuan lainnya.